Anything

Hendro Salim-sensei : Kisah Karateka ‘Hell Class’ Indonesia

lagi iseng-iseng buka website-nya PB Forki, terus nemu artikel yang bagus banget! kisah Kak Hendro bener-bener bikin semangat pokoknya! ^_^

***************************

 

 

hendro salim

 

 

Tampil agresif di atas matras membuat Hendro Salim menumbangkan perlawanan karateka Rusia, Gabiela Zurab dengan skor telak, 2-0, pada putaran final kumite perorangan kelas -84 kg kejuaraan dunia WKF Premier League di Tennis Indoor Senayan, Jakarta tahun lalu. Kesuksesan yang diraihnya tidak datang dalam sekejap. Kerja keras dan latihan intens mengawali kisah Hendro di ajang karate nasional dan internasional.

Jaminan masa depan
Terjun sebagai atlet karate bukan pilihan Hendro. Meskipun ayahnya, Agus Salim, tercatat sebagai juara nasional karate era ‘80an, Hendro lebih memilih bola basket. Dia melihat banyak pergaulan di olahraga itu. Namun di tahnun 1999, seni bela diri asal Jepang ini sukses mencuri perhatiannya. Ketika itu, saat masih duduk di bangku kelas 3 SMP Katolik Garuda, ia menjuarai kejuaraan karate di Makassar. Padahal, dia mengaku sering absen latihan, karena ingin bermain bola basket. “Menjadi juara mengubah pandangan saya terhadap karate, saya ingin lebih,” kenang Hendro.

Gelar juara menjadi awal kisah Hendro di dunia karate. Memasuki SMU Negeri 5 Makassar, dia mulai rajin berlatih. Kerja kerasnya mencuri perhatian induk organisasi olahraga karate di Indonesia (PB Forki). Tahun 2006, dia menjuarai Piala KASAD di Medan. PB Forki tertarik dan meminta dia mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) SEA Games 2007, Thailand. Saat persiapan, dewi fortuna datang. Skuad karate proyeksi Asian Games 2006, Doha, Qatar kekurangan atlet kelas -80 kg. Kebetulan, kelas yang kosong adalah klasifikasi berat badannya saat itu – sekarang dia terjun di kelas -84 kg. Alhasil, PB Forki menetapkan dia untuk mengisi skuad pelatnas. Kesempatan langka ini pun tidak disia-siakan olehnya.

“Kejuaraan multievent pertama saya adalah Asian Games di Qatar. Saat itu saya kalah dalam perebutan medali perunggu, tapi senang menimba pengalaman dan langsung berhadapan dengan lawan di ‘kelas neraka’ ini,” kenang Hendro. Kelas ‘neraka’ (80 kg ke atas) banyak diminati karateka asing, termasuk Eropa dengan postur tubuh lebih besar.

Sejak saat itu, Hendro seolah tersedot adrenalin baku hantam di atas matras. Pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan 25 tahun lalu ini haus gelar. Sekarang, diakuinya karate berperan penting bagi kehidupan pribadinya. Karate telah memberinya jaminan masa depan.

“Berkat karate saya bisa menjadi pegawai negeri sipil (PNS), saya bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Makassar sejak tahun 2010 dan tahun 2012 resmi diangkat sebagai PNS,” tutur Hendro.

Bangkit dan melawan
Sebagai atlet yang mendalami olahraga kontak fisik, Hendro pernah didera cedera. Kisah ini terjadi di tahun 2010 lalu. Ia mengalami cedera saat menjalani persiapan menuju Asian Games 2010, Guangzhou, RRC. Musibah ini membuat namanya tercoret dari deretan karateka yang disiapkan. Cedera ligamen lutut kanan membuat kakinya tidak leluasa bergerak. “Jangankan untuk menendang, memasang kuda-kuda yang kokoh saja cukup membuat rasa nyeri,” kenangnya.

Cedera membuat Hendro harus istirahat selama 1 tahun. Dampak dari cedera itu tidak hanya mendera rasa nyeri di fisik, tapi membuat dia sedikit terpukul. Seharusnya dia bisa tampil di Asian Games dan memperbaiki prestasi tahun 2006. “Mau bagaimana lagi, mau dipaksakan pun tidak bisa karena saya cedera, ibaratnya ini kemampuan kaki saya yang tadinya imbang menjadi 100 persen dan 60 persen,” tutur Hendro.

