Anything

Sekolah Pada Masa Kolonial Belanda : Sekolah Ma’arif

Kelompok 8 :

  1. Risda Amanda                            (13406241007)
  2. Fajar Wisnu Wijayanto          (13406241035)
  3. Andi Nurrahmawan                (13406244019)
  4. Ilham Fajar Mulya Putra      (13406244023)

****************************************************************

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Indonesia memiliki goresan blue print mengenai pendidikan yang cukup kompleks. Salah satu jejak dari goresan sejarah pendidikan yang ada di Indonesia yakni Sekolah Ma’arif. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang berfondasikan keagamaan. Sebagai salah satu sekolah yang cukup ‘berumur’ dan memiliki riwayat kompleks, kami berusaha menjelaskan mengenai Sekolah Ma’arif dari awal berdirinya sampai kebijakan-kebijakan dari sekolah tersebut.

Menjadi salah satu lembaga pendidikan yang hadir dimasa penjajahan colonial Belanda, sekolah Ma’arif memiliki sejarah yang unik dan sangat bermanfaat untuk dikaji. Bermula dari respon terhadap keprihatinan pemuka-pemuka agama (khususnya Nahdatul Ulama atau NU) terhadap pendidikan umat islam saat penjajahan Belanda, maka lahirlah Sekolah Ma’arif yang bernaung di NU. Sampai saat ini, sekolah Ma’arif juga memberikan sumbangsih yang besar untuk pendidikan di Indonesia, khususnya yang bergerak di bidang keagamaan.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, kami mengajukan beberapa permasalahan, yaitu :

  1. Bagaimana sejarah berdirinya Sekolah Ma’arif?
  2. Apa saja program dari Sekolah Ma’arif?
  3. Apa identitas pendidikan dari Sekolah Ma’arif?
  4. Apa kebijakan dan strategi Sekolah Ma’arif?

 

  1. C.    Tujuan Penulisan

Tujuan yang ini disampaikan dalam makalah ini diantaranya :

  1. Mengetahui sejarah berdirinya Sekolah Ma’arif
  2. Mengetahui program-program yang diselenggarakan di Sekolah Ma’arif
  3. Mengetahui identitas pendidikan Sekolah Ma’arif
  4. Mengetahui kebijakan dan strategi yang dilaksanakan di Sekolah Ma’arif

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

BAB 2

PEMBAHASAN

  1. 1.      Sejarah Berdirinya Sekolah Ma’arif

Jika NU lahir dari dorongan adanya konstelasi politik saat itu, baik yang bersifat nasional, misalnya penindasan rezim kolonial Belanda, ataupun bersifat internasional, yaitu lenyapnya khalifah Utsmaniyah Turki dan penguasaan kaum Wahabi atas kota Makkah dan Madinah, kemudian paham itu menyebar ke Indonesia. Maka berbeda dengan latar belakang hadirnya LP Ma’arif NU yang murni dilatarbelakangi oleh keadaan pendidikan umat Islam, utamanya keadaan pendidikan umat Islam tradisional yang berbasis pesantren dan tidak terkoordinasi dengan baik.

Suatu hal yang amat mendesak untuk segera direspon setelah adanya NU adalah mendirikan divisi pendidikan yang terorganisir dengan baik tetapi tetap berada dalam naungan NU. Hal seperti itu, disamping menandingi dan menanggapi pendirian lembaga pendidikan yang mengusung paham pembaruan sebagaimana dimotori para kaum Muslim Modernis, yang sudah melenceng dari haluan Aswaja dan tidak lagi berpatokan pada madzhab yang empat. Ditambah lagi, untuk merespon pendirian pendidikan missi zending yang disubsidi oleh kolonial Belanda. Juga hal pendorong utama LP Ma’arif didirikan adalah untuk memberikan pengajaran yang bersifat modern dengan memasukkan ilmu-ilmu keduniaan (fardhu kifayah) kepada generasi muda NU dengan tetap mempertahankan paham Aswaja.

