Anything

Laporan KKL 1 : Struktur dan Seni Arsitektur Candi Tikus — hak cipta milik kelompok 8 : Risda, Wini, Ardika, dan Rikky.

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Candi Tikus merupakan salah satu hasil kebudayaan luhur peninggalan Kerajaan Majapahit. Candi ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan peninggalan serupa yang tergabung dalam peninggalan kepurbakalaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Keunikan candi ini terletak pada bentuknya. Tidak seperti peninggalan lain yang ada di situs Trowulan, candi Tikus merupakan petirtaan atau pemandian. Candi Tikus dulunya digunakan untuk kolam pemandian bangsawan-bangsawan Majapahit. Selain itu, bangunan candi induk yang berupa miniature candi di tengah kolam juga difungsikan sebagai tempat peribadatan. Khusus dalam laporan ini penulis akan membahas mengenai struktur dan seni arsitektur Candi Tikus. Penulis berharap laporan ini dapat memberikan referensi bagi para pembaca yang ingin mengetahui seluk beluk Candi Tikus.

  1. Kerangka Konseptual

Dalam penyusunan laporan ini, kerangka konseptual yang kami gunakan sebagai dasar rumusan masalah, yaitu :

  1. Bagaimanakah struktur dari Candi Tikus, dilihat dari sisi kaki, tubuh, dan sekeliling candi?
  2. Bagaimanakah bentuk dari seni arsitektur Candi Tikus, termasuk makna dari simbol-simbol yang ada?

 

  1. Tujuan Penulisan

Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam laporan ini, diantaranya :

  1. Mengetahui struktur Candi Tikus.
  2. Mengetahui bentuk seni arsitektur Candi Tikus.

BAB II

PEMBAHASAN

  Candi Tikus terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi tikus merupakan bangunan petirtaan. Karena kita dapat melihat adanya miniatur candi di tengah bangunanya yang melambangkan Gunung Mahameru. Candi Tikus di teukan pada tahun 1914 oleh seorang penduduk. Awalnya serangan hama yang terus menerus melanda daerah tersebut membuat resah para warga kemudian oleh seorang bupati mjokerto yaitu R.A.A Kromodjojo Adinegoro di perintahkan untuk memburu tikus-tikus tersebut maka di lakukanlah penyergapan hama tikus tersebut setelah dlakukan ternyata tikus-tikus itu bersearang di sebuah gundukan lalu R.A.A Mkromodjojo Adinegoro memerintahkan untuk membongkar gundukan tersebut dan di temukanlah sebuah candi yang lalu dinamakan Candi Tikus. (KPRI Purbakala Trowulan, 1998 : 44)

