Buah Pena

Cahaya Cinta Di Yogyakarta

“Kayaknya… hubungan kita lebih baik sampe disini aja, Lin.”

“Ma-maksud kamu apa, Lan?”

“Ya… maksud aku, kita putus. Mending kita temenan aja. Itu lebih baik daripada kita pacaran, tapi kamu selalu gak ada buat aku. Kamu selalu sibuk sendiri.”

“Sayang, kamu gak bercanda kan? Alasan kamu itu gak masuk akal.”

“Kamu pikir hal kayak gini pantes dibuat bercandaan? Enggak kan! Aku tuh udah gak kuat lagi, Lintang! Semenjak kita jadian, kamu hampir selalu sibuk dengan urusanmu sendiri! Kamu gak pernah ada waktu buat aku!”

“Ta-tapi, Lan…”

“Udah, Lin. Udah cukup. Kita putus aja. Lebih baik kita kembali berteman seperti dulu lagi aja. Itu malah lebih baik. Jauh lebih baik…”

^^^^

Lintang menguap lebar. Sepintas, ia melihat jam yang tergantung di dinding kamar penginapan yang disewanya ini, pukul 08.00. Pantas saja sinar matahari sudah menembus gorden dan menyebarkan hawa hangat. Setelah nyawanya terkumpul, Lintang pun bangkit dan beranjak mandi. Baru hendak masuk kamar mandi, kamarnya diketuk.

Seorang house-keeper berdiri diambang pintu dengan muka kaget melihat Lintang yang hanya berbalut piyama. “Ah, maaf. Saya cuman mengingatkan, sarapan maksimal jam setengah sepuluh. Lewat dari itu, tamu hanya bisa memesan minuman hangat saja.” katanya.

“Ya, habis mandi aku ke ruang makan. Makasih ya, udah ngingetin.” Lintang menjawab sambil tersenyum. House-keeper itu mengangguk kemudian beranjak pergi. Baru beberapa langkah, Lintang memanggilnya lagi. “Hei, kalau gak salah, kamu juga yang semalem jadi resepsionis kan?” tanya Lintang setengah berteriak.

“Iya.” House-keeper itu menjawab singkat. Tampak sekali ia rikuh melihat Lintang yang dengan santainya berbicara sambil tetap berbalut piyama. Sejurus kemudian, house-keeper itu bertambah canggung saat Lintang berjalan mendekatinya.

“Semalem aku belom sempet ngucapin makasih,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Makasih ya, udah mau nolong bawa barang-barangku. Oh iya, namaku Lintang. Lintang Prasetyo. Kamu?”

House-keeper itu tersenyum malu saat Lintang mengajaknya berkenalan. “Aku Wulan. Wulan Tunggadewi.” House-keeper yang tampaknya sebaya dengan Lintang menyambut uluran tangan pemuda itu.

Lintang tersenyum manis pada gadis dihadapannya. “Setelah sarapan, bisa kita ngobrol sebentar?” tanya Lintang penuh harap. Wulan diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Lintang. “Sepertinya bisa. Kalau waktu saya sudah senggang, temui saja saya di saung yang ada di belakang penginapan ini, dekat dengan kolam ikan.”

Lintang mengacungkan jempolnya. “Oke.”

^^^^

Pukul 10.15, di taman belakang penginapan.

Lintang duduk termenung menatapi ikan-ikan yang berkejaran di kolam penginapan yang cukup luas itu. Diameternya mungkin sekitar 10 meter dan ditengah-tengah kolam terdapat pancuran berbentuk lumba-lumba. Sudah dua hari ia berlibur di Jogja, melepas gundah yang bersarang dihatinya semenjak diputuskan sepihak oleh Bulan, gadis yang sudah berpacaran dengannya selama hampir setahun.

