My Favorites

Aku dan Penjual Sendal (sebuah cerpen dari Zian ‘Zigaz’)

hello, minna! keep rock!!!! hahaha… 😀 kali ini aku mau ngepost cerepen yang dibikin Zian -vokalisnya Zigaz- pas ditantangin Majalah Story. cerpennya bagus, lho… bukan karena aku seorang ‘Kroni Zigaz’ (sebutan fans Zigaz), tapi emang karena cerpennya bagus. menyentuh banget…:3 ❤

Ya udah, daripada penasaran, mending baca aja sendiri yaa… ^_<

******************************************************************************************************************************************

               
z1an 
             Malam itu, malam Tahun Baru Islam. Seusai acara bersama temen-teman disebuah mall di daerah Jakarta Selatan. Aku menghubungi adikku, kebetulan ia bersedia menjemput. Aku menunggunya dipelataran parkir.

Tak lama kemudian, adikku muncul dengan motornya. Aku pun bersiap menggunakan masker, jaket dan baru saja akan memakai helm ketika seorang laki-laki penjaja sandal mendatangi kami dengan wajahnya yang letih dan berkeringat.

“ Beli sendalnya, Mas? ”  Ia menawarkan dagangannya.

“ Nggak, Bang.! ” Tolak adikku.

“ Bagus-bagus, Mas. Coba dilihat dulu…” bujuk laki-laki itu.

Lewat cahaya lampu di pelataran parkir mall, aku bisa melihat wajahnya yang letih dan berkeringat.

“ Tolong, Mas. Belilah satu. Sudah tiga hari dagangan saya gak laku-laku. Saya butuh ongkos buat pulang, ” katanya lagi.

Adikku tetap menggeleng. Laki-laki itu terduduk lemas di trotoar tak jauh dari motor kami. Setelah tak berhasil membujuk adikku, ia nampak lesu. Diam dengan pandangan menerawang. Aku memberi isyarat pada adikku untuk segera pergi setelah helm kugunakan.

Motor kami melaju meninggalkan tempat itu. Masih sempat kulihat laki-laki penjaja sandal yang ku perkirakan umurnya tak lebih dari 30 tahun itu tetap termangu ditempatnya. Nampak putus asa. Ada yang menggelitik hatiku.

“ Kasian juga, yaa…” teriakku diantara deru suara motor.

“ Ahh, biasa. Namanya aja orang dagang. Biar dagangannya laku, ya pura-pura begitu…” sahut adikku.

“ Tapi gue nggak tega. ”

“ Udahlah…! Masa iya tiga hari gak laku-laku? Ntar juga ada yang beli. Lagian kita memang gak perlu sandal, kan? ”

Motor melaju membelah jalanan Jakarta yang tetap bercahaya dengan lampu-lampu jalan. Kiri-kanan nampak orang-orang menikmati malam liburan. Di malam itu aku menikmati pemandangan yang sudah biasa kulihat. Restoran yang penuh dengan pengunjung, toko-toko yang dipadati pembeli. Ahh, nikmatnya mereka yang memiliki banayk uang. Betapa banyak keuntungan yang bisa didapat para pemilik toko itu. Hhh… aku kok jadi ingat penjual sandal atdi ya? Sementara orang lain bisa dengan mudahnya mengeluarkan uang atau mendapatkan uang, laki-laki itu malah tiga hari belum juga mendapatkan pembeli.

Hatiku mulai terketuk. Padahal kalau aku bisa membeli satu saja sandal dagangannya, dia pasti senang. Aku segera menepuk bahu adikku. “ Balik ke temapat tadi, yuk! ” kataku.

“ Hah? Ada yang ketinggalan? ” adikku setengah teriak dari didalam helm yang menutupi kepalanya.

“ Nggak. Gue mau beli sandal! ”

“ Udahlah… Kok masih kepikiran? Ntar juga ada yang beli! ”

“ Lha, kalo nggak ada? Kasian, dia perlu ongkos buat pulang ”

“ Pasti ada. Udahlah! Lagian ini udah setengah jalan… Udah jauh! Masa balik lagi? ”

“ Nggak, nggak! Balik aja. Cepet! ” Aku ngotot.

