Buah Pena

Simfoni Cinta di Purbalingga

Minggu siang, disebuah toko kaset.

“Lepasin! Ini kan aku duluan yang ngambil!” seruku saat tiba-tiba seseorang menarik kaset dari boyband favoritku, Westlife, yang aku ambil dari rak kaset luar negeri. Aku menoleh kesal pada orang yang telah seenaknya merebut kaset yang sudah aku incar sejak minggu lalu ―ternyata seorang cowok yang mungkin sebaya denganku.

“Enak aja! Orang gue duluan yang liat. Yang ada elo tuh yang harusnya lepas!” tukas cowok itu gak mau kalah. Aku mendelik sewot padanya. Sebetulnya dia cowok yang keren banget. Tinggi, kulitnya sawo matang, matanya tajam, dan rahangnya tegas. He’s definitely so handsome!

Sayangnya, pesona fisik yang dimilikinya itu gak diimbangin sama sikap yang ‘mempesona’ juga, alias minus! “Eh, kamu emang yang pertama liat, tapi aku duluan yang ngambil. Bedain dikit dong! Ganteng-ganteng kok bego, sih?!”

Matanya membulat marah. Mungkin ia tidak terima aku sindir begitu rupa. “Heh, elo jadi cewek gak pernah diajarin tata krama, ya?! Ngomong kok seenak jidat lo sendiri!”

“Hah! Bilang aja itu emang bener. Udah, pokoknya ini kaset punyaku. Titik.” Aku pun bergegas menarik kaset itu, dan berniat segera menuju kasir untuk membayarnya, kemudian pergi. Lebih lama sedikit aku bertengkar dengannya, mungkin kami akan berurusan dengan keamanan.

“Gak bisa! Ini punya gue.” Cowok itu merebut kaset yang baru sedetik berhasil aku rebut darinya.

“Enak aja! Ini punyaku, tau! Cari aja yang lain sana!”

“Elo tuh jadi cewek kepala batu banget, ya? Dibilangin punya gue juga!”

“Maaf mba, mas. Ada apa, ya? Dari tadi saya perhatikan kok kalian bertengkar terus? Mungkin ada yang bisa saya bantu?” Seorang pramuniaga melerai pertengkaran kami.

“Cowok ini duluan tuh mba yang mulai! Jelas-jelas saya duluan yang ngambil, eh dia malah main tarik aja! Gimana saya gak kesel, coba?” tudingku kesal. Pramuniaga itu tersenyum ramah pada kami. “Mas, sebaiknya mas kembalikan saja kaset itu pada mbak ini. Kan mbak ini yang pertama mengambilnya.”

Hahaha… dalam hati aku tertawa keras. Sukurin! Belagu banget sih jadi orang. Aku melirik sinis pada cowok itu. Tepat saat ia juga sedang menatap penuh emosi padaku. “Mba, tapi kan gue yang duluan liat.”

Buset dah… masih nyinyir aja itu cowok! Batinku heran. “Maaf ya, mas. Tapi siapa cepat, dia dapat. Kalau mas tidak keberatan, besok datang saja lagi kesini. Kebetulan besok kaset ini akan distok lagi dari studio pemegang lisensinya.”

Cowok itu menghela nafas kesal. “Ya udah, besok saya pesan aja deh, mba. Biar gak rebutan lagi sama orang rese kayak dia! Nih,”

Untungnya pramuniaga itu cekatan. Ia langsung menangkap kaset yang dilemparkan begitu saja oleh cowok tadi. Emang dasar cowok geblek! Gak punya etika sama sekali! “Dasar kutu kupret! Aduh, mba… kok bisa sabar banget sih ngadepin pembeli model gitu?! Dihhh… kalo saya dapet pembeli kayak gitu, mending langsung ditendang keluar aja!” tukasku pada si pramuniaga saat ia menyerahkan komik idamanku.

“Kan kami harus melayani tamu dengan ramah, mbak. Biar pada betah. Iya, tho?” ujarnya lembut. “ini mau dibayar langsung, apa mba’e mau cari kaset yang lain dulu?”

“Dibawa langsung aja, mba. Saya cuman mau beli ini, kok. hehehe…”

♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥

Seminggu kemudian di SMA Ganesha, Purbalingga…

“Selamat pagi, anak-anak.” Sapaan ramah Pak Joko, guru sejarah sekaligus wali kelasku menyapa kami.

“Selamat pagi, pak.” Koor balasan terdengar.