Bulan memutuskan hubungannya tepat dihari pengumuman kelulusan SMA, membuat hatinya yang baru dinyatakan sebagai lulusan terbaik, langsung mencelos. Pemuda itu menghela nafas berat. Ia masih penasaran, apa alasan Bulan sebenarnya. Masalah kesibukan, Lintang rasa itu hanya alasan yang dibuat-buat. Walaupun berbeda jurusan, Lintang dan Bulan sama-sama kelas 3, yang artinya mereka juga sama-sama sibuk mempersiapkan ujian nasional.

Sebuah tepukan lembut mendarat di bahu Lintang, membuat pemuda jangkung itu kaget. “Hayo, kok melamun?” Suara lembut Wulan menyapa Lintang. Gadis itu kemudian duduk di sebelah Lintang. “Katanya tadi mau ngajak ngobrol, emang ngobrol apa?” tanyanya lagi.

Lintang tersenyum. “Ah, enggak. Aku sebenernya pingin ngajak kamu jalan. Soalnya, di penginapan ini cuman kamu yang sebaya sama aku. Kamu baru lulus SMA, kan?”

Wulan mengangguk. “Iya. Sambil nunggu jadwal masuk kuliah, aku ikut bantuin eyang mengelola penginapannya. Musim liburan biasanya rame banget. Kasihan eyang kalo sendirian.”

“Oh, jadi ini penginapan eyang kamu? Aku pikir ini milikmu, maksudku orangtuamu. Soalnya nama penginapan ini kan diambil dari namamu.”

“Hehehe…” Wulan tertawa pelan “kalau itu sih karena eyangku sangat menyukai bulan. Dalam bahasa Jawa, bulan artinya Wulan. Yah, mungkin namaku juga pemberian eyang.” Mendengar cerita Wulan, air muka Lintang berubah keruh. Mendadak ia teringat Bulan. Gadis yang memiliki arti nama yang sama dengan gadis yang sekarang duduk di sebelahnya. Wulan sepertinya menyadari perubahan air muka Lintang yang sendu.

“Kamu kenapa, Lin? Aku salah ngomong, ya?”

Lintang menggeleng cepat, kemudian tersenyum sekilas. “Gak kok. Cuma aku keinget sama seseorang aja.”

“Hayo, siapa tuh?? Pasti cewek ya??” goda Wulan.

“Iya, namanya Bulan. Bulan Puspita.”

Entah kenapa, Wulan mendadak merasa tidak senang saat tebakkannya benar. Ia melirik Lintang yang sedang asyik memainkan kakinya dikolam. Wulan, apa sih yang kamu pikirin?? Dia ini kan cuman tamu. Kebetulan aja Lintang yang super keren ini sebaya dengannya. Gak usah mikir yang macem-macem deh! Pikir Wulan berusaha menenangkan gemuruh didadanya.

“Bulan itu mantanku, Lan. Kita putus pas pengumuman kemarin. Aku gak tau alasannya apa.” Lintang bercerita setelah keheningan cukup lama melingkupi mereka. Wulan menoleh dan mata mereka bertumbukan. Ada rasa sedih yang terpancar dari mata elang Lintang. “Jadi, kedatangan kamu ke Yogya ini dalam rangka mengobati patah hati?”

“Separo iya, separo enggak. Aku emang mau kuliah di Yogya, karena aku emang asli Yogya. Cuma pas SMP ayah dimutasi ke Bandung, jadi kami sekeluarga pindah.”

Hening lagi. Wulan tidak tau harus bicara apa. Sejurus kemudian Wulan merasa tangannya digenggam. Gadis ayu itupun menoleh. “Tapi aku seneng, kedatanganku ke Yogya gak sia-sia.” Lintang berujar lembut sambil tetap menggenggam tangan Wulan. “makasih banget, Lan. Kamu beda, jauh berbeda dari bulan yang pernah aku kenal.”

Wulan terperangah. Ia tidak menyangka Lintang akan berkata seperti itu. Debar dihatinya semakin gila. Menjalarkan rona merah diwajahnya. “Ehm… sama-sama, Lin. Aku juga seneng bisa punya temen baru.” Wulan tersenyum manis.