Akhirnya adikku memutar balik motornya. Memang sudah jauh jaraknya, tapi ku pikir aku harus menolong orang itu. Motor pun memasuki pelataran mall dimana tadi kami bertemu peagang sandal itu. Ternyata dia sudah tak disana.

“ Tuh, kan! Orangnya juga udah nggak ada.! “ adikku mematikan motornya.

Aku membuka helm dan mengamati sekitar. Nah, pedagang tadi ada disana, beberapa meter dari tempat semula. “ Itu dia! “ Aku turun dari motor dan mendahului kesana. Saat itu aku berpikir aku tak boleh menunjukan rasa kasihanku pada laki-laki itu. Tapi, sebetulnya aku juga tak yakin, apakah dia masih mengenali kami.

“ Bang, ada ukuran besar gak? “ tanyaku. Setahuku sulit mendapati ukuran 43. Tak apalah, kalau tak ada ukuran itu, aku akan membelinya untuk Papa. Niatku memang menolongnya!

“ Ukuran berapa, Mas? Paling besar 43! “ Laki-laki itu membuka dagangannya. Mencari-cari sandal ukuran besar.

“ Oh iya. Memang 43. ini berapa harganya? “ tanyaku sambil memilah-milah.

“ Enam puluh ribu, Mas. “

“ Hah? Enam puluh? Bisa kurang, ya? “

“ Nggak bisa, Mas. Udah segitu harganya. “

“ Nggak, ah. Saya mau kalau harganya lima puluh. “

Akhirnya tawar menawar pun terjadi. Aku ngotot dengan harga lima puluh ribu rupiah. Tak lama kemudian pedagan sandal itu pun mengalah. “ Iya deh, lima puluh…”

Aku mengeluarkan selembar uang seratus ribuan. Terbersit di benakku, kalau dia bisa memberikan kembaliannya, berarti dia telah membohongi kami. Apa yang terjadi? Laki-laki itu langsung mengangkat tangannya.

“ Aduh, Mas. Nggak ada kembaliannya. Mas itu pembeli pertama setelah tiga hari saya dagang nggak laku-laku, “ katanya memelas. “ Uang pas aja, Mas. “

Sekilas aku melihat wajahnya memucat. Mungkin dia takut aku batal membeli dagangannya gara-gara tak ada uang kembalian. Akhirnya aku yakin, bahwa laki-laki ini bicara jujur, ia benar-benar tak punya uang.

“ Ya sudah. Cari aja kembaliannya! “ kataku

Laki-laki itu beranjak pergi. Kulihat dia berusaha menukar uang kesana-sini.

*****

Aku dan adikku meluncur pulang dengan sebuah sandal yang jadi terbeli. Membayangkan alangkah senangnya si pedagang itu, mempunyai uang untuk ongkos pulang. Lima puluh ribu…

Astaga! Lagi-lagi kesadaran yang datangnya terlamat, mengetuk hatiku. Kalau tadi aku kasihan dan berniat menolongnya, kenapa aku mesti ngotot tawar-menawar hanya untuk lebih murah sepuluh ribu rupiah?? Sebenarnya aku niat nolong gak sih, ya? Kenapa tadi aku rewel banget. Uhh, menyesalnya aku. Kok pake ditawar lagi!

Penyesalan itu akhirnya tertelan hingga kini. Aku hanay bisa berdoa dalam hati, agar laki-laki penjaja sandal itu bertemu pembeli lain dan sandal dagangannya laris.  Aku sadar kalau kita tak boleh memandang negatif pada orang lain. Tidak boleh melihat orang dari penampilannya dan tak perlu ada pamrih jika memang berniat menolong. Bagaimana kalau aku yang jadi dia? Tentu menyedihkan tidak dipercaya orang laindan paling menyedihkan hanya untuk mendapat sedikit uang, harus rela berhadapan dengan rewelnya tawar-menawar.

** THE END **

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s