Para tokoh NU memandang bahwa untuk menyeimbangkan pemahaman generasi penerus NU terhadap kehidupan ini sangat dibutuhkan penguasaan akan ilmu-ilmu, yang dikatakan sebagian orang dengan sebutan ilmu sekuler (Feillard, 1999: 276). Jika untuk kemaslahatan umat, mengapa ilmu-ilmu itu harus dijauhi. Tentu, jika ilmu-ilmu itu tidak dipelajari maka umat Islam, khususnya generasi NU semakin jauh tertinggal. Sementara umat-umat yang lain berada digaris depan menguasai berbagai segi kehidupan. Inilah sebenarnya latar belakang LP Ma’arif NU didirikan. Jika disederhanakan, latar belakang tersebut menjadi dua kondisi, yaitu:

  1. a.      Kondisi Makro :

1)      Respon terhadap lembaga pendidikan para modernis, seperti Muhammadiyah, Persis, al-Irsyad, dan lainnya.

2)      Respon terhadap lembaga pendidikan para misionaris Kristen (missi zending) seperti Katholik dan Protestan.

3)      Respon terhadap lembaga pendidikan milik pemerintah colonial Belanda yang sekuler

  1. b.      Kondisi Mikro :

1)      Menata lembaga pendidikan milik NU agar terorganisasi dan terkoordinasi dengan baik, efektif, dan efisien.

2)      Mengembangkan ilmu pengetahuan di lingkungan NU secara integral agar selaras dengan perkembangan IPTEK.

3)      Mementingkan paham Aswaja pada generasi muda muslim Indonesia.

  1. 2.      Program Sekolah Ma’arif

Sebagai sebuah badan atau organisasi yang baik LP Ma’arif  membuat program-program yang biasa digodok dalam lima tahun sekali dalam setiap muktamar yang dilaksanakan oleh organisasi induknya, NU.

Dalam bidang pendidikan dan pengajaran formal, NU membentuk satu bagian khusus yang menanganinya, yaitu yang disebut Ma’arif, bertugas untuk membuat perundangan dan program pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah yang berada di bawah naungan NU.

Berdasarkan hasil rapat kerja Ma’arif yang diselenggarakan pada tahun 1978, disebutkan tentang program-program kerja Ma’arif, antara lain:

  1. Menumbuhkan jiwa pemikiran dan gagasan-gagasan yang dapat membentuk pandangan hidup bagi anak didik sesuai dengan ajaran Ahlussunnah Waljama’ah.
  2. Menanamkan sifat terbuka, watak mandiri, kemampuan bekerja sama dengan pihak lain untuk lebih baik, keterampilan menggunakan ilmu dan teknologi yang kesemuanya adalah perwujudan 3pengabdian diri kepada Allah.
  3. Menciptakan sikap hidup yang berorientasi kepada kehidupan duniawi dan ukhrawi sebagai sebuah kesatuan.
  4. Menanamkan penghayatan terhadap nilai-nilai ajaran agama Islam sebagai ajaran        yang dinamis.
  5. Penataan kembali orientasi pendidikan Ma’arif, dari orientasi pencapaian pengetahuan scholastic yang diakhiri denagn pemberian ijazah ke orientasi kemempuan melakukan kerja nyata di bidang kemanusiaan dan kemasyarakatan.
  6. Mengaitkan pelajaran agama di sekolah-sekolah Ma’arif dengan persoalan-persoalan hukum, lingkungan hidup, solidaritas sosial, wiraswasta, dan sebagainya
  7.  Peningkatan organisasi Ma’arif.
  8. Penyediaan data dan informasi tentang sekolah-sekolah Ma’arif.
  9. Penerbitan.
  10. Peningkatan mutu guru Ma’arif (Zuhairini,1986:36).