^^^^

Esok paginya, di lobi penginapan

“Mbak, saya mau check-in atas kamar yang sudah dipesan seminggu yang lalu.” Seorang gadis semampai yang sangat modis berdiri dengan anggunnya dihadapan Wulan. Gadis itu sampai terkagum beberapa saat sebelum akhirnya berhasil menguasai diri dan melayani tamu cantik didepannya.

“Ehm… reservasinya atas nama siapa ya, Mbak?”

“Bulan. Bulan Puspita.”

Pluk. Bolpoin yang dipegang Wulan langsung jatuh dan menggelinding di lantai saat gadis cantik dihadapannya menyebutkan namanya. “Bu-Bulan? Nama Anda Bulan?? Apa Anda berasal dari Bandung??” Wulan bertanya dengan ekspresi kaget. Pikirannya berkecamuk. Mungkinkah gadis ini mantan pacarnya Lintang?

Bulan mengerutkan keningnya, heran mengapa resepsionis ini bisa sebegitu kaget saat mendengar namanya dan bahkan dia tahu Bulan berasal dari Bandung. “Iya.” jawab Bulan singkat. Air muka Wulan langsung berubah keruh. Dengan ekspresi menahan kesal, diserahkannya kunci kamar Bulan. “Silahkan, kamar Anda nomor 5, tepat diujung koridor.”

Bulan menerima kunci yang disodorkan Wulan dengan ekspresi bingung. Kok resepsionis ini langsung jutek sih? Padahal sebelum aku kasih tau namaku Bulan, dia ramah banget. Batinnya bingung. Setelah mengucapkan terima kasih, Bulan bergegas pergi menuju kamarnya, diiringi tatapan terluka dari Wulan.

^^^^

Malam minggu di Yogya sangat berwarna. Di langit, bintang-bintang bertebaran dan memancarkan kemilau yang indah dan seakan seperti mengelilingi bulan yang saat itu sedang purnama. Lintang dan Wulan berjalan beriringan di sekitar Malioboro. Besok Lintang akan check-out, maka dari itu ia meminta Wulan untuk menemaninya jalan-jalan sebelum ia pulang. “Lan, kamu udah laper belom?” tanya Lintang.

Wulan yang sedang menggosok-gosokkan telapak tangannya menoleh kaget. Cuaca malam itu memang sangat dingin. Hujan mengguyur Yogya sejak pagi dan baru reda 2 jam yang lalu. “Ah, em, belom kok. Kamu udah laper, ya? Kalo gitu, biar aku tunjukin resto yang asik.” Wulan menjawab kikuk. Tiba-tiba Lintang menghentikan langkahnya tepat didepan Wulan. Membuat gadis itu hampir menubruk tubuh jangkung Lintang. Pemuda itu menyunggingkan senyumnya. Kemudian ia melepas jaketnya dan melingkarkannya pada Wulan.

“Kamu kedinginan, Lan.” Lintang berujar pendek. Diraihnya tangan Wulan dan digenggamnya erat. “Kita cari resto indoor aja, ya? Aku gak tega liat kamu kedinginan,”

Wulan merasa tubuhnya sudah seperti kepiting yang direbus saat Lintang melakukan hal yang menurutnya sangat gallant itu. Badan Wulan hampir limbung ketika Lintang merangkulnya saat mereka berjalan kembali. “Resto yang barusan kamu bilang itu indoor kan, Lan?”

“Iya. Restonya ada di Mall Malioboro. Tuh, kita sebentar lagi nyampe.” Wulan menjawab sambil menunjuk bangunan yang berjarak 20 meter didepan mereka. Saat memasuki mall, tanpa diduga Lintang bertemu dengan Bulan yang hendak keluar. Mereka berdua kaget, tak menyangka akan bertemu di Yogya.

“Bu-Bulan???”

“Lintang? Kamu ngapain ada disini?”

Holiday.” Lintang menjawab pendek. Sejurus kemudian, pemuda itu merangkul Wulan lebih erat lagi. Membuat Wulan semakin salah tingkah. Tiba-tiba, seorang pemuda yang juga berperawakan sama tingginya dengan Lintang memeluk Bulan dari belakang.