“Baik, sebelum kita mulai pelajaran dihari pertama masuk sekolah ini, bapak akan memperkenalkan kalian dengan seorang murid baru. Ya, silahkan masuk.”

Sejurus kemudian, sesosok tubuh jangkung yang dibalut seragam putih abu-abu berjalan dengan langkah yang menurutku arogan. Saat ia sudah berdiri disamping Pak Joko, aku langsung tercekat. “Perkenalkan, nama saya Radit Jatmiko. Kalian bisa memanggil saya Radit. Saya pindahan dari SMA Paravel, Jakarta.” Semua anak kelasku terpaku saat cowok tengil yang tempo hari rebutan kaset denganku itu memperkenalkan diri. Alamat buruk nih! Kok bisa-bisanya dia jadi murid pindahan disini? Dikelasku?

“Gilaaaa, Sha! Ganteng banget…” kata sohibku sambil memasang tampang mupeng yang norak banget. Matanya lekat memandangi cowok yang sekarang sudah duduk di bangku paling belakang di kelas.

“Ganteng sih ganteng. Tapi kalo sifatnya minus mah, sama aja boong!” tukasku jutek. “Udah deh, Vin. Mending kamu perhatiin deh penjelasannya Pak Joko. Otakmu kan selalu jongkok kalo suruh ngapalin sejarah!”

“Eciyee… ada yang sewot nih?” Avinda tertawa pelan. “lagian kamu kenapa ngata-ngatain dia sifatnya minus sih? Emang kamu pernah ketemu sama dia?” Aku diam saja. Pura-pura tak mendengar pertanyaan Avinda barusan. Merasa dicuekin —karena Avinda tau, aku sangat menyukai Sejarah— Avinda langsung ngiyem dan berusaha menyimak penjelasan Pak Joko tentang Revolusi Inggris.

♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥

“Raisha Wardhani, silahkan maju ke depan. Coba kamu selesaikan soal nomor 5.” titah Pak Andang yang langsung membuatku lemas. Hari ini hari sabtu, hari terakhir sekolah setiap minggunya. Tapi sialnya, kelasku kebagian pelajaran matematika di jam terakhir. Jam dimana mata siswa-siswi sudah lengket!

Aku menatap Avinda yang mengucapkan ‘itu soal logaritma, gampang kok. kamu pasti bisa’ tanpa suara. Aku menelan ludah susah payah dan berjalan seperti zombie ke depan kelas. Mampus deh! Ini gimana ngerjainnya? Batinku bingung. Aku memang payah dalam hal itung-itungan. Sudah dua menit aku berdiri di depan papan tulis tanpa menulis apa-apa.

“Kamu tidak bisa mengerjakannya, Raisha? Ini kan pelajaran kelas 1 dulu. Kita sudah sebulan mengulang logaritma, karena materi ini sering keluar di UN.” ujar Pak Andang heran. Saya tau kok, pak. Tapi mau gimana lagi? Otak saya gak nyampe kalo disuruh ngerjain beginian. Kalo sejarah atau pelajaran hafalan yang lain sih, kecil! Aku membatin kesal.

Yo wis, kamu yang anak baru, tolong bantu Raisha!” Aku menahan nafas. A-anak baru? J-jangan bilang kalo Pak Andang nyuruh Radit yang bantuin aku? Aduh… jatoh gengsi deh kalo dibantuin sama cecunguk yang selalu bikin gara-gara sama aku itu! “Saya, pak?” tanya Radit.

“Iya. Kamu anak baru, tho? Siapa nama kamu?”

“Radit, pak.”

“Oke, silahkan maju ke depan, Radit. Coba kamu bantu Raisha mengerjakan soal itu.” Terdengar suara kursi berderak. Aku pura-pura menghitung di papan saat Radit sudah berdiri disampingku. “Ternyata cewek kepala batu ini gak bisa ngerjain soal gampang model gini. Mending lo balik aja deh ke kelas 1 lagi.”

Jleb. Perkataannya barusan menohokku. Aku menatapnya penuh emosi. Ia tampak santai menuliskan langkah-langkah penyelesaian soal terkutuk itu.

“Ya betul sekali. Walaupun cara yang dikerjakan Radit berbeda, tapi jawabannya sama, 4 log 20. Nah, Raisha bapak minta kamu belajar lebih dalam lagi, ya? Sekarang kalian bisa kembali ke kursi masing-masing.” Radit menatapku penuh kemenangan saat Pak Andang memujinya.

