Anything

Integrasi Timor Timur ke Indonesia dan Hubungannya dengan Australia — Tugas Kelompok Mata Kuliah Sejarah Australia-Oceania (copyright by : 8th Group)

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) selain sangat luas, juga memiliki kompleksitas yang tidak sedikit. Dalam hal ini, penulis akan membahas mengenai salah satu wilayah ‘terluar’ NKRI pada masa setelah kemerdekaan, yaitu Timor Timur.

Timor Timur —yang sebelum bergabung dengan Indonesia lebih dikenal dengan Republik Demokratik Timor Leste— adalah sebuah wilayah yang terletak di sebelah utara Australia dan bagian timur pulau Timor. Nantinya, kedekatan dari factor geografis dengan Australia inilah yang juga mewarnai proses penyatuan atau integrasi wilayah Timor Timur kedalam NKRI.

 

  1. Rumusan Masalah

Dalam penyusunan makalah ini, beberapa permasalahan yang penulis ajukan yaitu :

  1. Bagaimana proses penyatuan atau integrasi Timor Timur ke Indonesia?
  2. Apa saja langkah nyata yang dilakukan Australia dalam keterlibatannya atau hubungan dengan Indonesia saat proses integrasi tersebut?

 

  1. Tujuan Penulisan

Beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini diantaranya :

  1. Mengetahui proses integrasi Timor Timur ke Indonesia.
  2. Mengetahui langkah yang diambil Australia dalam keterlibatan atau hubungan dengan Indonesia pada saat integrasi.

 

BAB 2

PEMBAHASAN

 

  1. Proses Penyatuan atau Integrasi Timor Timur ke Indonesia.

Integrasi wilayah Timor Timur ke Indonesia tidak serta merta terjadi begitu saja. Proses yang cukup lama dilalui rakyat Timor Timur yang memiliki kehendak tinggi untuk bersatu dengan Indonesia. Pun hal yang sama dirasakan pemerintah Indonesia dalam rangka membantu tercapainya kehendak rakyat Timor Timur tersebut. Proses penyatuan atau integrasi ini penulis uraikan sebagai berikut :

  1. Proses Pra-Integrasi
  2. Titik awal proses penyatuan integrasi bermula saat Portugis yang menduduki wilayah Timor Timur menerapkan kebijakan dekolonisasi Portugis tahun 1974 pada wilayah koloninya. Sejak saat itu, rakyat Timor Timur mulai mendirikan partai-partai guna merancang kemerdekaannya.
  3. Timor Timur yang mulai banyak mendirikan partai ini kemudian ‘terjebak’ dalam perang saudara karena perbedaan pendapat yang sangat mencolok dan tidak kunjung menemui titik terang. Perbedaan pendapat ini terjadi diantara 3 partai terbesar, yakni Fretilin, UDT, dan Apodeti.
  4. Perang saudara yang melibatkan 3 partai terbesar pada pertengahan 1975 tersebut memunculkan 2 aliansi, Fretilin dengan UDT melawan Apodeti. Akan tetapi, koalisi antara Fretilin dengan UDT ini tidak berlangsung lama, karena pada 27 Mei 1975 UDT mengumumkan keluar dari koalisi.
  5. Alasan UDT keluar dari koalisinya dengan Fretilin disebabkan karena perbedaan paham. Selanjutnya, UDT bergabung dengan Apodeti dan berjuang untuk kemerdekaan Timor Timur dan juga hubungan dengan Indonesia.
  6. Ketakutan akan menyebarnya paham komunis di Timor Timur tidak hanya dicemaskan oleh UDT dan Apodeti, tapi juga Indonesia. Setelah pertemuan beberapa wakil UDT ke Jakarta dengan Letjen Ali Murtopo, diketahui bahwa Fretilin adalah partai komunis. Mengetahui fakta tersebut, Ali Murtopo mewanti-wanti wakil-wakil dari UDT tersebut untuk terus waspada dengan pergerakan Fretilin.
  7. Kemudian, pada tanggal 11 Agustus 1975 UDT melakukan kudeta dan berhasil menguasai titik-titik penting pemerintahan dan memukul mundur Fretilin ke pedalaman. UDT juga melakukan serangkaian demonstrasi anti-komunis. Di lain pihak, setelah dipukul mundur oleh UDT, Fretilin meminta bantuan militer dari Portugal yang juga merupakan anggota NATO. Praktis di kemudiaannya, Fretilin lebih unggul.
  8. Melihat kekuatan Fretilin disokong oleh Portugal, pada 20-27 Agustus 1975, UDT akhirnya bergabung dengan Apodeti untuk melawan serangan Fretilin.
  9. Serangan demi serangan yang dilancarkan Fretilin memaksa para pemimpin dari UDT dan Apodeti untuk mengadakan keputusan demi rakyat Timor Timur yang semakin menderita akibat perang saudara tersebut.
  10. Setelah berunding, akhirnya pada 7 Desember 1975, UDT dan Apodeti mengumumkan proklamasi kemerdekaan di Balibo yang menyatakan bahwa Timor Timur berintegrasi dengan Indonesia.