Honey, siapa mereka?” tanya pemuda pada Bulan.

Bulan tersenyum sinis pada Lintang dan Wulan. “Oh, yang cowok ini temen SMA-ku, namanya Lintang. Nah, kalo yang cewek house keeper penginapan yang aku sewa, namanya Wulan…” jelas Bulan sambil memandang remeh pada Wulan yang canggung dalam rangkulan mantan pacarnya itu. “anyway guys, ini pacarku. Namanya Bintang.” Lintang terperangah dengan sukses saat Bulan memperkenalkan cowok itu. Dijabatnya tangan Bintang yang diulurkan padanya dengan setengah hati. Sedetik kemudian, Lintang langsung berlalu dengan langkah tergesa. Membuat Wulan kerepotan menyeimbangkan langlah-langkah panjang Lintang.

“Lin-Lintang, jalannya bisa pelan dikit ga?” Lintang langsung ngerem mendadak, membuat tubuh Wulan sukses limbung. Untungnya, refleks Lintang bagus. Ia sigap meraih tubuh Wulan sebelum tersungkur. “So-sorry banget, Lan. Aku gak bermaksud bikin kamu hampir jatoh…” kata Lintang penuh sesal.

“Gak apa-apa, kok.” jawab Wulan sambil tetap tersenyum manis. “eh, ternyata kita udah ada di depan restonya nih. Insting kamu oke juga, Lin!”

Lintang menoleh pada arah yang ditunjukkan jari Wulan. Di depan mereka berdiri resto yang sangat cozy. “Hehe… mungkin karena aku udah laper berat kali ya? Ya udah yuk, cepetan masuk.”

^^^^

Nduk, kowe kenapa tho? Dari semalem kok diem terus?” tanya Eyang Joko. Beliau merupakan pemilik penginapan, yang juga eyang kakung Wulan. Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu. Saat ini pikiran Wulan masih dipenuhi kejadian semalam. Terutama saat perjumpaan tak terduga dengan Bulan dan pacar barunya. Mengingat kejadian itu, membuat Wulan yang tadinya biasa saja terhadap Bulan, berubah ilfil saat melihat busana yang dikenakan Bulan.

Pikirannya ngelantur kemana-mana saat melihat Bulan mengenakan gaun sackdress yang too sexy. Terlebih saat pacarnya yang sepertinya mahasiswa itu menciumnya mesra. Ditengah padatnya pengunjung mall! Keliatannya, Lintang risih banget pas liat kelakuan Bulan semalem. Mungkin karena itu juga dia langsung ngajak aku pergi. Tapi… mereka kan pernah pacaran. Apa mungkin saat mereka pacaran Lintang juga pernah berbuat… Arrrgghh… gak! Gak mungkin! Lintang cowok yang baik. Dia juga tau memperlakukan cewek dengan sopan! Wulan membatin yakin dalam hati. Ia mengusap-usap wajahnya jengah. Kenapa aku jadi mikirin Lintang sih?!?! Batinnya lagi.

“Pasti karena nak Lintang, tho?” tebak Eyangnya saat melihat kelakuan Wulan yang aneh. Wulan menggeleng lagi, tapi kali ini dengan wajah bersemu merah. Membuat pria berumur 70 tahun itu terkekeh pelan.

“Ya mbok jujur bae tho, nduk.” kata Eyang “namanya anak muda jatuh cinta kuwi wajar. Eyang juga setuju kalo misalnya kamu pacaran sama nak Lintang. Anak itu baik dan sopan.” Wulan menatap eyangnya dengan pandangan putus asa. “Eyang, aku gak suka sama Lintang kok.”

“Ya sudah kalo kamu mengatakan begitu. Tapi jangan menyesal, lho. Jam 1 nanti kan pujaan hatimu itu check-out.

“J-jam 1, Yang?” tanya Wulan kaget. “ta-tapi pas jalan-jalan semalem Lintang bilang check-out malem karena dia dapet kereta malem, Yang.”