 

  1. 3.      Identitas Sekolah Ma’arif

Adapun identitas lembaga pendidikan Ma’arif NU diantaranya :

  • Memiliki komitmen terhadap paham keagamaan Aswaja (Ahlusunnah Waljamaah)
  • Kebijakan pendidikan Ma’arif berpijak pada pemikiran bahwa pendidikan merupakan upaya pengembangan individu manusia untuk menjadi manusia yang actual dalam pengertian memiliki sensitifitas social yang tinggi dan mampu mengembang fungsi kekhalifahan di muka bumi, bukan menciptakan alat produksi.
  • Memelihara perpaduan antara semangat pergerakan (spirit of being a movement) dan keharusan mengatur diri. Dua hal ini membawa pendidikan Ma’arif pada ciri-ciri kependidikan (educational properties) yang semestinya.

 

  1. 4.      Kebijakan dan Strategi Sekolah Ma’arif
    1.                                 i.            Kebijakan Lembaga Pendidikan Ma’arif

a)      Menata dan mensosialisasikan kepengurusan LP Ma’arif

b)      Melanjutkan penyusunan database satuan pendidikan di lingkungan NU

c)      Mempertegas identitas pendidikan (Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi) Ma’arif.

d)     Meningkatkan madrasah/sekolah unggul dan perguruan tinggi di tiap wilayah.

e)      Meningkatkan hubungan dan jaringan (networking) kerjasama dengan lembaga internasional.

  1.                               ii.            Strategi Lembaga Pendidikan Ma’arif

a)      Menguatkan solidaritas dan komitmen pengurus Ma’arif di semua tingkatannya.

b)      Menggalang kekuatan structural dan cultural warga NU dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan Ma’arif.

c)      Mendirikan badan-badan usaha dibawah naungan Ma’arif NU untuk mencukupi keburtuhan pendanaan.

d)     Meningkatkan partisipasi pendidikan warga NU melalui berbagai bentuk kerja sama yang saling menguntungkan

Membuka dan memperluas jaringan kerja sama dengan berbagai instansi dalam dan luar negeri baik pemerintah maupun swasta.

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

BAB 3

PENUTUP

  1. A.    Simpulan

Dari apa yang telah kami sajikan dalam makalah ini, beberapa poin yang dapat dijadikan simpulan, yaitu :

  1. Sekolah Ma’arif hadir saat penjajahan colonial Belanda dengan mengedepankan basis keagamaan sebagai dasar lembaga pendidikannya.
  2. Ma’arif menjadi lembaga pendidikan dibawah naungan Nahdatul Ulama (NU) yang mengajarkan paham Aswaja kepada peserta didiknya sebagai salah satu pedoman pendidikan dan pengajaran yang tidak mementingkan ilmu keduniaan saja, tapi juga ilmu keagamaan.
  3. Program-program yang dilaksanakan di sekolah Ma’arif merupakan hasil muktamar NU dan mengedepankan perkembangan IPTEK dan keagamaan yang menyeluruh dengan tetap mengedepankan paham Aswaja.
  4. Sebagai sekolah yang memiliki identitas keagamaan, (dalam hal ini adalah paham Aswaja) Ma’arif memegang teguh identitasnya sebagai lembaga pendidikan yang harus menjalankan pendidikan dan pengajaran yang berpijak pada paham Aswaja.
  5. Seperti halnya sekolah atau lembaga pendidikan lain, Ma’arif memiliki bermacam kebijakan dan strategi pendidikan untuk mencerdaskan umat dengan tetap bersandar pada paham Aswaja.

 

  1. B.     Daftar Pustaka

http://makalah-listanti.blogspot.com/2012/06/sistem-pendidikan-maarif-nu_21.html

http://ahmadmuhli.wordpress.com/2010/07/15/sejarah-berdirinya-nahdlatul-ulama/

http://khittahnu.blogspot.com/2013/01/arti-paham-aswaja-menurut-nu.html#.UwMykGKSxfo

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s