Anything

Peranan Museum Pendidikan Indonesia sebagai Wahana Pembelajaran Mata Kuliah Sejarah Pendidikan (proposal penelitian kualitatif)

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Indonesia kaya akan bermacam aspek kesejarahan. Tidak hanya sejarah mengenai ketatanegaraan saja, akan tetapi juga sejarah pendidikan di Indonesia sendiri. Pendidikan di Indonesia memiliki catatan yang cukup kompleks untuk dikaji, baik dari segi sejarah maupun wahananya. Dalam penelitian ini penulis akan mencoba mengkaji mengenai Peranan Museum Pendidikan Indonesia sebagai Wahana Pembelajaran Mata Kuliah Sejarah Pendidikan.

Museum memiliki peranan yang tidak sedikit sebagai salah satu bentuk penunjang kesejarahan di Indonesia. Dewasa ini, kehadiran museum juga tidak melulu tentang sejarah manusia atau kerajaan, tapi sudah lebih bervariasi. Salah satu museum yang variatif adalah Museum Pendidikan Indonesia (MPI).

Fenomena pendidikan Indonesia yang sangat dinamis inilah yang menjadikan sejarah pendidikan di Indnesia terus berkembang. Kondisi di lapangan 10 tahun lalu tentunya berbeda dengan kondisi di lapangan saat ini. Bagi peneliti, hal ini menarik untuk dikaji. Karena, seperti yang peneliti jelaskan sebelumnya, pendidikan di Indonesia begitu dinamis. Tidak heran blue print pendidikan di Indonesia juga kompleks.

Kenyataan di lapangan, —terutama di lingkup UNY— mata kuliah sejarah pendidikan merupakan mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa. Dari sinilah, peneliti ingin mengembangkan konsep pembelajaran alternative untuk mata kuliah sejarah pendidikan.

Menilik dari situasi, kondisi, dan fakta di lapangan, MPI hadir sebagai alternative lain bagi mereka —khususnya para sejarawan— yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai sejarah pendidikan di Indonesia. Museum ini juga memiliki kekhasan unik yang tidak dimiliki museum pada umumnya.

Salah satu bentuk kekhasan yang dimiliki MPI adalah bangunan gedung yang terletak di area kampus UNY —yang notebene merupakan kampus pendidikan— dengan arsitektur gedung yang memikat. MPI juga memiliki koleksi mengenai sejarah pendidikan yang tidak sedikit. MPI hadir guna memberikan ruang bagi mereka yang ingin mengetahui, mempelajari, dan mendalami lebih jauh mengenai sejarah pendidikan yang ada di Indonesia.

Berangkat dari kenyataan inilah, peneliti akan mencoba meneliti lebih lanjut mengenai peranan MPI sebagai wahana yang dapat menunjang proses pembelajaran mata kuliah sejarah pendidikan. Sudah seyogyanya seorang pendidik tahu mengenai sejarah pendidikan di Indonesia secara mendalam.

Penelitian ini diharapkan dapat membantu dosen dan mahasiswa untuk mempelajari sejarah pendidikan di Indonesia secara langsung, lebih variatif, dan mendalam. Lebih lanjut, peneliti juga berharap hasil penelitian ini dapat menjadikan MPI sebagai wahana belajar sejarah yang lebih menjangkau ke masyarakat luas.

 

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah maupun ruang lingkup permasalahan yang telah dipaparkan diatas, maka masalah yang muncul berdasarkan hasil penjajagan yang telah dilakukan antara lain :

  1. Pendidikan di Indonesia yang bergerak dinamis, membuat sejarah pendidikan Indonesia juga terus berkembang.
  2. Kedinamisan perkembangan pendidikan di Indonesia, menuntut para praktisi pendidikan, dosen, sampai mahasiswa untuk bisa mempelajari secara mendalam mengenai sejarah pendidikan.
  3. Model pembelajaran mata kuliah sejarah pendidikan yang cenderung statis.
  4. Belum optimalnya pemanfaatan Museum Pendidikan Indonesia (MPI) sebagai wahana pembelajaran mata kuliah sejarah pendidikan.

 

  1. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah diuraikan diatas, maka peneliti akan membatasi focus penelitian pada: Peranan Museum Pendidikan Indonesia sebagai Wahana Pembelajaran Mata Kuliah Sejarah Pendidikan.