  1. Struktur Candi Tikus

Candi Tikus merupakan salah satu dari kumpulan situs bersejarah yang ada di Trowulan, Mojokerto. Tepatnya, candi ini berlokasi di desa Temon, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Wujud candi Tikus adalah petirtaan berbentuk persegi dengan ukuran 22,5 x 22,5 meter dan luas 5,29 m2. Bagian candi ini terdiri dari miniature candi yang dikelilingi pancuran, kolam utama, dua kolam pemandian, serta dinding candi yang bertingkat-tingkat. Pemugaran candi dilakukan dua kali. Pemugaran pertama pada tahun1984-1985. Kemudian pemugaran yang terakhir tahun 1988-1989. (Anandita Ayudya, 2002 : 187) Gambaran secara umum tentang struktur candi tikus adalah sebagai berikut. Ketika dilakukan pemugaran pada tahun 1984/1985, berhasil disingkap sisi tenggara bangunan candi Tikus. Kaki bangunan yang terdapat di sisi tersebut, menunjukan perbedaan ukuran bata merah yang dipergunakan sebagai bahan bakunya. Hal ini semakin memperkuat dugaan mengenai dua tahap pembangunan candi tersebut. Kaki bangunan tahap pertama yang tersusun dari bata merah yang berukuran besar, tampak ditutup oleh kaki bangunan tahap kedua yang tersusun dari bata merah yang berukuran lebih kecil. Kapan secara pasti pembangunan tahap pertama dan kedua ini dilakukan,belum jelas benar. Adanya tangga yang menurun di sebelah utara, memberi kesan bahwa bangunan candi Tikus ini memang sengaja dibuat dibawah permukaan tanah. Tangga menurun disebelah utara itu, sekaligus merupakan petunjuk bahwa bangunan memiliki arah hadap ke utara. Dua buah kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 x, 2 m dengan kedalaman 1,5 m, mengapit tangga masuk. Masing-masing kolam tersebut dilengkapi dengan tiga buah pancuran air yang berbentuk bunga padma (teratai) dan terbuat dari bahan batu andesit. (KPRI Purbakala Trowulan, 1998 : 44) Struktur candi akan kami bahas mulai dari bagian yang terluar, yakni dinding candi. Kemudian ke bawah menuju pintu masuk petirtaan, kolam pemandian, sampai yang terkahir yaitu miniatur candi. SAM_1975   1)      Dinding Candi Dinding candi Tikus terdiri dari 3 tingkat. Tinggi dinding candi adalah5.20 meter, Bahan bangunan yang di pakai di dominasi oleh batu bata sedng batu andesitnya di gunakan untuk pancurannya. diukur dari dinding terluar atau teratas. Dinding candi yang dibuat berteras atau berundak ini memiliki fungsi untuk menahan tanah di sekitarnya agar tidak longsor. Pada dinding bagian bawah serta batur candi inilah terdapan 46 buah pancuran namun kini tinggal 19 buah saja, sedangkan yang lainnya masih tersimpan di museum Trowulan.  (Ahmad Islamy Jamil, 2012 : 12)   IMGP8733   2)      Pintu Masuk Untuk masuk ke petirtaan ini, ada sebuah pintu masuk berupa tangga yang dimulai dari dinding terluar candi. Anak tangga pertama berjumlah tujuh buah, kemudian terus kebawah jumlahnya bertambah. Orientasi candi Tikus adalah menghadap utara dengan azimut 200.     IMG_5394     3)      Kolam Pemandian Kolam pemandian candi Tikus berjumlah dua buah, yang terletak di sisi kanan dan kiri petirtaan. Kedua kolam itu berukuran sama yaitu panjang 3,5 m, lebar 2 m dan tinggi 1,05 m. Pintu masuk kolam tersebut mempunyai tangga yang terletak di sebelah selatan berukuran 1,2 m. Dinding utara kolam terdapat pancuran masing-masing berjumlah 3 buah.  Kolam pemandian ini mengapit pintu masuk. Di zaman dulu, kolam disebelah kanan digunakan oleh pria, dan yang di sebelah kiri untuk wanita. Kolam pemandian ini berbentuk persegi, dan di kedua kolam terdapat celah sebagai pintu masuk. (Ahmad Islamy Jamil, 2012 : 12)     IMG_20140524_144510

 

4)      Miniatur Candi Bangunan induk petirtaan memiliki miniature candi yang terletak lurus dari pintu masuk. Miniature candi ini sudah bercorak Hindu. Bagian utama dari miniature candi berupa gapura. Gapura ini memiliki hiasan berupa kala makara. Miniature candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaaan. Bangunan induk terletak di tengah, kakinya menempel pada teras bawah dinding selatan. Struktur bangunan induk terdiri dari kaki tubuh atap. Kaki candi berdenah segi empat dengan ukuran panjang 7,75 m, lebar 7,65 m dan tinggi 1,5 meter. Pada bagian kaki ini terdapat saluran air tertutup mengelilingi kaki, lebar 17 cm dan kedalaman 54 cm, berguna untuk memasok air ke pancuran. Tubuh candi berdenah bujur sangkar berukuran 4,8×4,8 m. Di sisi barat, utara dan timur menempel pada bagian luar tubuh candi terdapat menara semu masing-masing berjumlah 5 buah. Keseluruhan bangunan candi Tikus terbuat dari batu bata besar yang kemudian ditimpa dengan batu bata yang lebih kecil. Sebagian dari pancuran ada yang terbuat dari batu andesit. Pasokan air di petirtaan ini diperoleh dari saluran yang ada di bagian selatan dari pegunungan. Sedangkan untuk saluran pembuangannya terdapat di lantai dasar kolam. (Ahmad Islamy Jamil, 2012 : 12)

 

IMG_5403

 

