Anything

Assalamualaikum, Beijing. : Sebuah Kisah Pencarian Cinta Sejati yang Menyentuh Hati

Halo, halo! Gue balik lagi nih geng! Akhirnya, setelah beberapa minggu ‘tenggelam’ dengan kesibukan di bulan Ramadhan ini, gue bisa posting something (I really hope) useful for my blog’s visitor. 😉

Kesempatan kali ini gue mau cerita atau mengulas salah satu film bertemakan religi-romantis karya anak bangsa : Assalamualaikum, Beijing. Film ini diangkat dari salah satu novel best seller yang juga milik anak bangsa : Asma Nadia, dengan judul yang sama.

Sebetulnya sih, film ini udah lumayan lama rilisnya. Sekitar akhir 2014 sampai awal-awal tahun ini. Demo ne, gue saking sibuknya baru bisa nonton copy-an film ini. Hehehehe.

download

Film ini dibuka dengan scene yang menurut gue cukup menghentak, yaitu putusnya hubungan asmara antara Dewa (Ibnu Jamil) dengan Asma (Revalina S. Temat) di malam menjelang hari pernikahan mereka. Untuk mengobati sakit hatinya, Asma pergi ke Beijing sebagai salah satu koresponden Indonesia, sekaligus bertemu dengan sahabatnya, Sekar (Laudya Cynthia Bella).

Sekar yang sudah menikah dengan Ridwan (Deddy Mahendra Desta) begitu getol menyemangati Asma untuk move on dan mencari jodohnya di Beijing. Tanpa diduga, ketika hendak meliput keindahan Beijing untuk artikelnya, Asma bertemu dengan Zhong Wen (Morgan Oey). Sikapnya yang ramah dan baik hati, membuat Asma berniat menjadikannya narasumber untuk artikelnya. Lagi, sebagai seorang sahabat, Sekar menyemangati Asma untuk mencari keberadaan pria Beijing itu.

Beberapa hari setelahnya, di kesempatan yang tak terduga, Asma bertemu lagi dengan Zhong Wen. Ia menggantikan posisi guide Asma yang sebelumnya. Dan di kemegahan masjid tertua di Cina, Niujie Mosque, Asma dan Zhong Wen semakin dekat. Walaupun sempat kaget dan kecewa mengetahui pria tampan itu bukan seorang muslim, Asma tetap menghormatinya.

Di sisi lain, artikel-artikel tentang Cina yang ditulis Asma, sampai juga ke tangan Dewa. Tanpa pikir panjang, Dewa yang memang masih mencintai Asma, pergi ke Beijing dengan harapan bisa meluluhkan hati Asma kembali. Walaupun pada awal kedatangan Dewa di Beijing sempat membuat hati Asma goyah, Sekar mengingatkan kembali tentang kepedihannya. Hal tersebut membuat Asma tegak berdiri lagi dan memutuskan bersikap tegas pada Dewa. Menyadari bahwa Asma dan Zhong Wen sedang dekat, Dewa berulah dengan menyindir Zhong Wen yang seorang atheis.

Putus asa dengan sikap acuh tak acuh Asma, Dewa memutuskan kembali ke Indonesia setelah sebelumnya mengirimkan bunga beserta kartu ucapan yang mengatakan bahwa ia akan menunggu Asma dengan sabar di Indonesia. Di saat yang sama, Asma jatuh sakit. Asma divonis dokter menderita penyakit langka, yaitu pengentalan darah (APS Syndrome) primer. Kondisi itu membuat Asma sempat menderita stroke.

Di Beijing, Zhong Wen yang hanya tahu bahwa kepulangan Asma ke Indonesia karena ada urusan keluarga, begitu sedih dan kecewa, karena harus menunda rencananya untuk pergi ke patung Ashima di Yunan bersama Asma. Tanpa ia tahu, Asma sendirilah yang meminta Sekar untuk menyembunyikan fakta bahwa ia sedang sakit pada Zhong Wen.

Ketika Asma sedang berjuang melawan penyakitnya, di Beijing sendiri Zhong Wen sedang mencari pemahaman lebih lanjut mengenai Islam. Hingga pada akhirnya, ia pun memutuskan menjadi mualaf. Asma pun berangsur sembuh, walaupun keadaannya masih belum cukup kuat.

Sekar yang kemudian datang ke Indonesia menjenguk Asma, kembali menyemangati sahabatnya untuk tegar dan berusaha menerima dirinya sendiri. Karena Sekar tahu, bahwa Asma sudah jatuh hati pada Zhong Wen. Saat Sekar, Asma, dan ibunda Asma sedang asyik berbincang mengenai novel yang ditulis Asma, tanpa diduga, istri Dewa datang kerumah Asma bersama bayinya.