 

 

 

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah yang telah dipaparkan diatas, rumusan masalah yang peneliti ajukan yaitu :

  1. Bagaimana peranan Museum Pendidikan Indonesia (MPI) sebagai wahana yang bisa mendukung mata kuliah sejarah pendidikan?
  2. Apa saja langkah yang bisa ditempuh dosen, sejarawan, maupun praktisi pendidikan agar bisa mengoptimalkan MPI pada mahasiswa yang mengambil mata kuliah sejarah pendidikan?
  3. Bagaimana hambatan dalam proses menjadikan MPI sebagai wahana pembelajaran yang efektif untuk mata kuliah sejarah pendidikan?

 

  1. Tujuan Penelitian

Secara umum, tujuan penelitian yang ingin dicapai peneliti adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui peranan Museum Pendidikan Indonesia (MPI) sebagai wahana penunjang mata kuliah sejarah pendidikan.
  2. Mengetahui langkah-langkah yang bisa dilakukan dosen, sejarawan, dan atau praktisi pendidikan untuk optimalisasi MPI bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah sejarah pendidikan.
  3. Mengetahui hambatan yang terjadi dalam proses menjadikan MPI sebagai wahana pembelajaran mata kuliah sejarah pendidikan.

 

  1. Manfaat Penelitian

Hasil pelaksanaan penelitian ini akan memberikan manfaat secara langsung bagi peneliti, dosen, universitas, dan lembaga terkait. Manfaat-manfaat tersebut diantaranya :

  1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan pengetahuan baru tentang peranan Museum Pendidikan Indonesia (MPI) sebagai wahana pembelajaran mata kuliah sejarah pendidikan bagi para peneliti, mahasiswa, dosen, serta praktisi pendidikan.
  2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi dosen untuk melakukan variasi atau alternative pembelajaran mata kuliah sejarah pendidikan.

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

 

  1. Kajian Teori
  2. Museum

Museum berasal dari bahasa Yunani kuno, mouseion yang artinya, Kuil atau rumah ibadah tempat menyembah 9 Dewi Muze, Kuil atau tempat-tempat ibadah pemujaan dewi-dewi Muze inilah yang disebut museum. Dengan demikian kata museum pada awalnya berasal dari kata muze kemudian dalam bahasa Yunani menjadi mouseion lalu ditransfer ke dalam bahasa latin dan Inggris menjadi kata museum. Sesuai dengan perkembangannya arti kata “Museum” dalam Ensiklopedia Indonesia jilid ke 4 mengartikan Museum adalah gedung yang dipergunakan sebagai tempat pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian.

Selain itu, dalam pasal 1 ayat 1 PP. No. 19 tahun 1995 dijelaksan bahwa museum dalam kaitannya dengan warisan budaya adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

Menurut International Council of Museum, mengatakan bahwa museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan pendidikan, penelitian dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya.

Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah no. 19 tahun 1995 pasal 1 ayat 1 menerangkan bahwa museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa

Amir Sutaarga (1996 : 1) mengemukakan bahwa museum adalah tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, merawat melestarikan, mengkaji, mengkomunikasikan bukti material hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya.

Dari beberapa pengertian tentang museum diatas dapat disimpulkan bahwa museum adalah suatu lembaga yang berupa bangunan atau tempat yang berfungsi sebagai tempat mengumpulkan, menyimpan, merawat melestarikan, mengkaji, mengkomunikasikan bukti material hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya, yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari (edukasi,rekreasi,dan konservasi).

 

  1. Pendidikan

Dari segi etimologis, pendidikan berasal dari bahasa Yunani paedagogike. Ini adalah kata majemuk yang terdiri dari kata pais yang berarti “anak” dan kata ago  yang berarti “aku membimbing”. Jadi  paedagogike berarti aku membimbing anak. Orang yang pekerjaan membimbing anak dengan maksud membawanya ke tempat belajar, dalam bahasa Yunani disebut paedagogos (Soedomo A. Hadi, 2008: 17). Jadi pendidikan adalah usaha untuk membimbing anak.