Gondok, aku langsung berbalik dan hendak kembali ke mejaku. Sayangnya, aku tidak sadar kalau tali sepatuku lepas dan hampir saja jatuh tersungkur jika Radit tidak merengkuh tubuhku. Suit-suit meledek terdengar dari seluruh penjuru kelas. Entah kenapa saat Radit memelukku seperti sekarang yang dilakukannya, jantungku langsung berlarian. “Kamu gak kenapa-napa, kan?” nada pertanyaannya sarat kekhawatiran. Tidak sinis seperti tadi. matanya pun menatapku khawatir. Aku menggeleng pelan.

“Ehem. Radit, Raisha, sampai kapan kalian mau berada di posisi seperti itu?” pertanyaan Pak Andang langsung menyadarkan kami. Radit langsung melepaskan rengkuhannya. Kami berdiri dalam posisi yang canggung. “M-maaf, pak.” Aku langsung ngibrit kembali ke meja dan langsung disambut tatapan menggoda dari Avinda.

“Mukamu merah tuh, Sha!” katanya lirih sambil tersenyum geli. Sial, sial, sial! Kenapa juga tali sepatuku mesti lepas segala? Malu-maluin aja! Aku merutuk dalam hati. Konsentrasiku buyar sudah.

♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥

“Heh, kepala batu! Daripada lo mainan walkman mulu, mending kerjain nih soal!” Aku menoleh kesal pada orang yang barusan memanggilku kepala batu. Radit. Entah kenapa cecunguk itu selalu cari masalah denganku. Sudah hampir satu semester ia sekelas denganku, sifatnya masih saja tengil!

“Eh, Radit si cecunguk minus etika! Suka-suka aku dong, mau mainan walkman kek, mau ngapain kek, bukan urusan kamu! Ini kan jam istirahat, sah-sah aja dong!” tukasku kesal. “Pak Andang emang nyuruh kamu jadi tutor aku sampe UN. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya aja dong!”

Radit mengangkat sebelah alisnya, menantang. “Oh gitu… jadi elo mau gue aduin ke Pak Andang gara-gara elo gak mau ngerjain ini soal? Oke, fine. Tapi jangan nangis-nangis pas UN ntar lo gak bisa ngerjain soal-soal matematika!”

Aku mengelus dadaku keras-keras, berusaha sabar. Avinda yang sejak tadi hanya memerhatikan kami, ikut nimbrung. “Dit,  ini kan masih istirahat, kasian Raisha-nya. Udah, belajarnya pulang sekolah aja…” Radit tersenyum misterius pada Avinda. Sumpah mati aku benci sekali melihat senyumannya yang seperti itu. Terlihat picik dan sangat arogan dimataku.

“Heh, kepala batu. Untung sohib lo ini peduli sama lo. Oke, gue gak akan maksa lo belajar sekarang. tapi inget ya, pulang sekolah langsung ke PerpusDa (Perpustakaan Daerah)! Awas kalo sampe telat!” pesan Radit sambil tak lupa melemparkan senyum menyebalkan. Saat ia hendak keluar kelas, aku berteriak kesal.

“Denger ya, Radit Jatmiko. Aku punya nama, R-A-I-S-H-A. Jangan manggil orang seenaknya, apalagi pake ‘Heh’!” Radit membalikkan badannya kemudian tersenyum mengejek. “Elo lebih pantes gue panggil ‘Heh’ atau ‘Kepala Batu’ daripada Raisha. Nama itu kebagusan buat lo.”

Grrrr… meledak sudah emosiku. Sambil memaki-maki Radit, aku merobek-robek fotokopian soal yang tadi ia suruh untuk dikerjakan. Avinda mengelus punggungku lembut. “Sabar, Sha. Sabar…”

♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥

“Dit, kayaknya kamu udah keterlaluan deh sama Raisha…”

“Keterlaluan gimana, Vin? Aku gak ngerti.”

“Kan kamu sendiri yang bilang, sejak pertama liat dia di toko kaset, kamu ngerasa ada yang lain dari dia, makanya kamu pingin deket sama dia. Pingin temenan. Gak aku sangka, cewek yang kamu ceritain dulu itu ternyata sohibku. Aku langsung berniat nyomblangin kalian berdua. Eh, tapi kamu malah sifatnya tengil gitu…” Avinda menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan. “semalem Raisha nelpon aku, marah-marah gara-gara kamu udah bikin dia nunggu lama banget di PerpusDa, padahal kamu yang nyuruh dia suruh jangan telat. Aku gak bisa ngapa-ngapain selain nenangin dia, soalnya aku inget janji kamu yang nyuruh aku untuk jangan cerita apapun, termasuk kalo kita sepupuan…”

“Aku juga bingung, Vin. Aku niatnya mau bersikap manis ke dia, tapi gak tau kenapa aku malah jadi salting terus tengil gitu. Haahhh… padahal aku udah yakin banget dia itu gadis kecil yang dulu…”

“Maksud kamu, gadis kecil yang main violin di saung deket kebun strawberry keluarga kita itu ya? Yang dulu kita ke Pratin itu kan?”