“Tadi pas sarapan Lintang meralat kok. ketemu Eyang langsung. Katanya jadwal keberangkatan kereta dimajukan.”

Wulan speechless. Ia menatap jam yang melingkar ditangannya. Dua jam lagi jam 1. Dua jam lagi ia akan berpisah dengan Lintang. Melihat raut wajah cucu kesayangannya berubah mendung, Eyang Joko melangkah pergi meninggalkannya sendiri. Setelah sebelumnya memberikan wejangan.

Nduk, cinta itu harus disampaikan. Tidak peduli dia akan membalas atau tidak. Perasaan sakit yang menghimpit akan lepas sendirinya saat kamu sudah menyampaikan rasa sayang itu kok.”

^^^^

Lintang duduk termenung disalah satu bangku yang ada diruang tunggu Stasiun Tugu. 30 menit lagi dia akan meninggalkan Yogya. Meninggalkan kota tempat ia menemukan seseorang yang baru disadarinya sangat berarti. Wulan. Gadis ayu nan lembut itu seakan menjadi penyembuh laranya setelah dikhianati Bulan. Ya, akhirnya dia tahu Bulan memutuskannya karena ia sendiri selingkuh dengan Bintang, mahasiswa semester 3 salah satu universitas swasta di Yogya.

Masih diingat percakapannya dengan Bulan saat gadis itu mengetuk kamarnya di pagi buta. Hanya mengenakan tanktop dan hotpants. Ingin ditendangnya cewek kurang ajar itu saat Bulan memaksa masuk ke kamarnya.

“Mau kamu apa sih, Lan?! Ini tuh jam 3 pagi dan kamu seenaknya dateng ke kamarku dan maksa masuk!” Lintang berkata dengan menahan marah. Cewek itu mengalah, dan ia pun berdiri didepan kamar Lintang.

“Lintang, Lintang, kamu masih aja polos kayak dulu. Wake up, Lin! Kita udah gede, sebentar lagi kuliah!” tukas Bulan sambil memandang remeh Lintang. “Yahh… mungkin karena kepolosan dan muka cute-nya kamu itu juga aku mutusin nerima pas kamu nembak aku. Tapi sayangnya, kamu itu ngebosenin. MONOTON!”

Lintang membeliakkan matanya marah. Jemarinya mengepal kuat. Ia menekan amarahnya sekuat tenaga. Ia tidak mau membuat keributan dan membuat Wulan serta penghuni lainnya terbangun. “Maksud kamu apa, Lan?!” desisnya marah.

“Well, you’re smart, Lintang. Kamu pasti tau lah, apa maksudku.” Bulan menjawab pelan, setengah berbisik. “Kamu gak bisa diajak having fun kayak Bintang. Kamu selalu nolak pas aku ajakin clubbing, party, atau kegiatan malem lainnya. Dan saat aku clubbing sendirian di Lembang dua minggu setelah kita jadian itulah aku ketemu Bintang yang lagi liburan. Yah, kamu pasti tau apa yang terjadi selanjutnya…”

BUG! Tinju Lintang mendarat di pintu kayu kamarnya. Bulan terkejut. Cewek  modis itu tidak menyangka Lintang akan berbuat demikian. “Mending sekarang kamu pergi sebelum tinjuku tadi nyasar kemuka kamu!” usir Lintang tegas.

Bulan mengangkat bahunya kemudian menepuk pipi Lintang sekilas. “Kamu terlalu baik buatku, Lin. Cowok kayak kamu emang lebih pantes buat cewek model Wulan. Kalian berdua pasangan serasi. Sama-sama BODOH! Hahaha…”

PLAK. Satu tamparan mendarat diwajah mulus Bulan. Tawanya terhenti seketika. “Aku udah ngingetin kamu, tapi kamu yang minta dikasarin. Udah bagus kamu cuman aku tampar. Kalo aja tadi aku nonjok kamu, aku pastiin besok kamu udah ada di UGD.” ujar Lintang penuh emosi. “dan satu hal yang perlu kamu inget, Wulan emang jauh lebih baik dari kamu! Aku juga nyesel udah pacaran sama kamu! Mulai detik ini, jangan pernah muncul lagi dihadapanku. SELAMANYA!”