Dalam bahasa Inggris, pendidikan (education) berasal dari bahasa Latin, yaitu educare yang berarti memasukkan sesuatu (Hasan Langgulung, 1994 : 4). Hal ini berarti makna pendidikan adalah menanamkan nilai-nilai tertentu ke dalam kepribadian anak didik atau siswa.

Pendidikan seperti yang diungkapkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Definisi pendidikan lainnya yang dikemukakan oleh M. J. Langeveld (Revrisond Baswir dkk, 2003: 108) bahwa:

1) Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan.

2) Pendidikan ialah usaha untuk menolong anak untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya agar dia bisa mandiri, akil-baliq dan bertanggung jawab.

3) Pendidikan adalah usaha agar tercapai penentuan diri secara etis sesuai dengan hati nurani.

Pengertian tersebut bermakna bahwa, pendidikan merupakan kegiatan untuk membimbing anak manusia menuju kedewasaan dan kemandirian. Hal ini dilakukan guna membekali anak untuk menapaki kehidupannya di masa yang akan datang. Jadi dapat dikatakan bahwa, penyelenggaraan pendidikan tidak lepas dari perspektif manusia dan kemanusiaan.

Tilaar (2002: 435) menyatakan bahwa “hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia, yaitu suatu proses yang melihat manusia sebagai suatu keseluruhan di dalam eksistensinya”. Mencermati pernyataan dari Tilaar tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa dalam proses pendidikan, ada proses belajar dan pembelajaran, sehingga dalam pendidikan jelas terjadi proses pembentukan manusia yang lebih manusia. Proses mendidik dan dididik merupakan perbuatan yang bersifat mendasar (fundamental), karena di dalamnya terjadi proses dan perbuatan yang mengubah serta menentukan jalan hidup manusia.

Dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.  Pengertian pendidikan yang tertuang dalam Undang-Undang Sisdiknas tersebut menjelaskan bahwa pendidikan sebagai proses yang di dalamnya seseorang belajar untuk mengetahui, mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya untuk menyesuaikan dengan lingkungan di mana dia hidup.

Hal ini juga sebagaimana yang dinyatakan oleh Muhammad Saroni (2011: 10) bahwa, “pendidikan merupakan suatu proses yang berlangsung dalam kehidupan sebagai upaya untuk menyeimbangkan kondisi dalam diri dengan kondisi luar diri. Proses penyeimbangan ini merupakan bentuk survive yang dilakukan agar diri dapat mengikuti setiap kegiatan yang berlangsung dalam kehidupan.”

Menurut Driyarkara dalam jurnal yang ditulis Ali Muhtadi (2010 : 32) menyatakan bahwa “Pendidikan pada dasarnya adalah usaha untuk memanusiakan manusia”. Pada konteks tersebut pendidikan tidak dapat diartikan secara fisik saja, tetapi juga keseluruhan perkembangan pribadi manusia dalam konteks kelingkungan yang memiliki peradaban.

Sedangkan menurut Yahya Khan (2010 : 1) mengemukakan bahwa “Pendidikan merupakan sebuah proses yang menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, menata, dan mengarahkan”. Pendidikan juga berarti proses pengembangan berbagai macam potensi yang ada dalam diri manusia agar dapat berkembang dengan baik dan bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya.

Beberapa konsep pendidikan yang telah dipaparkan tersebut meskipun terlihat berbeda, namun sebenarnya memiliki kesamaan dimana di dalamnya terdapat kesatuan unsur-unsur yaitu: pendidikan merupakan suatu proses, ada hubungan antara pendidik dan peserta didik, serta memiliki tujuan. Berdasarkan pendapat di atas, dapat ditegaskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi (penyusunan kembali) pengalaman yang bertujuan menambah efisiensi individu dalam interaksinya dengan lingkungan.

 

  1. Pembelajaran

Menurut pendapat Bafadal (2005:11), pembelajaran dapat diartikan sebagai “segala usaha atau proses belajar mengajar dalam rangka terciptanya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien”. Sejalan dengan itu, Jogiyanto (2007:12) juga berpendapat bahwa pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi suatu situasi yang dihadapi dan karakteristik-karakteristik dari perubahan aktivitas tersebut tidak dapat dijelaskan berdasarkan kecenderungan-kecenderungan reaksi asli, kematangan atau perubahan-perubahan sementara.

