Buah Pena

Melepas Cinta

broken-heart
Seorang gadis berambut keriting dengan perawakan mungil berjalan gontai menyusuri koridor. Kelasnya yang terletak dilantai 2 paling ujung membuatnya semakin malas menaiki anak-anak tangga. Sesaat ia berhenti dan menoleh ke lapangan basket. Tak sengaja matanya menatap sosok yang sangat dikenalinya sedang asyik mendribel bola. Sosok yang dikenalinya tiba-tiba menoleh dan………
“ Winaaarr!!! “ panggil sosok itu nyaring. Gadis yang dipanggil itu hanya tersenyum tipis tanpa berniat untuk membalas panggilan temannya. Ia terus berjalan menuju kelasnya, 2-IPS-1. sosok yang tadi memanggilnya heran karena temannya bersikap acuh tak acuh padanya.
“ Kok Winar diem aja ya, pas aku panggil?? Gak kaya biasanya,,,,” gumamnya heran. Penasaran, ia menghentikan keasyikannya dengan bola basket dan segera menyusul temannya itu.
“ Loh, loh! Kok mainnya berhenti sih?? Baru 15 menit nih, Lun…” teriak salah seorang cowok yang tadi bermain basket dengannya.
“ Hehe…sorry banget deh. Aku mau ke 2-IPS-1 dulu nih. Ada perlu sama Winar. Kalian lanjutin aja tanpa aku. “ sehabis berkata begitu, sosok itu langsung ngeloyor pergi.
Teman-temannya yang ternyata cowok semua langsung menggerutu saat sosok itu terus menaiki tangga menuju kelas 2-IPS-1. “ Huh! Aluna payah banget nih. Baru sebentar malah udahan. Ya udah deh. Lanjutin aja yuk?! “ tukas cowok yang tadi menegur pada teman-temannya yang lain.
Sampai didepan kelas Winar, sosok itu tak langsung masuk. Langkahnya terhenti melihat sahabatnya itu sedang terlibat pembicaraan serius dengan seorang cewe. “ Itu bukannya kak Isna ya?? Ngapain dia disini?? “ pikir sosok itu heran. Sosok itu berusaha mencuri dengar pembicaraan antara Wina dengan kakak kelasnya.
Sejurus kemudian mba Isna keluar. Ia kaget melihat Aluna berdiri didepan kelas 2-IPS-1. “ Ngapain kamu disini?? “ tanya kak Isna dengan marah. “ Lah, kakak sendiri ngapain disini?? Kelas 3 bukannya libur ya?? “ Aluna menjawab jutek dan langsung pergi dari hadapan Isna. Membuat Isna mendelik sewot ke Aluna. Ingin rasanya ia balik membentak Aluna, tapi ia sadar, kelas 3 memang seharusnya sedang libur. Akan mengundang gosip kalo ia masih berkeliaran di sekolah. Apalagi jika murid-murid lain tau bahwa ia ke sekolah bukan untuk mengambil nilai SKHU tapi malah habis melabrak adik kelas —Winar.
“ Win, kamu kenapa sih?? Kok tadi aku panggil diem aja?? Trus, itu ngapain kak Isna kesini?? “ tanya Aluna separo khawatir, separo sebal.
Winar menggeleng lesu. “ Gak ada apa-apa kok. “
Aluna menaikkan satu alisnya. “ Boong! Udah deh, kamu cerita aja. Lagian, aku perhatiin semenjak ulangan kenaikan, kamu jadi aneh. Jadi gampang marah, nangis, murung, pokoknya sensi banget deh…”
Winar menghela nafas berat. “ Tapi aku lagi gak mood cerita. Ini bukan masalah penting kok. Santai aja deh, Lun. “ suara Winar berubah tegang. Aluna kaget dengan perubahan sikap sahabatnya itu.
“ Kamu tadi ngobrol serius banget sama kak Isna, feeling ku bilang, kamu diancem sama kak Isna gara-gara kamu deket sama Dimas. Pasti gara-gara itu kan?? “ Aluna terus mencecar. Beruntung, saat itu kelas Winar sepi. Hanya dia dan Aluna saja yang ada. Sementara yang lain sibuk class meeting.
Winar diam saja. Tatapan matanya kosong, nanar. Aluna hendak mendesaknya lagi untuk bercerita, tapi urung karena mendengar seseorang memanggil namanya. “ Aluna! Kamu dicari Pak Sofan tuh. Cepetan ke ruang guru katanya. “ beritahu Fatah, cowok yang tadi bermain basket dengannya.
“ Aduuh… emang ada apaan sih?? “ Aluna bertanya kesal. Fatah mengangkat bahu dan langsung pergi gitu aja.
“ Huh! Pak Sofan nyebelin banget deh! “ dumalnya “ Win, aku nemuin Pak Sofan dulu ya. Please banget, Win. Kamu cerita ya, sama aku. Kita kan sahabatan. “ ujar Aluna sebelum meninggalkan Winar. Sahabatnya itu hanya mengangguk pelan.

