Anything

TKI : Pahlawan Devisa yang Teraniaya

Tenaga Kerja Indonesia atau yang sering disebut TKI, merupakan buruh yang mengadu nasib di luar negeri. Adapun beberapa negara yang sering menjadi tujuan diantaranya : Arab Saudi, Taiwan, dan Malaysia.

 

Jumlah buruh TKI juga tidak sedikit. Menurut data terakhir dari BN2TKI atau Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, jumlah buruh migran Indonesia yang ada di luar negeri mencapai 6 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu tidak mengherankan jika TKI disebut sebagai Pahlawan Devisa.

bn2tki

Sayangnya, jerih payah pahlawan-pahlawan devisa tersebut tidak diimbangi dengan perlakuan yang pantas. Tidak sedikit dari mereka yang berangkat dengan keadaan fisik dan jiwa yang sehat, tapi sekembalinya dari luar negeri, sangat memprihatinkan.

Kasus penganiayaan atau kekerasan yang menimpa TKI sebenarnya berawal dari kurang terdidiknya TKI. Mereka kurang menyadari betapa pentingnya latihan, kursus, atau semacamnya sebagai bekal untuk bekerja.

Kendala bahasa juga menjadi masalah serius yang sering menjadi ketidakberdayaan TKI dan mengakibatkan mereka tidak bisa melapor jika mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari majikannya.

Masalah tentang kurang pahamnya TKI terhadap kebudayaan di negara yang dituju juga sering menjadi akar kekerasan yang mereka terima. Seperti diungkapkan Kepala Laboratorium Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ade Marup Wirasenjaya, S.IP, MA, dalam diskusi panel mengenai tenaga kerja bulan april lalu, bahwa ia mendengar tidak sedikit kasus TKI yang membawa barang-barang yang mereka anggap sebagai ‘jimat atau penolak bala’ justru membawa masalah untuk mereka sendiri.

Negara tujuan para buruh seperti Arab Saudi sangat melarang dan menindak tegas segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal sihir atau musyrik seperti itu. Jadilah saat para TKI kedapatan majikannya membawa benda-benda ‘keramat’ tersebut mereka diadukan kepada pihak berwenang dengan pasal sihir.

 

Dijelaskan oleh Ade, hal seperti itu bisa sampai terjadi akibat kekurangpedulian TKI terhadap budaya dan hukum setempat. Dan hal tersebut berawal dari kurang terdidiknya para buruh.

Selain itu, berdasarkan laporan yang masuk ke BN2TKI, tidak sedikit kasus kekerasan yang terjadi disebabkan karena mereka mendaftar melalui agen TKI illegal yang tidak jelas perlindungan dan penempatan kerjanya, karena mereka tidak mendapat izin hukum dari pemerintah Indonesia dan negara tujuan. Maka dari itu, TKI yang melapor tidak bisa ditindak lanjuti.

Para pahlawan devisa tersebut semestinya menyadari bahwa bekerja ni negara orang tidak semudah bekerja di negeri sendiri. Mereka harus memiliki persiapan fisik dan mental yang kuat selain skill yang mumpuni, agar mereka bisa melakukan tindakan preventif bila mengalami kejadian yang tidak mengenakkan.

Bila sudah terlanjur terjadi kekerasan pada TKI, pemerintah Indonesia harus bisa menindak tegas pelaku kekerasan tersebut dengan bekerjasama dengan pemerintah negara yang bersangkutan.

Kekerasan adalah perilaku tercela dan melanggar HAM. Diharapkan, untuk kedepannya para TKI lebih berhati-hati dan juga pemerintah Indonesia harus terus mengupayakan perlindungan hukum yang maksimal untuk pahlawan-pahlawan devisa tersebut.

ham

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s