Pengertian proses pembelajaran antara lain menurut Rooijakkers (1991:114): “Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan belajar mengajar menyangkut kegiatan tenaga pendidik, kegiatan peserta didik, pola dan proses interaksi tenaga pendidik dan peserta didik dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar dalam kerangka keterlaksanaan program pendidikan”   Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Winkel (1991:200) “proses pembelajaran adalah suatu aktivitas psikis atau mental yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap”.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran adalah segala upaya bersama antara guru dan siswa untuk berbagi dan mengolah informasi, dengan harapan pengetahuan yang diberikan bermanfaat dalam diri siswa dan menjadi landasan belajar yang berkelanjutan, serta diharapkan adanya perubahan-perubahan yang lebih baik untuk mencapai suatu peningkatan yang positif yang ditandai dengan perubahan tingkah laku individu demi terciptanya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Sebuah proses pembelajaran yang baik akan membentuk kemampuan intelektual, berfikir kritis dan munculnya kreatifitas serta perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu.

 

  1. Sejarah

Menurut Abdurahman (2007 : 14) sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah yang artinya pohon. Dalam bahasa asing lainnya istilah sejarah disebut histore (Prancis), geschicte (Jerman), histoire / geschiedemis (Belanda) dan history (Inggris).

Sejarah adalah sebuah ilmu yang berusaha menemukan, mengungkapkan, serta memahami nilai dan makna yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa masa lampau (Abdurahman, 2007:14).

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menerangkan bahwa sejarah adalah riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi atau riwayat asal-usul keturunan, terutama raja-raja yang memerintah.

 

  1. Penelitian yang  Relevan

Beberapa penelitian yang relevan diantaranya dari Muhammad Shidqy, Komunikasi Strategis Museum Nasional dari Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro tahun 2010. Dalam penelitian ini dijelaskan mengenai bagaimana cara membentuk atau mengambil langkah yang tepat dalam menciptakan komunikasi strategis dalam rangka meningkatkan jumlah pengunjung Monumen Nasional.

Penelitian yang relevan lainnya yaitu dari Mumpuniarti yang berjudul Optimalisasi Museum Pendidikan Indonesia sebagai Sumber Widya-Wisata di Universitas Negeri Yogyakarta (sebuah sumbangan pemikiran pengembangan) dari program doctoral ilmu pendidikan pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian tersebut mengkaji permasalahan dalam rangka pengoptimalisasian Museum Pendidikan Indonesia sebagai salah satu lembaga penunjang pendidikan berbasis wisata.

 

 

  1. Kerangka Pikir

Kerangka pikir (sering juga disebut sebagai kerangka pemikiran) adalah suatu diagram atau penjelasan secara garis besar alur logika berjalannya sebuah penelitian. Kerangka pikir dibuat berdasarkan pertanyaan penelitian (research question) dan merepresentasikan suatu himpunan dari beberapa konsep serta hubungan diantara konsep-konsep tersebut. (Polancik, 2009).

Museum Pendidikan Indonesia (MPI) bisa dijadikan wahana alternative bagi mahasiswa, dosen, maupun praktisi pendidikan lainnya yang ingin mengetahui lebih dalam tentang sejarah pendidikan. Peranan museum yang selain untuk wisata, juga bisa bermanfaat edukasi jika dimanfaatkan secara maksimal. Dalam konteks ini, MPI tidak hanya bisa menjadi wahana rekreasi, tapi juga edukasi yang bermanfaat lebih, terutama bagi mereka yang tertarik dengan sejarah pendidikan.

Focus utama peneliti adalah mengetahui sejauh mana peranan MPI sebagai wahana pembelajaran mata kuliah sejarah pendidikan bagi dosen, mahasiswa, dan atau praktisi pendidikan lainnya. Disamping itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberi langkah-langkah alternative serta dapat mengetahui hambatan apa saja yang mungkin ditemui dalam optimalisasi peranan MPI.

Penelitian ini akan dimulai dari mempelajari silabi pembelajaran mata kuliah sejarah pendidikan, diktat-diktat kuliah pendukung, serta dokumen yang tersedia di MPI. Hasil pendalaman berbagai macam sumber tersebut nantinya akan peneliti kaji lebih lanjut dengan hasil yang didapat dari sumber data lainnya

Hasil akhir dari penelitian ini diharapkan dapat membantu dosen, mahasiswa, maupun praktisi pendidikan yang tertarik dengan wahana pembelajaran mata kuliah yang unik, alternative, dan juga sekaligus berwisata dengan mengoptimalkan peranan Museum Pendidikan Indonesia ini.