Ketika Asma sedang berbincang dengan Anita mengenai Dewa, email dari Zhong Wen masuk. Sekar yang masih membaca novel yang diketik Asma, iseng membuka email tersebut. Dan tanpa Asma tahu, Sekar jugalah yang menjadi dalang dibalik kedatangan Zhong Wen ke Indonesia beberapa hari setelahnya nanti.

Hari yang ditunggu pun tiba. Ridwan menyusul Sekar ke Indonesia, sekaligus juga menjenguk Asma. Sayangnya, ‘kejutan’ yang dipersiapkan Sekar dan Ridwan rusak karena kedatangan tak terduga dari Dewa yang baru mengetahui kalau Asma sakit. Seakan belum cukup atas kedatangan Dewa yang tak diundang, Asma mendapat serangan APS syndrome nya lagi. Bahkan kali ini lebih parah, karena sempat membuatnya buta. Asma pun segera dilarikan ke rumah sakit. Saat di rumah sakit pulalah, Dewa yang juga telah mengetahui keadaan Asma, kemusliman Zhong Wen, dan juga cinta mereka, memutuskan mundur dan kembali pada istrinya, Anita.

Zhong Wen selalu setia menemani Asma disaat-saat kritisnya. Bahkan ketika akhirnya Asma pulih, walaupun harus kehilangan kemampuan berbicaranya. End of the story, they’re getting married. And several months later, they’re finally gone to Yunnan to see Ashima’s statue.

stone-forest-ashima-rock

***********

Aaahhhh… itu tadi sekelumit jalan cerita film Assalamualaikum, Beijing ini. Sekarang, saatnya gue share tentang hal yang buat gue menangis terharu pas nonton film ini. FYI, pertama kali gue nonton ini, kira-kira 4 hari sebelum gue posting tulisan ini. Dan kedua kalinya gue nonton, pas gue nulis ini. Walaupun ga semuanya sih. cuman bagian yang romantic aja dan tentunya, menyentuh banget! Dan lagi-lagi, gue selalu nangis. Call me snivel, and I don’t even care. Cause this movie really makes me sentimental.

Alasan pertama kenapa gue kasih judul “Sebuah Kisah Pencarian Cinta Sejati yang Menyentuh Hati” karena gue tertarik banget sama tag line poster film ini.

“Jika Tak Kau Temukan Cinta, Biar Cinta Menemukanmu”.

Tanpa gue sadari, tag line itu udah menyihir gue. Langsung gue sadar : “iya yaa, emang seharusnya sebagai muslim yang beriman, kita gak perlu maksa buat nemuin cinta. Karena cinta itu udah ada yang ngatur, dalam bentuk jodoh yang diberikan Allah…”

Dan seperti tercermin dalam film ini, Asma yang patah hati karena kandasnya hubungan dengan Dewa, justru menemukan cinta lain yang bisa menerima dia apa adanya. Cinta yang datang tanpa ia sadari, bahkan yang ia tak pernah terpikir sebelumnya. Ya, Asma tak pernah menyangka pertemuannya dengan Zhong Wen, menjadi awal kisah cintanya yang baru.

Alasan kedua, karena film ini juga mengajarkan tentang arti persahabatan. Yup, cause love isn’t always about your crush, but also about another, such as your best friend. Disini kita akan liat, gimana serunya persahabatan antara Asma dengan Sekar yang notebene sangat berbeda karakter. Asma yang cenderung anggun, kalem dan terkadang cenderung pesimistis, bersahabat dengan Sekar yang apa adanya, ceria, kocak, dan sangat bersemangat dalam segala hal. Persahabatan mereka bikin gue envy, karena walaupun Sekar udah menikah, dia tetap bisa memposisikan sebagai sahabat yang baik buat Asma. Bahkan juga membuat suaminya ikut membantu menjaga dan menasihati Asma disaat terpuruknya.

Alasan ketiga, film ini mengajarkan arti ketulusan dan keikhlasan yang sesungguhnya. Tulus dan ikhlas, yang terkadang sulit kita jalani. Terutama untuk kejadian seperti Asma. Menjelang pernikahan, malah baru ketahuan kalau calon suaminya menghamili wanita lain. Berusaha ikhlas, berusaha merelakan, dan berusaha tulus untuk mendoakan kebahagiaan untuk orang lain. Itu yang terkadang lupa, atau sulit kita lakukan. Asma membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menyembuhkan lukanya. Dan disaat luka itu berangsur hilang, ia diterpa cobaan lain : kesehatannya terancam bahaya ketika ia perlahan mulai mencintai Zhong Wen. Sekali lagi, ketulusan dan keikhlasan dalam menghadapi ujian hidup ini membuat kita sadar, bahwa hidup selalu penuh dengan perjuangan.

