Anything

Esai Tugas Mata Kuliah Sejarah Asia Barat : “RAFSANJANI DALAM PERGERAKAN REFORMASI IRAN”

PROLOG

Iran memiliki sejarah pergerakan yang cukup kompleks diantara Negara-negara kawasan Asia Barat. Dalam esai yang berjudul “Rafsanjani dalam Pergerakan Reformasi Iran” ini penulis akan menguraikan mengenai sepak terjang Rafsanjani di dunia perpolitikan (pemerintahan) Iran. Tiga bahasan atau materi pokok yang penulis uraikan dalam esai ini yaitu mengenai biografi singkat Rafsanjani, kiprah pergerakannya, serta pergeseran orientasi ide-ide yang beliau gagas dalam birokrasi Iran.

Harapan penulis, esai ini dapat memberikan referensi bagi pembaca pada umumnya serta mahasiswa sejarah pada khususnya. Kritik dan saran yang membangun akan sangat berharga untuk penulis demi kesempurnaan esai ini.

 

  1. Biografi Singkat Rafsanjani

Rafsanjani lahir dengan nama Ali Akbar Hashemi Rafsanjani. Beliau di lahirkan di kota Nough, Iran pada 25 Agustus 1934. Memiliki 8 orang saudara, dan juga berasal dari keluarga kaya, bisa dikatakan bahwa masa kecilnya sangat terjamin. Pendidikan terakhir yang ditempuhnya adalah studi mengenai teologi di salah satu perguruan tinggi di kota Qom, Iran. Rafsanjani menikahi Effat Marashi pada tahun 1958 dan dikaruniai 5 orang anak, yaitu : Mohsen, Mehdi, Yasser, Fatemeh, dan Faezeh. Agama yang dianut Rafsanjani adalah Islam Shia.

 

  1. Kiprah Pergerakan Rafsanjani

Rafsanjani merupakan salah satu politikus yang paling penting dan paling berpengaruh dalam sejarah pergerakan reformasi Iran. Beliaulah yang menjadi tokoh utama dibalik berakhirnya dualisme kepemimpinan atau kekuasaan di Iran. Kiprah pergerakan Rafsanjani sudah sangat menonjol semenjak ia menduduki jabatan di parlemen sebagai ketua serta komandan pasukan tentara Iran.

Awal kiprahnya dimulai saat ia menjadi speaker of the parliament pada tahun 1980. Dari sini jugalah pertama muncul gerakan Revolusi Iran. Pada saat kepemimpinan Khoemini, Rafsanjani menjadi orang kepercayaan Khoemini. Selain menduduki jabatan penting sebagai ketua parlemen Iran, Rafsanjani juga merangkap jabatan sebagai Pejabat Pangab. (M. Riza Sihbudi, 1991 : 221).

Setelah kematian Khoemini yang merupakan presiden ketiga Iran, Rafsanjani pun akhirnya maju mencalonkan diri sebagai presiden. Kemenangan yang sudah diprediksi banyak pihak pun terjadi. Rafsanjani terpilih menjadi presiden keempat Iran dan dilantik pada 1989. Kiprahnya sebagai presiden berlangsung selama dua periode, yakni 1989-1997, dan 1997-2005. Walaupun beliau mencalonkan diri kembali pada pemilu presiden tahun 2005, akan tetapi Rafsanjani kalah pada putaran kedua dari Mahmod Ahmadinejad. Dengan itu pulalah masa kepemimpinan Rafsanjani berakhir.

 

  1. Proses Terjadinya Pergeseran Orientasi yang Digagas Rafsanjani

Dikenal sebagai politikus yang cerdas dan reformis, Rafsanjani banyak menuangkan gagasan-gagasan atau ide pembaruan bagi Iran. Gagasannya sudah banyak dikemukakan saat Rafsanjani masih duduk di parlemen Iran (belum menjadi presiden), sekitar tahun 1980an. Hal yang paling mencolok dalam ‘orientasi pembaruan’ yang dilontarkannya adalah pergesaran dari rezim ‘Islam garis keras’ menjadi ‘zaman baru Iran’. Adapun yang dimaksud rezim ‘Islam garis keras’ merupakan orientasi dari Khomeini saat beliau menjadi presiden. Sementara saat Rafsanjani diangkat menjadi presiden, dalam pidato kepresidenan pertamanya, beliau mengatakan bahwa kemerdekaan Iran hanya bisa secara nyata terlihat jika Iran kuat secara ekonomi.

Walaupun pada awalnya sempat ditentang banyak pihak, tapi Rafsanjani membuktikan bahwa ide-idenya untuk pembaharuan Iran patut diperhitungkan. Hal ini tampak pada rencana pembangunan lima tahun diawal periode kepemimpinannya.