 

  1. Proses Integrasi
  2. Setelah UDT dan Apodeti, —yang merupakan suara mayoritas rakyat Timor Timur— menyatakan bergabung dengan Indonesia, dibentuklah suatu pemerintahan sementara pada 18 Desember 1975 diatas kapal perang di pelabuhan Dili. Tujuan didirikannya PSTT adalah untuk menjamin terselenggaranya tertib pemerintahan, tertib administrasi, tertib hukum, dan keamanan. PSTT didirikan atas dasar kebulatan tekad rakyat Timor-Timur. (Juli Suroso : hal 71)
  3. Kemudian, Secara serentak proklamasi pembentukan PSTT diumumkan di New York dan di Dili. Teks proklamasi tersebut antara lain disampaikan kepada Presiden RI, Sekretaris Jendral PBB, Dewan Keamanan PBB, dan perwakilan Negara-negara sahabat. Dengan keputusan no. 2/PS/TT/1975, tertanggal 18 September 1975, telah disahkan personalia PSTT, yaitu :
  4. Gubernur                                     : Arnaldo dos Reis Araujo (Apodeti)
  5. Wakil Gubernur                         : Lopez da Cruz (UDT)
  6. Kepala Dewan Pertimbangan : G. Gomsaves (Apodeti)
  7. Kepala Staf Ahli : Ir. Carrascalao (UDT)
  8. Kepala Sekretariat : Jeka (Apodeti)

 

  1. Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh PSTT adalah membentuk majelis rakyat yang mengesahkan petisi gabungan dengan RI. Para pemimpin PSTT menganggap bahwa penyelesaian dekolonisasi akan lebih efektif melalui majelis rakyat daripada referendum. Referendum dengan satu orang satu suara akan banyak menghadapi kesulitan karena kecerdasan rakyat yang rendah, dan komunikasi yang tidak lancar. Sebagai hasil kerja PSTT dan dewan musyawarah Timor Timur adalah lahirnya undang-undang no. 1/AD. 1976 tentang pembentukan dewan-dewan perwakilan rakyat daerah dan dewan perwakilan rakyat wilayah (regional) yang berlaku sejak tanggal 2 April 1976. DPRD akan dibentuk di 13 daerah administrative, sedangkan DPR wilayah (regional) adalah hasil penyempurnaan dari dewan musyawarah. Dalam UU tersebut disebutkan bahwa badan-badan perwakilan tersebut harus selesai pada awal Mei 1976. Setiap DPRD untuk masing-masing daerah administrative terdiri dari 15-20 orang anggota, seimbang dengan jumlah penduduk setempat. Nasib dan masa depan rakyat Timor Timur ada di tangan mereka dan dilaksanakan sesuai prinsip demokrasi. (Juli Suroso : hal 73)

 

  • Proses Pasca-Integrasi

Pasca integrasi, bisa dikatakan pemerintahan Timor Timur cukup stabil. Pembentukan PSTT dan DPR Timor Timur memberikan ruang yang luas bagi rakyat Timor Timur untuk menentukan nasib mereka.