“Iya. Wajah mereka persis sama. Vin, emang kamu gak pernah tanya, Raisha itu bisa main violin atau gak?”

Avinda menggeleng pelan. “Maaf deh, Dit. Tapi aku gak berani. Raisha terlalu tertutup untuk cerita masa lalunya…” Radit menghela nafas lesu mendengar jawaban Avinda. Hilang sudah harapannya. Tiba-tiba Avinda berteriak nyaring.

“Aha! Aku punya ide, Dit. Gimana kalo kayak gini aja…” Radit mendekatkan telinganya. Matanya berbinar saat Avinda membisikkan gagasannya.

“Gila, itu brilian banget, Vin! Aku setuju banget. Tapi, yang nyari informasinya siapa?”

“Tenang aja. Soal itu serahin ke aku.” Avinda berujar yakin. “tapi inget, jangan bilang kalo aku yang udah nyari informasi. Oke?”

Radit mengangkat jempolnya sembari mengangguk yakin. “Aku janji.”

♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥

Malam tahun baru, di villa Avinda.

“Brrr… Pratin bener-bener terpencil ya, Vin? Walaupun Pratin masih masuk kabupaten Purbalingga, kok ya tempatnya mencrit gini sih?” kataku sambil merapatkan jaket. Saat ini aku dan Avinda sedang memandangi langit malam dari balkon lantai dua villa Avinda.

“Ini kan letaknya deket kaki gunung Slamet. Ya wajar dingin, lah. Nih, aku bikinin sekoteng.” Aku menerima mangkok yang disodorkan Avinda penuh suka cita. “Suwun pisan lho, Vin. Kamu emang bener-bener sahabat terbaikku deh!”

Avinda meleletkan lidahnya. “Weeekk. Gombalnya kuwi lho, mba…” Kami tertawa bersamaan. Ulangan semester gasal baru selesai. Aku diajak Avinda menginap di villanya, itung-itung liburan. Aku langsung menyambutnya senang. Liburan gratis gitu, lho…

“Sha, aku masuk dulu ya? Mau nyiapin kamar. Kamu sendirian gak apa-apa, kan?” Aku mengangguk cepat kemudian mengangkat ibu jariku. Avinda pun berjalan meninggalkanku sendirian. Aku menarik nafas panjang. Rasanya damai sekali. Sayup-sayup, aku mendengar suara gesekan lembut. Gesekan lembut yang mengalirkan lagu favoritku, My Love-nya Westlife.

“I-ini kan suara violin? G-gak mungkin! Tapi, suaranya makin jelas…” gumamku sambil mengedarkan pandang ke bawah. Sekilas, aku melihat seseorang tengah memainkan violin di saung dekat kebun strawberry Avinda. Penasaran, aku bergegas menuruni tangga dan langsung berlari menuju saung itu.

Sepi. Sudah tidak terdengar lagi suara violin yang dimainkan saat aku tiba disana. Sekarang hanya tinggal violin dan penggeseknya saja yang ada disaung itu. Aku mengatur nafasku yang tersengal. Lelah, aku duduk di saung dan butir-butir bening mengalir begitu saja dari mataku. Suara violin tadi telah mengingatkanku pada seseorang. Membuka sebuah luka lama.

“Cinta itu kayak simfoni sebuah lagu. Terkadang ia terdengar lembut menenangkan, menghentak menyemangati, tapi juga menyayat pilu. Karena memang cinta gak melulu indah, ada pahitnya juga.” Aku tersentak saat mengenali suara barusan. Secepat kilat aku menghapus air mataku. Aku gak mau Radit liat aku lagi nangis. “Kamu kok bisa ada disini?”

Radit diam saja. Ia memandangiku dengan pandangan yang sulit aku pahami. Temaram lampu minyak yang tergantung di saung membuat aku kesulitan membaca air mukanya. “Elo gak pantes nangis, Sha. Sebanyak apapun air mata elo keluar, itu gak bakal ngembaliin orang yang udah meninggal. Elo cuman bisa ngedoain biar jiwanya tenang.”