Alasan keempat, cinta sejati diraih melalui ridho Illahi. Menurut gue, dari semua alasan yang udah gue utarakan tadi, alasan terakhir inilah yang paling sering bikin gue mewek Bombay. 😥 kenapa? Karena gue sadar, cinta sejati itu ada. Tapi untuk mendapatkannya, kita harus menempuhnya dengan ridho dan perintah-Nya. Zhong Wen tentu tidak pernah menyangka, legenda Ashima yang menjadi favoritnya, dan bahkan bukunya yang selalu ia bawa, akan mempertemukannya dengan Ashimanya : Asmara Nadia. Gadis cantik dengan keindahan hati yang luar biasa. Yang kemudian menjadi perantara datangnya hidayah untuk Zhong Wen. Pun begitu pula dengan Asma. Ia tidak pernah menyangka, perbincangannya tentang Tuhan yang berawal dari kunjungan di Niujie Mosque bersama Zhong Wen, membuat hatinya bersemi kembali untuk menyadari adanya cinta baru. Cinta dari seorang pria atheis yang kemudian menjadi mualaf.

Kemurnian cinta mereka bener-bener bikin trenyuh. Zhong Wen yang selalu bisa mengontrol dirinya untuk memperlakukan Asma dengan baik layaknya wanita muslimah lain. Asma yang selalu bisa membuat Zhong Wen kagum karena bisa menjaga dirinya dengan baik, pun ketika harus berhadapan dengan Dewa. Salah satu scene yang bikin gue tersentuh banget itu pas Asma dapet serangan APS syndrome di kedua matanya justru saat Zhong Wen akhirnya bisa menemui Asma lagi sebagai mualaf. Asma yang dibantu Sekar, mendekati Zhong Wen, meletakan tangannya terangkat didepan wajah Zhong Wen, tanpa sedikitpun menyentuhnya, tapi mampu membuat Zhong Wen nyaris menangis. Ya, Asma menjaga kesuciannya sebagai muslimah sejati, yang tidak menyentuh laki-laki yang bukan mahramnya. Walaupun jauh di dasar hatinya, ia merindukan Zhong Wen.

Kesetiaan Zhong Wen saat menemani Asma disaat kritisnya juga bikin mata gue berkaca-kaca. Dengan sabar, Zhong Wen membacakan kisah Ashima untuk Asma yang masih koma. Bahkan, ia solat didalam kamar rawat Asma, berharap Asma cepat sadar. Meski saat Asma sembuh dan kehilangan suaranya, Zhong Wen tetap mencintai Asma dan ingin menikahi Asma. Ia menerima Asma apa adanya.

“Aku juga takut, Asma. Tapi cinta sempurna ada, dan tidak butuh fisik yang sempurna, untuk memiliki kisah cinta yang sempurna. Kamu harus percaya itu. Aku takut. Yang kutakutkan bukan bagaimana hidupku bersamamu, yang kutakutkan, apakah aku bisa menjadi lelaki yang membahagiakan kamu, menuntun kamu ke surga-Nya.”

Huwaaaaa… sumpah demi Sang Maha Cinta, itu ucapan paling tulus, paling menyentuh, dan paling romantis yang pernah gue denger dari semua film (Barat, Asia, dan Indonesia) !!! *sambilmenyekatangis* gak keitung deh, udah berapa lembar tisu yang gue abisin pas nonton film ini. Terutama pas scene itu. Scene ketika Sekar ‘mengobrol’ dengan Asma, berusaha meyakinkan ketulusan cinta Zhong Wen buat Asma, saat tiba-tiba Zhong Wen muncul dan mengambil kertas ‘obrolan’ mereka. Daaaaannnn akhirnya Zhong Wen melamar Asma dengan kalimat yang gak kalah sweet nya! ❤

“Kamu perantara hidayah bagi aku. Karena itu, aku berani meminta kamu untuk menikah dengan aku. Lets slowly grow old together. Ashima cahayaku, bersediakah mendampingiku meniti jalan ke surga-Nya?”

And so, just with one pitching, Zhong Wen knows that Asma will be his ‘Ashima’. Forever. 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Assalamualaikum, Beijing. : Sebuah Kisah Pencarian Cinta Sejati yang Menyentuh Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s