Kemudian, 13 daerah administrative dalam DPR tersebut mengadakan rapat besar di Dili. Rapat besar ini diselenggarakan untuk memahami apa yang sebenarnya dikehendaki oleh rakyat Timor Timur. Adapun hasil dari rapat tersebut adalah dikeluarkannya petisi yang ditujukan pada pemerintah Indonesia, tentang keinginan rakyat Timor Timur untuk bergabung dengan Indonesia. Petisi tersebut disampaikan pada pemerintah Indonesia tanggal 16 Juli 1976.

Sebagai tindak lanjut dari petisi tersebut, dibentuklah delegasi untuk mengetahui secara langsung keinginan rakyat Timor Timur. Berdasarkan laporan ketua delegasi pada sidang cabinet paripurna RI tanggal 29 Juni 1976, telah diketahui bahwa rakyat Timor Timur memang menginginkan untuk bergabung dengan Indonesia. Pemerintah RI kemudian melakukan tindakan untuk mengajukan RUU kepada DPR RI tentang integrasi Timor Timur menjadi propinsi ke-27 Indonesia.

Akhirnya, RUU tersebut disahkan oleh DPR tanggal 17 Juli 1976. RUU tersebut pun berubah menjadi UU no. 7 tahun 1976. MPR juga menetapkan Timor Timur sebagai propinsi ke-27 RI dengan dikeluarkannya TAP MPR no. VI/MPR/1978. Setelah itu, tanggal 3 Agustus 1976 Menteri Dalam Negeri Amir Machmud, di gedung DPRD tingkat 1 Timor Timur melantik gubernur dan wakil gubernur Timor Timur masing-masing Arnaldo dos Reis Araujo dan Fransisco Lopez da Cruz, dan juga pelantikan ketua dan wakil ketua DPRD tingkat 1 Timor Timur masing-masing Guilherme Gom Salvez dan Gaspar Correa da Silva Nunes.

 

  1. Hubungan Indonesia-Australia Pada Masa Integrasi Timor Timur

Indonesia sudah menjalin hubungan dari sejak zaman pra-sejarah dengan Australia. Hal ini disebabkan karena letak geografis kedua Negara yang berdekatan. Hubungan politik luar negeri yang telah terjalin sejak lama ini juga terus berlanjut sampai sekarang, walaupun memang pada kenyataannya sering terjadi pasang-surut.

Pada masa integrasi Timor Timur, hubungan Indonesia-Australia juga tidak bisa dibilang selalu berjalan mulus. Berikut akan penulis uraikan bentuk hubungan politik Indonesia dengan Australia pada masa tersebut, antara lain :

  1. Pada masa kudeta tanggal 20-27 Agustus 1975, program dekolonisasi Timor Timur berantakan karena sejumlah anggota penting dari masing-masing kelompok melarikan diri ke Australia.
  2. Operasi militer pada bulan Oktober 1975 di daerah Balibo menewaskan 5 orang wartawan asing dari Australia. Hal ini menyebabkan kemarahan dari pihak pemerintah Australia, sebab diduga wartawan-wartawan asing tersebut sengaja dibunuh untuk ‘menghilangkan jejak’ operasi militer tersebut agar tidak sampai ke pihak internasional.
  3. Akan tetapi, setelah mengetahui maksud sebenarnya, Australia berbalik kembali mendukung tindakan Indonesia untuk melakukan gerakan infiltrasi di Timor Timur.
  4. Pasca integrasi, tepatnya tahun 1979, pihak Australia mengakui kedaulatan Indonesia atas Timor Timur secara de jure.
  5. Selain itu, pada masa rehabilitasi Timor Timur pasca integrasi, Indonesia mengadakan kerjasama dengan Timor Timur, kerjasama tersebut tertuang dalam Perjanjian Celah Timor yang ditandatangani tahin 1989. Isi perjanjian yakni tentang pemanfaatan bersama minyak/gas alam di Laut Timor pada perbatasan Timor Timur dan Australia.