  1. Seni Arsitektur Candi Tikus
  2. Sebagai Perlambang Gunung Mahameru

Menurut Bernet Kempers, (1954 : 210) Arsitektur bangunannya melambangkan kesucian Gunung Mahameru sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru merupakan tempat sumber Tirta Amerta (air kehidupan) yang dipercaya mempunyai kekuatan magis dan dapat memberikan kesejahteraan. Sehingga air yang mengalir di Petirtaan Tikus dianggap bersumber dari Gunung Mahameru. Lebih lanjut lagi, Candi Tikus merupakan replica atau simbolis Gunung Meru. Hal itu terkait dengan konsep religi yang melatarbelakangi candi, disamping itu model bangunan Candi Tikus yang makin ke atas makin mengecil dan pada bangunan induk seakan-akan terdapat puncak utama yang dikelilingi oleh delapan puncak yang lebih kecil. Selain itu, Petirtaan Tikus yang dianggap sebagai replika Gunung Meru yang merupakan gunung suci sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan yang mengharuskan adanya keserasian antara dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Berdasarkan landasan kosmogoni tersebut, maka setiap air yang keluar dari bangunan induk ini dipercaya sebagai air suci (amerta). Dalam konsepsi Hindu, alam semesta ini terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dan semuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. (KPRI Purbakala Trowulan, 1998 : 45) Simbol-simbol semacam itu sebenarnya mempertegas manusia merupakan makhluk yang penuh dengan lambang, baginya realitas lebih dari sekadar tumpukan fakta-fakta. Ada semacam simbiosis-mutualisme antara makhluk hidup dengan alam yang ada di sekitarnya karena pada dasarnya setiap makhluk hidup sangat dipengaruhi lingkungan sekitar yang menghidupi keberadaan dirinya. Konsep semacam ini dapat ditemukan dalam konsep triloka yang dibangun dari kepercayaan agama Hindu-Buddha dengan menempatkan semesta pada dua versi antara jagad gedhe (makrokosmos) dan jagat cilik (mikro-kosmos). Penempatan Candi Tikus sebagai simbol keagungan Gunung Meru, secara tidak langsung telah menisbahkan adanya suatu keterkaitan yang erat antara manusia dengan alam yang ada di sekitarnya. Keyakinan semacam itu sebenarnya tumbuh dari pembacaan awal manusia terhadap gejala alam dengan menggunakan logika dasar. Namun, tidak bisa dinafikan pembacaan semacam itu yang termanefestasikan dalam model bangunan Candi Tikus merupakan salah satu pijakan yang membantu terbentuknya pola pemikiran manusia masyarakat Jawa tradisionalis dan peletak pertama dasar-dasar pemikiran masyarakat Jawa secara general. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para arkeolog, terbukti bahwa bata merah yang berukuran lebih besar berusia lebih tua dibandingkan dengan bata merah yang berukuran lebih kecil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selama masa berdiri dan berfungsinya, candi Tikus pernah mengalami dua tahap pembangunan. Selain itu, menurut Krom,tahap pertama, saluran airnya terbuat dari bata merah dan memperlihatkan bentuknya yang kaku. Sedangkan tahap kedua saluran airnya terbuat dari batu andesit dan memperlihatkan bentuknya yang lebih dinamis serta dibuat pada masa keemasan Majapahit. Ini berarti pula bahwa menurut Krom, candi Tikus telah berdiri sebelum kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasannya, yaitu pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 – 1380). Selain memiliki arsitektur yang cukup unik dengan ornamen pada bangunan induk yang dihiasi pancuran air berbentuk makara dan padma, candi tersebut juga memiliki dua kolam dan saluran-saluran air yang mengandung struktur petirtaan. Adanya pancuran air di Candi Tikus (jaladwara) yang berbentuk makara dan padma, makara merupakan perubahan bentuk tunas-tunas yang keluar dari bonggol teratai, sedangkan padma merupakan teratai itu sendiri.

