Anything

Esai Tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan : “FENOMENA PENDIDIKAN KARAKTER DI PERGURUAN TINGGI”

Pendidikan di Indonesia sejatinya bersifat sangat dinamis. Perubahan paradigma pendidikan selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Dewasa ini, pendidikan di Indonesia sedang gencar-gencarnya menerapkan paradigma pendidikan yang disebut ‘Pendidikan Karakter’. Mengapa saya memberikan tanda kutip? Karena sejujurnya saya masih belum mengerti makna sebenarnya dari pendidikan karakter yang dicanangkan pemerintah sebagai paradigma baru pendidikan di Indonesia.

Apakah ‘karakter’ yang dimaksud dalam ‘pendidikan karakter’ ini mengacu pada jati diri murid, atau mengacu pada pengajar dan atau pendidik? Masih perlu dipertanyakan alasan paradigma tersebut.

 

PERUBAHAN PARADIGMA PENDIDIKAN INDONESIA

Sebelum penulis mengulas lebih lanjut mengenai pendidikan karakter, ada baiknya penulis memberikan sedikit penjelasan mengenai perubahan paradigma pendidikan Indonesia.

Perubahan paradigma pendidikan dari pengajaran menjadi pembelajaran seiring dengan tujuan dari pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003. Adapun pengertian ‘pendidikan’ dalam UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003 berbeda pengertiannya dari UU Sisdiknas sebelumnya. Pengertian pendidikan yang terdapat dalam UU no. 20 tahun 2003 bab 1, pasal 1, ayat 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya sendiri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Pengertian tersebut mengisyaratkan bahwa proses pembelajaran seharusnya berbasis ‘Student Centre Learning’. (Retno Listyarti, 2012 : 15)

Terkait dengan upaya mewujudkan pendidikan karakter sebagaimana yang diamanatkan dalam RPJPN, sesungguhnya hal yang dimaksud itu sudah tertuang dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (UU Sisdiknas no. 20 tahun 2003)

Dengan demikian, RPJPN dan UU Sisdiknas merupakan landasan yang kokoh untuk melaksanakan secara operasional pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai prioritas program Kementerian Pendidikan Nasioanal 2010-2014, yang dituangkan dalam Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter (2010) : pendidikan karakter disebutkan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan seluruh warga sekolah untuk memberikan putusan baik-buruk, keteladanan, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Atas dasar apa yang telah diungkapkan diatas, perubahan paradigma pendidikan Indonesia dan memunculkan fenomena pendidikan karakter bukan hanya sekedar mengakarkan mana yang benar dan mana yang salah. Lebih dari itu, pendidikan karakter adalah usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation) sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Dengan kata lain, pendidikan kaarkter yang baik harus melibatkan pengetahuan yang baik (moral knowing), perasaan yang baik atau loving good (moral feeling) dan perilaku yang baik (moral action) sehingga terbentuk perwujudan kesatuan perilaku dan sikap hidup peserta didik.

Adapun paradigma pendidikan karakter juga memiliki beberapa hakikat, yaitu :

  1. Pendidikan karakter adalah upaya penanaman nilai dan sikap, bukan pengajaran. Sehingga memerlukan pola pembelajaran fungsional.
  2. Pendidikan karakter menuntut pelaksanaan oleh 3 pihak secara sinergis, yaitu : orang tua, satuan/lembaga pendidikan, dan masyarakat.
  3. Materi dan pola pembelajaran disesuaikan dengan pertumbuhan psikologis peserta didik.
  4. Materi pendidikan karakter berbasis kearifan local.
  5. Materi pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam materi pembelajaran lain

 

FENOMENA PENDIDIKAN KARAKTER DI PERGURUAN TINGGI

Perubahan paradigma yang telah penulis uraikan sebelumnya memberikan sedikit penjelasan mengenai fenomena pendidikan karakter yang sekarang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. Sejauh dari apa yang telah penulis ketahui, fenomena pendidikan karakter sudah berlangsung sekitar 5 tahun lalu. Pendidikan karakter mulai banyak digagas oleh para cendekiawan Indonesia sebagai salah satu cara untuk menanamkan karakter luhur sebagai ‘pembendung’ maraknya kasus amoral (korupsi, seks bebas, dan lainnya) di kalangan masyarakat Indonesia.

Jika dicermarti, fenomena ini sudah pernah dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara, dengan konsep pendidikannya yang disebut among method atau metode among. Menurut beliau, pendidikan harus melingkupi semua elemen yang ada dan tidak mementingkan intelektualitas saja. Revitalisasi pendidikan terwujud dalam olah cipta, karsa, dan karya. Pendidikan juga harus menggambarkan realitas sesungguhnya yang sedang terjadi di masyarakat. Nantinya, proses dehumanisasi ini akan membawa peserta didik menjadi lebih kritis dan memiliki kepedulian yang lebih tinggi dalam menghadapi persoalan di kehidupan sehari-hari.