‘Repelita’ yang dicanangkan Rafsanjani diawali dari pembaruan struktrur birokrasi di kalangan eksekutif Iran (jabatan kepresidenan). Idenya untuk mengubah dualisme kepemimpinan eksekutif sudah mulai dikemukakan sejak ia masih menjadi Ketua Parlemen pada masa pemerintahan Presiden Khoemini. Penghapusan dualisme kekuasaan eksekutif terdiri dari penghapusan jabatan perdana menteri dan menjadikan jabatan presiden sebagai kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan di Iran. (M. Riza Sihbudi, 1991 : 222). Sekali lagi, meski pada awalnya ditentang, tapi ‘suara-suara negatif’ tersebut padam sendiri dan bahkan tidak terdengar lagi ketika Rafsanjani ‘naik tahta’ menggantikan Khoemini.

Gagasan reformasi Iran dari Rafsanjani juga tampak saat ia mulai menggerakan perekonomian Iran. Agaknya, dibandingkan dengan ide untuk penghapusan dualisme kekuasaan eksekutif, ‘obsesi’ Rafsanjani dalam membangun perekonomian lebih mendapat ‘batu sandungan’.

Permasalahan yang terjadi sebetulnya berawal dari gagasan Rafsanjani untuk memulihkan perekonomian Iran pasca peperangan yang ternyata sangat bobrok : inflasi membumbung tinggi, tingkat pendapatan per kapita menurun tajam, serta industri migas Iran yang tersendat. Masalah-masalah tersebut ingin segera dituntaskannya dalam repelita. Maka, beliau mengambil kebijakan untuk melakukan pinjaman kepada pihak luar.

Iran (dalam hal ini Dewan Parlemen) yang memang sangat sensitive dalam masalah yang berkaitan dengan pinjaman luar negeri, menolak adanya program tersebut. Belum lagi adanya tekanan dari anggota parlemen yang masih ‘bernafaskan Khoemini’ dan beraliran keras, perdebatan masalah pinjaman luar negeri tersebut pun disinyalir sebagai bentuk ‘perlawanan’ dan tidak sesuai dengan cita-cita Iran yang menginginkan untuk menghilangkan segala bentuk penindasan dari Barat.

Akhirnya, sekitar bulan Januari 1990, repelita dalam bidang ekonomi yang diajukan Rafsanjani ‘dicabut’ oleh Dewan Perwalian atas pertimbangan dari Dewan Parlemen. Alasannya adalah karena masalah pinjaman luar negeri tersebut tidak sejalan dengan hukum Islam. Padahal, dalam praktiknya, Dewan Perwalian yang terdiri dari 6 orang ulama dan 6 orang ahli hukum tersebut tidak pernah menunjukkan bagian mana dari rencana pemulihan ekonomi Rafsanjani yang bertentangan dengan hukum Islam. (M. Riza Sihbudi, 1991 : 223).

 

EPILOG

Gerak perjuangan Rafsanjani yang sangat revolusioner bagi Iran memang menimbulkan banyak pro dan kontra dikalangan elit politik Iran sendiri. Kalangan yang pro menilai bahwa gagasan reformasi Rafsanjani memiliki prospek yang bagus untuk Iran sendiri. Sedangkan kalangan yang kontra, yang jumlahnya lebih mayor, menilai bahwa gagasan Rafsanjani terlalu ‘kebarat-baratan’ serta tidak sejalan dengan hukum Islam.

Pada kenyataannya, walaupun banyak ‘suara sumbang’ di kalangan elit politik tersebut, Rafsanjani tetap bisa melaksanakan repelitanya dan bahkan sampai dua kali menjabat presiden Iran sebelum akhirnya ‘digulingkan’oleh Ahmadinejad. Prospek repelita yang digagas oleh Rafsanjani sendiri sebetulnya bisa memperbaiki hubungan diplomatiknya dengan Amerika Serikat. Karena, seperti yang kita ketahui, semenjak terjadinya perang antara Iran-Irak, intervensi yang dilakukan pihak Barat (AS) sangat terasa. Hal ini menimbulkan ‘sentimen’ tersendiri di kalangan pemerintah Iran. Walaupun pada kenyataannya, setelah perang usai, rakyat Iran pada umumnya sudah tidak mempermasalahkan ‘sentimen’ terhadap AS tersebut.

Rafsanjani membuktikan pada dunia bahwa Iran bisa menjadi Negara yang kuat selama masa kepemimpinannya. Hal ini, paling tidak tampak pada susunan birokrasi eksekutif Iran yang tidak ‘ganda’ lagi, serta mulai teraturnya struktur pemerintahan di legislative dan yudikatif. Meskipun impian Rafsanjani dalam membangun perekonomian Iran masih ‘tersendat’ tapi sepak terjang beliau untuk menjadikan Iran sebagai Negara yang besar perlu diacungi jempol.

 

 

Sumber :

M. Riza Sihbudi. Bara Timur Tengah. 1991. Bandung : Penerbit Mizan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s