  1. Sebagai Pengatur Debit Air Majapahit

Dalam sumber yang diterbitkan KPRI Purbakala Trowulan (1998 : 45), Berbeda dengan bangunan candi yang lain, candi tikus letaknya berada di bawah permukaan tanah. Candi ini memiliki banyak pancuran air. Menurut catatan hasil penelitian yang telah dilakukan H. Maclaine Pont pada tahun 1926, setidaknya terdapat 18 buah waduk besar yang diduga kuat dibangun pada masa Majapahit (letaknya kini tersebar diseluruh kabupaten Mojokerto, Jawa Timur). Dari 18 buah waduk besar itu 4 buah diantaranya terletak di daerah Trowulan. Yaitu di Desa Baureno, Kumitir, Domas dan Temon. Waduk-waduk besar ini berfungsi sebagai tempat penampungan air pertama untuk selanjutnya dialirkan ke tempat-tempat lain. Dari ke-empat waduk besar yang terletak di daerah Trowulan, waduk Baureno diduga merupakan sumber dari air yang masuk ke candi Tikus. Untuk selanjutnya air dari candi Tikus ini didistribusikan ka arah kota. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh alm. Didiek Samsu W.T. selama tahun 1986/1987, diketahui bahwa debit air rata-rata dari pancuran-pancuran air cukup besar, dan mampu untuk melakukan distribusi air keseluruh kota. Itulah sebabnya candi tikus mempunyai peranan yang sangat penting pada zamannya. Air candi Tikus juga bisa dijadikan patokan musim kemarau dan musim penghujan.Pada musim kemarau, debit air rata-rata setiap pancuran pancuran lebih kurang 400 kubik. Sedangkan jika lantai dasar candi Tikus mulai tergenang dan pancuran air memancarkan air lebih jauh, dapat diartikan bahwa musim hujan telah menjelang. Ini berarti pula bahwa pada musim hujan debit air di candi Tikus akan naik, sehingga bisa jadi patokan untuk membuka atau menutup pintu air di waduk atau bendungan.

BAB III

PENUTUP

 

  1. Simpulan

Dari apa yang telah penulis uraikan dalam laporan ini, beberapa poin yang dapat dijadikan simpulan, yaitu :

  1. Candi Tikus merupakan salah satu peninggalan bersejarah masa kerajaan Majapahit yang berwujud petirtaan.
  2. Awal nama candi yang berbentuk petirtaan ini bermula dari adanya wabah hama tikus yang menyerang desa setempat. Setelah diadakan penggalian, ternyata tikus-tikus tersebut bersarang disebuah gundukan yang ternyata sebuah candi berwujud petirtaan peninggalan Majapahit.
  3. Candi Tikus juga menjadi symbol keemasan Majapahit saat masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
  4. Bangunan candi ini merupakan miniature dari gunung Mahameru, yang dianggap suci oleh masyarakat Jawa zaman Majapahit. Masyarakat mengangggap air yang ada di Candi Tikus merupakan air suci yang asalnya dari gunung Mahameru.
  5. Keunikan dari candi ini adalah dibuat dari dua macam batubata yang berbeda ukuran dan sangat kokoh.
  6. Menurut para pakar arkeolog, bangunan candi ini dibangun dalam dua tahap, yang pertama menggunakan batubata yang besar dan yang kedua menggunakan batubata yang kecil.
  7. Beberapa teori muncul berkaitan dengan fungsi dan atau kegunaan dari Candi Tikus. Teori yang pertama menyatakan bahwa candi Tikus merupakan tempat pemandian, dilihat dengan adanya pancuran air dan kolam.
  8. Teori yang kedua candi Tikus digunakan sebagai pengatur debit air yang ada di Trowulan, pusat kerajaan Majapahit. Air yang ada di candi Tikus berasal dari 18 waduk besar di sekitar Mojokerto.
  9. Selain itu, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Candi Tikus digunakan sebagai patokan akan datangnya musim kemarau dan penghujan, dari debit airnya.

 

  1. Daftar Pustaka

Ahmad Islamy Jamil. Jelajah : Sisa Kota Kuno Majapahit. Republika.Jakarta : 2012.

I Made Kusumajaya, dkk. Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan. Mojokerto. Koperasi Pegawai Republik Indonesia Purbakala. Mojokerto : 2012.

Tim Kelompok Kerja BPA. Mengenal Majapahit Melalui Peninggalannya di Balai Penyelamatan Arca Trowulan dan Sekitarnya. Koperasi Pegawai Republik Indonesia Purbakala. Mojokerto : 1998.

Anandita Ayudya dan Anastashia RY. 99  Tempat Liburan Akhir Pekan di Pulau Jawa dan Madura. PT. Gramedia. Jakarta : 2002.  (e-book ini diakses pada 2 Juni 2014 pukul 11.45 WIB)

http://tembi.net/bale-dokumentasi-resensi-buku/pemugaran-candi-tikus (diakses pada 2 Juni 2014 pukul 12.30 WIB) http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/07/candi-tikus.html (diakses pada 2 Juni 2014 pukul 12.35 WIB)    

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s