“ Aku peringatin sekali lagi sama kamu, Win. Dimas itu pacar aku. Jadi, kamu gak usah deket-deket sama dia. Jauhi dia, Win! “
Kata-kata kak Isna tadi terngiang-ngiang di benak Winar. Sejak berangkat sekolah, gadis itu hanya mengurung diri terus dikelas. Ia terus merenungi pembicaraannya dengan mba Isna
“ Tapi aku gak ada hubungan apa-apa sama Dimas, kak. Kami Cuma teman biasa aja. Kami sekelas, gimana bisa aku harus jauhi dia?? “ protes Winar. “ Kamu kira aku bego apa??!! Gosip kalo kalian deket melebihi batas orang temenan itu udah sampe ke aku! Kamu masih mau mangkir juga?? “ Isna membalas tajam.
Winar terhenyak. Dia udah gak mampu ngomong. “ Hah. Ngaku juga kan kamu, kalo kamu emang suka sama pacar aku itu. “ kata Isna penuh kemenangan. “ Asal kamu tau aja ya, Win. Dimas gak bakalan suka sama kamu. Kamu jauh dari tipenya dia. Jadi, biarpun kalian sekelas, jangan harap kamu bisa pacaran sama dia! Camkan itu baik-baik! “ ucapnya kasar dan langsung pergi dari kelasnya Winar.
Air mata Winar hampir merebak ketika Aluna masuk dan memaksanya bercerita. Wina pun lepas kontrol dan tak sengaja membentak sahabatnya yang ia sangat tahu kalau Aluna mengkhawatirkan dirinya. Tapi, entah apa yang menahan didalam hatinya sehingga ia enggan curhat pada Aluna. Padahal ia yakin sekali, Aluna bisa memberi solusi yang baik, seperti biasanya jika ia sedang ada masalah.
“ Maafin aku, Lun. Aku gak sanggup kalo harus cerita sama kamu…” tangis Winar pecah. Tapi, ia masih sempat menatap sendu kebangku Dimas yang terletak 2 bangku dibelakangnya.
“ Dan semoga kamu bahagia sama kak Isna ya, Dimas. “ gumamnya pilu.

3 hari berlalu setelah kejadian Winar dilabrak. Winar masih terlihat sedih, apalagi jika Dimas menyapanya ramah. Sungguh ia ingin sekali akrab dengan Dimas seperti dulu. Tapi, ia menyadari posisinya. Dia bukan apa-apa jika disandingkan dengan kak Isna yang jelas-jelas adalah pacar Dimas. Tapi, Winar udah terlanjur sayang dengan Dimas. Dia rela jika nantinya dirinya tidak akan jadian dengan Dimas, tapi dia tak rela jika harus bersikap dan menganggap Dimas tidak ada dan tidak pernah ada.
“ Hayoo! Melamun terus! Kamu lagi mikirin apa sih, Win?? “ Aluna mengejutkan Winar yang (lagi-lagi) kedapatan sedang asyik melamun.
“ Ya ampun, Aluna! Kamu ngagetin aja. “ Winar mengelus-elus dadanya karena kaget melihat Aluna.
“ Kamu juga sih, dari tadi aku panggil-panggil kamu diem aja. Eh, ternyata lagi ngelamun. Ya udah, aku kagetin sekalian deh…” jawab Aluna sambil terkekeh geli.
Wina ikut tersenyum karena Aluna masih care padanya. “ Udah tenang kan, Win?? Udah mau cerita dong?? “ ujar Aluna sambil duduk disebelah Winar. Yang ditanya tersenyum kecil.
“ Aku udah enakan kok. Tapi, “
“ Tapi apa, Win?? “ Aluna penasaran.
Winar mengangkat bahu. “ Aku juga bingung. Aku sayang sama Dimas, tapi aku mesti jauhin dia. Aku gak mau ganggu dia sama kak Isna… Hati aku emang sakit, tapi aku tau banget, sikap kasar kak Isna yang waktu itu pasti karena kak Isna gak mau kehilangan Dimas. Kak Isna juga sayang banget sama Dimas. Jadi, aku yang ngalah buat mereka. Karena, emang dari awal aku yang salah. Aku udah masuk terlalu jauh dikehidupan mereka, terutama Dimas…” tutur Winar panjang lebar.
Aluna menarik nafas. Dalam hati ia lega, karena Winar udah mau ngerelain Dimas. Daripada nanti dia yang sakit hati karena cintanya buat Dimas bertepuk sebelah tangan, lebih baik dia yang pergi lebih dulu.
“ Aku selalu ngedukung apapun buat kamu, Win. Aku setuju sama langkah yang udah kamu ambil. Aku tau banget, pasti hancur rasanya kalo kita harus ngelepas orang yang kita sayang… “ Aluna melanjutkan lagi, “ Tapi, masih banyak orang yang sayang sama kamu, Win. Termasuk aku. Sahabat akan selalu ada buat sahabatnya…” Aluna tersenyum penuh arti pada Winar. Winar memeluk Aluna erat.
“ Makasih banget ya, Lun. Kamu emang yang terbaik. “
Dan airmata Winar menetes. Kali ini airmata kebahagiaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s