Kemudian pada masa kontemporer sekarang ini, metode yang pernah dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara kembali ‘diangkat ke permukaaan’. Ranah pendidikan Indonesia tampaknya mulai kesulitan untuk memberikan penanaman jati diri penuh nilai dan moral ke-Indonesiaan kepada peserta didik. Hal ini dapat dimengerti, mengingat para ‘pemimpin’ Indonesia yang seharusnya memberikan teladan yang baik, malah bertindak sebaliknya.

Fenomena pendidikan karakter tidak hanya marak diperbincangkan di kalangan pendidik saja, tapi juga para peserta didik. Bahkan, fenomena pendidikan karakter tidak hanya di Indonesia saja, tapi juga sudah menjalar ke seluruh dunia. Agaknya dunia juga sedang membutuhkan generasi penerus yang memiliki kepribadian yang berkualitas. Sehingga tidak hanya menjadi masyarakat yang tidak hanya mementingkan kepentingan individual semata, tapi juga memikirkan Negara dan kehidupan bermasyarakat luas.

Lalu yang sekarang menjadi pertanyaan adalah, seperti apakah fenomena pendidikan karakter yang terjadi di lingkup perguruan tinggi?

Menjalarnya fenomena pendidikan karakter di Indonesia memang lebih terdengar ‘wow’ di lingkup SD-SMA saja. Hal ini mungkin disebabkan karena peserta didik (mahasiswa) sudah dianggap ‘berkarakter’. Padahal kenyataan di lapangan belum tentu seperti itu.

Pendidikan karakter di perguruan tinggi sebetulnya juga sama ‘wow’ nya dengan pelaksanaan di SD-SMA. Hanya saja memang tidak semua perguruan tinggi memberikan ‘ruang khusus’ untuk implementasi pendidikan karakter bagi mahasiswanya. Akan tetapi, khusus dalam artikel ini, penulis akan memberi contoh nyata mengenai fenomena pendidikan karakter yang terjadi di UNY.

UNY sebagai salah satu perguruan tinggi yang mengedepankan pendidikan sebagai basis yang diberikan kepada mahasiswa-mahasiswanya, menjadikan pendidikan karakter sebagai salah satu ‘alat’ untuk menciptakan generasi emas bangsa Indonesia. Pendidikan karakter sudah menjadi ‘fenomena’ di UNY. ‘fenomena’ yang penulis maksudkan disini terkait dengan ‘ruang khusus’ yang diberikan oleh pihak perguruan tinggi. Ya, pendidikan karakter merupakan salah satu mata kuliah di UNY.

Di program studi pendidikan sejarah sendiri, mata kuliah pendidikan karakter diberikan di semester tiga dengan alokasi 2 sks. Pertanyaannya sekarang adalah, seberapa besar dan pentingnyakah implementasi pendidikan karakter di lingkup perguruan tinggi?

 

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI PERGURUAN TINGGI

Mahasiswa merupakan agent of change bagi bangsa ini. Ujung tombak keberlanjutan hidup Indonesia ada di tangan mahasiswa. Maka tidak heran jika mahasiswa sangat diharapkan eksistensinya untuk menjadi agent yang baik dan mungkin saja, ‘sempurna’.

Pendidikan karakter yang menjadi fenomena paling hangat setelah perubahan paradigma pendidikan di Indonesia tentunya menjadi salah satu cara untuk menanamkan kepribadian itu. Peranan mahasiwa tentunya menjadi tolak ukur berhasil atau tidaknya implementasi pendidikan karakter di perguruan tinggi.

Implementasi pendidikan karakter di perguruan tinggi sebetulnya tidak perlu dijadikan ‘masalah berat’ yang malah akan membuat kerancuan. Seharusnya, mahasiswa bisa dibiarkan berkembang sendiri untuk membentuk karakternya. Perguruan tinggi cukup menjadi fasilitator dalam pengembangan pendidikan karakter bagi mahasiswanya. Contoh yang paling nyata adalah dengan adanya organisasi-organisasi mahasiswa (ormawa). Di ormawa, pendidikan karakter bisa terlaksana dengan baik bahkan tanpa disadari mahasiswa itu sendiri bahwa sebenarnya mereka sedang ‘belajar’ menjadi pribadi yang berkualitas.

Dari uraian sebelumnya mengenai paradigma pendidikan karakter, mahasiswa yang pro aktif ‘belajar’ di ormawa akan mempelajari 18 nilai karakter yang ada, yaitu : religious, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat (komunikatif), cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.

Dari 18 nilai karakter yang disebutkan, tidak perlu repot mencari apa hasil dari implementasi pendidikan karakter bagi mahasiswa yang paling nyata terlihat. Nilai tanggung jawab menjadi nilai yang paling mudah dijadikan tolak ukur keberhasilan pendidikan karakter yang dipelajari mahasiswa. Dengan berkecimpung di ormawa, nilai tanggung jawab akan terbentuk di dalam diri mahasiswa. Sebab, di ormawa akan dituntut profesionalisme dari tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa implementasi pendidikan karakter di lingkup perguruan tinggi harus diserahkan sepenuhnya kepada mahasiswa. Karena mereka telah memiliki dasar kepribadian yang sudah terbentuk sejak SD-SMA. Perguruan tinggi seyogyanya menjadi fasilitator saja dalam ‘mempertajam’ karakter mahasiswanya.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s