Ting tong ting tong. Suara alarm stasiun menyadarkan Lintang. Pemuda itu bangkit dan menuju peron tempat ular besi yang akan membawanya pulang. Ia menarik nafas panjang sejenak dan menoleh ke belakang beberapa saat, berharap Wulan akan datang untuk mengantar kepulangannya. Nihil. Akhirnya, dengan berat hati Lintang menyeret langkahnya. Saat hendak menjejakkan kaki digerbong, seseorang meneriakkan namanya. Refleks, ia berbalik dan mendapati Wulan sedang berdiri didekat bangku yang ia tempati tadi sambil melambaikan tangan.

Tanpa pikir panjang, Lintang berlari dan langsung memeluk gadis itu. “Lin-Lintang? Ka-kamu kenapa? Kok tiba-tiba meluk aku?” Wulan bertanya polos. Suara lembutnya nyaris tenggelam ditengah ramainya suasana Stasiun Tugu. Cowok yang memeluknya diam saja, malah mengetatkan pelukannya. Wulan pasrah. Akhirnya tangannya pun melingkar dipunggung Lintang. Dadanya berdebar hebat saat ia membalas pelukan Lintang. Ada sensasi aneh yang menjalari tubuhnya. Wulan hanya bisa berharap cowok itu tidak mendengar sport jantungnya.

“Wulan, aku bego banget! Aku bego banget karena udah pacaran sama cewek yang gak bermoral kayak Bulan. She’s definitely a sex freak!” tukas Lintang penuh emosi. Wulan diam saja. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Tapi, sejurus kemudian ia teringat wejangan kakeknya.

“Aku gak peduli seperti apa mantan kamu, Lin. Karena aku tau, kamu gak begitu. Kamu cowok yang baik, Lintang. Aku… aku sayang sama kamu…” bisik Wulan lembut. Lintang langsung melepas pelukannya. Ia menatap Wulan tak percaya. “Ka-kamu serius, Wulan??” Gadis dihadapannya mengangguk sambil tersenyum malu. Senyum yang sama saat Lintang mengajaknya berkenalan.

Lintang tersenyum lebar. Hilang sudah sakit hatinya saat Wulan mengatakan bahwa ia menyayangi Lintang. Cowok itu kembali merengkuh Wulan. “Aku juga sayang sama kamu, Wulan. Sayang banget… mungkin itu juga yang jadi alasan aku gak pamit sama kamu. Karena… karena aku gak sanggup.”

Pengeras suara stasiun mengumumkan bahwa kereta Argo Wilis tujuan Bandung akan berangkat 3 menit lagi. Masih dalam dekapan Lintang, Wulan berujar lembut. “Udah waktunya kamu pulang, Lan. Kamu harus siapin dulu segala sesuatunya untuk persiapan kuliah disini. Kita akan bertemu lagi. Kita akan satu kampus. Kalau perlu satu jurusan. Pasti!”

Lintang melepas dekapannya dan menatap Wulan penuh kasih. “Aku janji, kita akan ketemu lagi. Kita bakal kuliah bareng. Disini, di Yogya.” lanjutnya, “ehem… Wulan, would you be mine, please?”

Satu anggukan mantap Wulan membuat Lintang hampir melonjak kegirangan. Cowok itu tersenyum lebar saat Wulan memandangnya penuh keyakinan. Dikecupnya kening Wulan sesaat sebelum ia memasuki gerbong. “Aku sayang kamu, Lan. Melebihi semua bulan dan cahayanya.” Lintang berbisik lembut.

Wulan mengangguk seraya tersenyum lebar. “Aku tau dan aku percaya itu. Karena aku juga menyayangi kamu, melebihi semua bintang dan cahayanya.”

^^^^THE END^^^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s