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Museum Pendidikan Indonesia (MPI). Museum ini berlokasi di Jalan Colombo no 1, Karangmalang, Yogyakarta. Lebih mudahnya, MPI berada di kompleks lingkungan Gedung Rektorat UNY. Penelitian dilaksanakan dalam waktu 4 bulan yaitu dari persiapan penelitian sampai dengan penyusunan laporan.

 

  1. Bentuk dan Strategi Penelitian

Berdasarkan masalah yang diajukan dalam penelitian ini, yang lebih menekankan pada masalah proses dan makna (persepsi dan prestasi), maka jenis penelitian dengan starteginya yang terbaik adalah penelitian kualitatif (H.B. Sutopo, 2006 : 40). Bentuk ini akan mampu menangkap berbagai informasi kualitati dengan uraian yang lebih jelas jika dibandingkan dengan berbentuk nominal atau angka.

 

  1. Data dan Sumber Data

Data atau informasi yang paling penting untuk dikumpulkan dan dikaji dalam penelitian ini sebagian besar berupa data kualitatif. Dijelaskan oleh Sutopo bahwa penelitian kualitatif salah satu karakteristik pokok instrument penelitian utamanya adalah human instrument.

Informasi tersebut akan digali dari beragam sumber data, dan jenis sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini meliputi :

  1. Narasumber atau informan, yaitu meliputi dosen pengampu mata kuliah sejarah pendidikan, mahasiswa yang mengambil mata kuliah sejarah pendidikan, serta unit pengelola dari MPI.
  2. Arsip dan dokumen yang terdiri dari silabi pembelajaran mata kuliah sejarah pendidikan, dokumen-dokumen yang terkait dengan MPI, serta buku-buku pegangan (diktat kuliah) mahasiswa.
  3. Tempat, peristiwa, dan kegiatan, yaitu tempat para dosen dan mahasiswa melakukan pembelajaran mata kuliah sejarah pendidikan.

 

  1. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendukung penelitian yang dilakukan, maka perlu teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data agar data yang didapat sesuai dengan yang diinginkan. Adapun teknik-teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara sebagai berikut :

  1. Observasi Lapangan

Teknik ini disebut juga dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemutusan terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh indra. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengamati kondisi kawasan dan lingkungannya, dan potensi-potensu apa saja yang dapat dikembangkan. Serta hal-hal yang berpengaruh dalam upaya mengembangkan peranan Museum Pendidikan Indonesia sebagai wahana alternative pembelajaran mata kuliah sejarah pendidikan.

 

  1. Wawancara

Sugiyono (2009) menyatakan wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar inofrmasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat dikontribusikan makna dalam suatu topic tertentu. Teknik wawancara adalah teknik pengumpulan dara dengan cara menanyakan secara langsung data yang dibutuhkan kepada seseorang yang berwenang. Dalam penelitian ini yang menjadi responden (narasumber) adalah dosen, mahasiswa, serta karyawan / unit pengelola dari MPI.

 

  1. Studi Dokumentasi

Teknik ini merupakan teknik pengumpulan data dengan melihat, membaca, mempelajari, kemudian mencatat data yang ada hubungannya dengan obyek penelitian. Dokumen yang digunakan dapat berbentuk gambar, dan karya-karya dari seseorang (Sugiyono, 2009). Adapun yang menjadi data dokumentasi dalam penelitian ini adalah membaca dan memperlajari dokumen terkait dengan MPI dan silabi mata kuliah sejarah pendidikan.

 

 

  1. Angket/Kuesioner

Teknik ini merupakan pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan (respon) atas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah dosen pengampu mata kuliah sejarah pendidikan, serta mahasiswa yang mengambil mata kuliah sejarah pendidikan.

 

  1. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah analisis interaktif dari Miles dan Huberman (1984 : 23). Model analisis ini menggabungkan tiga komponen yang terdiri dari reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi), aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu proses yang berlanjut, berulang, dan terus menerus sampai membentuk suatu siklus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s