Dalam keterpurukannya, Hendro sempat berpikir apakah ini akhir dari kariernya sebagai atlet karate. Di satu sisi dia juga melawan pemikiran itu dengan mengatakan ini adalah risiko dan kenyataan yang harus dihadapi seorang petarung. Sampai pada suatu saat, dia bertemu seorang fisioterapi yang membantunya bangkit dan melawan cedera.

“Fisioterapis ini membuat saya memenangkan pemikiran untuk bangkit dari cedera, dia memberi saya tip latihan melawan cedera tanpa harus menjalani pembedahan,” tutur Hendro.

Hendro dianjurkan untuk melakukan latihan fisik selama 2-3 bulan. Latihan fisik dimulai dengan melakukan leg press semampunya – tidak ada keharusan melakukan berapa repetisi. Setelah itu latihan dilanjutkan dengan leg curl dan reverse leg curl semampunya. Setelah itu dia mencoba melakukan latihan teknik di atas matras. “Awalnya masih sedikit ragu, ternyata ada perubahan, saya kembali latihan fisik, dan hasilnya bagus, saya dipanggil ke pelatnas SEA Games 2011 di Jakarta,” kenang Hendro.

Setelah bangkit dari cedera dan menjalani pelatnas SEA Games, Hendro tampil luar biasa dan membantu tim karate Indonesia di nomor kumite beregu meraih medali emas SEA Games 2011. Meski kualitas kakinya tidak seimbang, 100 persen berbanding 90 persen, cedera itu membuat dia lebih percaya diri sekarang.

Bertekad satukan teknik

Menjuarai berbagai kejuaraan membuat Hendro kebanjiran bonus. Dari bonus yang dia dapatkan – mayoritas berupa uang, Hendro berhasil membangun rumah untuk istri dan anaknya di Makassar. Di samping untuk kehidupan pribadi, dia juga menyimpan tekad untuk menyatukan berbagai jenis teknik karate. Caranya, dia ingin membuat klub di kota asalnya dengan memanfaatkan bonus yang telah ia dapatkan.

Hendro melihat karate terdiri dari banyak perguruan sehingga menciptakan preseden bagi masyarakat awam – seorang karateka yang berlatih di satu perguruan tidak boleh berlatih di perguruan lain. “Saya mau membuat prestasi untuk Indonesia, saya ingin membuat klub agar karateka dari semua perguruan bisa masuk,” harapnya.

Membuat klub di Makassar merupakan langkah Hendro untuk mengeneralisasi teknik karate di Indonesia. Hendro menilai Indonesia sedikit tertinggal di bidang teknik. Sebagai langkah awal, dia tidak menarik sepeserpun bagi anggota klubnya nanti. Dia lebih tertarik untuk merangkul karateka berbakat di Sulawesi Selatan dari berbagai perguruan dan berlatih bersama di klubnya nanti. “Kami undang mereka untuk saling bertukar pikiran dan sama-sama berlatih,” tambahnya.

Keinginan Hendro membuat klub tidak sekadar untuk memajukan teknik karate di Indonesia. Ke depan, dia berharap klubnya menjadi salah satu pemasok karateka ke pelatnas. Menurutnya, seorang atlet karate harus memiliki pondasi yang kuat sebelum memasuki timnas.

“Jadi ketika dipanggil timnas dia sudah punya bekal, tidak datang dengan tangan kosong sehingga membuat pelatih-pelatih timnas membangun ulang si karateka itu. Saya ingin mereka yang dipanggil timnas tinggal dipoles saja,” jelasnya.

Ringkasan Prestasi Hendro Salim
Medali perunggu SEA Games Thailand tahun 2007
Medali emas PON Kalimantan Timur tahun 2008
Medali perak SEA Games Laos tahun 2009
Medali perak Asian Martial Art Games Thailand tahun 2009
Medali emas kumite beregu SEA Games Indonesia tahun 2011
Medali emas PON Riau tahun 2012
Medali emas Kejuaraan Venice Open Italia tahun 2013
Medali emas Kejuaraan Dunia WKF Premier League Jakarta tahun 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s