 

 

 

 

BAB 3

PENUTUP

 

  1. Simpulan

Dari pembahasan yang telah disampaikan dalam makalah ini, beberapa poin yang dapat dijadikan simpulan yakni :

  1. Proses integrasi Timor Timur ke Indonesia melalui proses yang panjang, diantaranya sebelum integrasi, saat integrasi, dan setelah integrasi.
  2. Awal mula proses integrasi ditandai dengan adanya kebijakan dekolonisasi Portugis atas semua jajahannya. Dengan dikeluarkannya kebijakan itu, rakyat Timor Timur memiliki kebebasan untuk membentuk partai politik.
  3. Ada 3 partai terbesar di Timor Timur yang memegang peranan penting dalam proses kemerdekaan dan integrasi, yaitu Fretilin, Apodeti, dan UDT.
  4. Fretilin yang merupakan partai komunis mengakibatkan kekhawatiran tidak hanya bagi UDT dan Apodeti, tapi juga Indonesia. Akhirnya, intervensi berupa operasi militer terpaksa dilakukan setelah kudeta Fretilin yang juga disokong Portugal memakan banyak korban.
  5. Setelah cukup banyak kudeta yang terjadi, rakyat Timor Timur melalui PSTT dan DPR Timor Timur menyatakan keinginnanya untuk bergabung dengan Indonesia melalui petisi yang disampaikan ke Pemerintah RI saat itu.
  6. Pemerintah RI menyambut baik keinginan rakyat Timor Timur tersebut dan menindaklanjutinya dengan mengajukan RUU mengenai integrasi Timor Timur ke Indonesia kepada DPR RI.
  7. RUU tersebut akhirnya disetujui pada 17 Juli 1976 menjadi UU no. 7 tahun 1976. Disusul kemudian dengan ketetapan MPR RI no VI/MPR/1978, maka resmilah Timor Timur menjadi propinsi ke-27 Indonesia.
  8. Selama proses integrasi, hubungan Indonesia-Australia mengalami pasang surut. Selain dikarenakan sikap pertentangan intervensi yang dilakukan Indonesia ke Timor Timur, Australia juga khawatir Timor Timur menjadi basis komunis.
  9. Akan tetapi, hubungan Indonesia-Australia akhirnya kembali membaik setelah diketahui bahwa hanya pihak Fretilin saja yang menginginkan Timor Timur merdeka dan menjadi Negara Komunis. UDT dan Apodeti tetap mengkehendaki bergabung dengan Indonesia.

 

  1. Daftar Pustaka

Juli Suroso. “Dekolonisasi dan Integrasi Timor Timur  kedalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1976”. Skripsi. Yogyakarta : Pendidikan Sejarah.

http://galanghistory.blogspot.com/2012/03/integrasi-timor-timur-dari-1976-sampai.html?m=1 (diakses pada 6 Agustus 2014 pukul 10.45 WIB)

http://kisah-grup.blogspot.com/2011/05/integrasi–timor-timur-ke-republik.html?m=1 (diakses pada 6 Agustus 2014 pukul 11.00 WIB)

http://mrcassanova.blogspot.com/2012/07/integrasi-timor-timur-ke-indonesia.html?m=1 (diakses pada 6 Agustus pukul 11.30 WIB)

http://www.dfat.gov.au/AII/publications/bab11/index.html (diakses pada 6 Agustus 2014 pukul 20.00 WIB)

http://internationalholic.blogspot.com/2012/01/hubungan-indonesia-dengan-australia.html?m=1 (diakses pada 6 Agustus 2014 pukul 20.15 WIB)

Advertisements

2 thoughts on “Integrasi Timor Timur ke Indonesia dan Hubungannya dengan Australia — Tugas Kelompok Mata Kuliah Sejarah Australia-Oceania (copyright by : 8th Group)

  1. Halaman ini sangat membantu kami anak sma sederajat untuk mengetahui bagaimana proses integrasi timor timur
    Terima kasih kak Risda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s