Aku menatap Radit nanar. “Kamu gak usah sok peduli sama aku, Dit. Kamu gak tau apa-apa tentang aku.”

“Siapa bilang gue gak tau tentang lo, hah? Lo denger baik-baik ya, Sha. Gue udah kenal lo semenjak gue kecil. Saat pertama kali gue liat lo mainin violin di saung ini, 10 tahun lalu. Elo mainin lagu yang barusan gue mainin. Dan itu adalah terakhir kalinya elo main violin kan? Elo gak sanggup lagi main violin karena kakak lo, tentor terbaik lo, meninggal karena kecelakaan tepat dihari pementasan pertama lo. Gue tau semuanya, Sha. Gue bela-belain ikut kursus kilat violin cuman buat mainin satu lagu itu demi lo. Karena gue mau elo gak nyia-nyiain bakat elo.”

Pertahananku bobol sudah. Aku kembali menangis. Radit yang melihatku menangis terisak, langsung berlutut didepanku. “Sha, gue minta maaf selalu kasar sama elo. Gue juga minta maaf, karena gue udah seenaknya nyari info ke ortu lo. Gue minta maaf udah bikin elo nangis. Gue minta maaf udah ngingetin elo sama kakak elo. Gue minta maaf, Sha…”

Aku melepaskan tangan Radit yang menggengam tanganku erat. Tindakanku barusan membuatnya tersentak. “Sha?”

“Aku gak tau kenapa kamu bisa tiba-tiba muncul disini. Aku gak tau kenapa kamu selalu bersikap nyebelin ke aku. Aku gak tau kenapa kamu selalu membenci aku. Aku gak tau, Dit!!!” aku memekik frustasi.

Aku menutup kedua wajahku dengan tangan. Berharap bisa meredam tangisanku. Aku bisa merasakan, aura kebencian yang selalu dipancarkan Radit. Senyum sinisnya, tatapan arogannya, sikap tengilnya, semuanya! Dan sekarang, ia tiba-tiba muncul dihadapanku, menceritakan kembali kenangan terpahit dalam hidupku.

Sedetik kemudian aku merasakan tubuhku dipeluk. Aku meronta, setengah memaki meminta Radit melepas pelukannya. “Aku gak bisa, Sha. Aku gak bisa ngebiarin kamu nangis. Please, Sha. Biarin aku meluk kamu…” Aku mengalah. Perlahan, aku bisa merasa lebih tenang berada dalam pelukan Radit. Ini kedua kalinya aku berada dalam rengkuhannya. “Dit, boleh aku tanya sesuatu?”

Radit melepas pelukannya kemudian menatapku dengan kedua alis terpaut. “Tanya aja kali. Sejak kapan orang mau tanya harus ijin dulu?”

“Sebenernya, kenapa sih kamu selalu bersikap tengil ke aku? Sejak pertama kamu jadi murid baru, aku ngerasa sikap kamu aneh banget. Contohnya, meskipun kamu pindahan dari Jakarta, tapi kamu bisa dan lancar ngobrol sama temen-temen lain dengan sebutan ‘aku-kamu’, termasuk ke Avinda. Tapi kenapa kalo sama aku kamu nyebutnya ‘lo-gue’ terus? Dan kenapa sih, kamu selalu manggil aku ‘Heh’ atau ‘Kepala Batu’?” Radit menggaruk tengkuknya sambil pura-pura berpikir. Membuatku heran sendiri, kenapa dia mendadak jadi salting gini? Jangan-jangan, dia naksir aku lagi?

“Soalnya kalo di deket kamu, Radit jadi nervous dan langsung salting gak jelas, Sha. Makanya sikap dia jadi tengil. Radit kan naksir sama kamu…” Suara Avinda membuat aku dan Radit tersentak. Tanpa kami sadari, Avinda sudah berdiri di samping saung. Aku melihat muka Radit yang berubah menjadi merona. Avinda pun tertawa pelan. “Eciyee… Radit malu nih yeee?? Hahaha… payah kamu, Dit! Udah susah-susah aku nyusun rencana ini, dari tadi kamu belom nembak Raisha juga?!”

Aku melongo dengan sukses. Nyusun? Avinda nyusun rencana tentang ini semua? Kok bisa? “T-tunggu sebentar, Vin. Apa maksud kamu barusan? Kenapa kamu bilang kamu udah susah-payah nyusun rencana ini?”

“hehehe… sebelumnya maaf banget aku gak cerita ke kamu kalo sebenernya aku udah kenal lama sama Radit, kita itu sepupuan. Selama ini, termasuk saat pertama Radit masuk kelas kita, aku akting seolah-olah aku belom pernah ketemu dia. Maaf banget ya, Sha??”

Aku membulatkan mataku tak percaya. Aku memandangi Avinda dan Radit bergantian, menuntut penjelasan. “Kok kamu tega banget sih, Vin?!”

“Ini bukan salah Avinda, Sha. Aku yang minta dia ngerahasiain dari kamu. Soalnya aku takut, kalo ternyata kamu gak suka sama aku. Makanya aku minta tolong sama Avinda…”

“J-jadi yang dibilangin Avinda itu bener?” tanyaku speechless.

Radit tersenyum. Kali ini aku bisa melihatnya tersenyum tulus. Senyuman yang membuatnya terlihat jauh lebih tampan. “Bener, Sha. Aku udah naksir kamu sejak pertama liat kamu main violin. Aku yang saat itu lagi liburan, bener-bener ngerasa sedih banget pas harus balik ke Jakarta lagi. Gak aku sangka, ayah dimutasi ke Purbalingga dan aku bisa ketemu sama kamu lagi. Padahal aku hampir hopeless…”

Aku terpana saat Radit meraih tanganku lembut. “Sha, would you be mine?” tanyanya penuh harap. Aku menggigit bibir bawahku bingung. Aku menatap Avinda yang mengangguk yakin. Pandanganku beralih pada Radit yang masih menggenggam tanganku lembut. Aku mengulas senyum terbaikku, kemudian mengangguk yakin padanya. “Thanks banget, Sha!” pekiknya senang. Hampir saja ia kembali memelukku saat tiba-tiba Avinda merentangakan tangannya.

“Yeee… udah dong, Dit! Tadi kan kamu udah meluk Raisha. Enak aja meluk-meluk lagi! kamu kan masih utang sama aku!” Aku tergelak melihat tingkah Avinda. Bersyukur dalam hati aku memiliki sahabat yang sangat peduli dan melindungiku. “Ya, ya, ya. Kamu mau minta apa, sepupuku sayang?” Radit bertanya sambil mengulum senyum geli.

“Kamu harus traktir aku di Pizza Hut besok siang! Cheese pizza porsi besar plus ice cream sundae semangkok penuh!”

Radit mengacak-acak rambut Avinda lembut. Kemudian ia merangkulku. “Gampang lah, tapi besok-besok kalo aku udah ntraktir my beloved lady dulu! Hahaha…”

♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥♫♥

5 bulan kemudian, di acara pelepasan siswa kelas 3 SMA Ganesha…

Prok, prok, prok. Tepuk tangan meriah menutup aksi violin soloku. Lagu ‘Himne Guru’ sukses aku bawakan dengan sempurna. Aku membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih.

“Raishaaaa! Gila, permainan kamu hebat banget!” pujian Avinda langsung menyambutku di backstage.

“Ini juga berkat kamu, kok.” ucapku sambil memeluk Avinda. “Makasih banget ya, Vin…”

“Ehem. Jadi aku dilupain, nih???” Aku dan Avinda menoleh bersamaan. Di belakang kami, Radit sudah berdiri sambil memasang tampang cemberut.

Aku menghampirinya. “Siapa bilang? Aku barusan juga mau nyari kamu. Nyari pangeran yang udah ngebangunin putri tidurnya dan membuat putri itu sadar bahwa cinta bisa terus mengalir, meski orang yang kita cintai udah gak ada, seperti halnya simfoni dari tiap-tiap lagu.” Kataku sambil tersenyum manis. “makasih banget ya, Dit. Kamu udah bikin aku sadar, bahwa aku gak boleh terus-terusan menangisi kakak. Dia pasti udah tenang disana. Makasih banget…”

Radit memelukku sekilas. Mata dan bibirnya tersenyum lembut. “Makasih juga udah mau jadi seseorang yang berarti buatku, Sha. Makasih udah ngebawain simfoni indah buatku. Kakakmu pasti bangga sama kamu!”

Aku tersenyum bahagia sembari memandangi violin yang masih ku pegang erat. Saat memandang keluar jendela, tampak awan berarak, seolah membentuk wajah mendiang kakakku yang sedang tersenyum lembut. “Istirahat yang tenang ya, Kak. Raisha akan terus menyayangi kakak. Semoga simfoni cinta yang aku mainkan, membuat kakak bahagia.”

—THE END—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s