Anything

Resensi dan Ulasan Buku “Srihana-Srihani : Biografi Hartini Sukarno”

Judul Buku                  : Srihana-Srihani Biografi Hartini Sukarno

Penulis                         : Arifin Suryo Nugroho

Tebal Buku                  : 271 halaman

Penerbit                       : Ombak

Kota Terbit                  : Yogyakarta

Tahun Terbit                : 2009

Ir. Soekarno selain dikenal sebagai politikus dan negarawan, juga dikenal sebagai great lover. Bahkan beberapa media menulisnya sebagai don juan, hingga pria cassanova dan playboy sejati. Sepak terjangnya dalam memikat hati wanita setidaknya selalu menjadi topic yang hangat untuk dibahas, bahkan sampai saat ini. Sejarah mencatat, setidaknya ada 9 orang wanita yang pernah resmi berstatus sebagai istri presiden pertama Indonesia ini. Siti Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Kartini Manoppo, Haryati, Yurike Sanger, dan Heldy Djafar.

Buku yang ditulis oleh alumnus Pendidikan Sejarah UNY ini menceritakan sosok salah seorang istri Soekarno, yang menurut John D. Legge, merupakan wanita paling berpengaruh dalam hidup Soekarno selain Sarinah dan Inggit Garnasih, yaitu Siti Suhartini atau lebih dikenal dengan nama Hartini Soekarno. Arifin Suryo Nugroho mengembangkan bukunya dari skripsi yang ia tulis, hingga kemudian menjadi sebuah buku mengenai biografi Hartini Soekarno.

Dalam buku ini, Arifin memaparkan tidak hanya mengenai sosok Hartini sebagai perempuan Jawa yang sangat njawani saja, tetapi juga menggambarkan sosok Ir. Soekarno yang mungkin tidak diketahui masyarakat umum. Soekarno yang lemah lembut, suka dipuji, terlalu cepat percaya kepada orang lain, serta kurang teliti. Dan kemudianlah sosok Hartini yang sangat berperan dalam menutup ‘lubang cela’ Soekarno. Hartini yang seakan menjadi bidadari sempurna bagi hidup Soekarno. Terlebih karena pernikahan Soekarno dengan Hartini sendiri terjadi pada masa-masa krisis politiknya. Setidaknya, kehadiran Hartini dalam hidup Soekarno telah memberikan suntikan energi yang membangkitkan Soekarno dari keterpurukannya.

Buku ini terdiri dari sebelas bab yang menceritakan kehidupan Hartini mulai dari ia kecil sampai ketika ia meninggal. Berikut ini adalah ulasan tiap bab dari buku Srihana-Srihani : Biografi Hartini Soekarno.

BAB 1

PEMBUKA

Pada bab ini sang penulis menceritakan alasannya memilih Hartini dari kedelapan istri Soekarno lainnya untuk diangkat menjadi sebuah buku biografi.

BAB 2

MEMAHAMI SOSOK HARTINI

Bab kedua menceritakan tentang asal-usul Hartini. Dimulai dari tanah kelahirannya di Ponorogo, cerita hidupnya ketika diangkat menjadi anak oleh sahabat ayahnya, ketika ia tinggal di tiga kota, hingga menjelaskan kepribadian Hartini sebagai perempuan Jawa yang lembut, anggun, tapi cerdas dan berwawasan luas.

BAB 3

KEHIDUPAN AWAL

Bab tiga buku ini menceritakan tentang kehidupan Hartini sebagai wanita dewasa yang telah menikah dan menjalani hidup baru. Dalam bab ini juga diceritakan mengenai pernikahan pertama Hartini dengan Suwondo yang mengharuskannya tinggal di Salatiga. Pun termasuk di dalamnya diceritakan mengenai perceraian Hartini dengan Suwondo yang telah memberinya lima orang anak.

BAB 4

PERKENALAN DENGAN SUKARNO

Berakhirnya pernikahan Hartini dengan Suwondo membawa cerita baru ketika Salatiga mendapat peristiwa ‘besar’, yakni kunjungan dari presiden, Ir. Soekarno. Berawal dari jamuan makan siang yang salah satu kokinya adalah Hartini tersebut, Soekarno kemudian berkenalan dengan janda beranak lima yang masih sangat cantik itu. Bab ini juga menceritakan kisah-kasih keduanya yang kemudian berlanjut hingga ke pelaminan.

BAB 5

PERKAWINAN DENGAN SUKARNO

Resmi menjadi istri Soekarno pada 7 Juli 1954, membawa prahara tersendiri bagi Hartini. Selain mendapat reaksi keras dari Fatmawati yang kemudian berakhir dengan keluarnya sang First Lady dari istana, hingga kecaman dari berbagai pihak, terutamnya organisasi perempuan. Hartini bahkan berkali-kali menjadi headline di media massa tidak hanya nasional, tapi juga internasional. Meskipun diterpa kritik dan kecaman, Soekarno tetap mempertahankan Hartini dan juga berusaha keras menjaga perasaan Fatmawati. Maka dari itulah, sejak awal pernikahan Hartini ditempatkan di Istana Bogor, terpisah dengan Fatmawati yang berada di Istana Merdeka. Akan tetapi, usaha Soekarno sepertinya tidak diindahkan Fatmawati, karena pada akhirnya Fatma memutuskan pergi dari istana. Hal tersebutlah yang kemudian semakin memancing emosi public, terutama dari organisasi perempuan, yang menuntut poligami Soekarno diperkarakan. Mereka juga mendukung tindakan yang dilakukan Fatmawati.

BAB 6

MAHKOTA ISTANA BOGOR

Menjalani kehidupan sebagai istri yang dimadu, walaupun oleh seorang pemimpin sekalipun, membentuk kepribadian Hartini menjadi semakin tegar dan kuat. Pernikahan pertamanya dengan Suwondo yang notebene juga merupakan ‘orang penting’ di pemerintahan menjadi bekal awal Hartini untuk menapaki kehidupan sebagai istri Presiden. Bisa dikatakan, walaupun bukan first lady tapi semenjak hengkangnya Fatmawati dari Istana Merdeka, praktis posisi tersebut diisi oleh Hartini. Tidak hanya berperan sebagai pendamping Soekarno dalam berbagai acara kenegaraan saja, Hartini lebih seperti pembantu politik Soekarno dan jembatan penghubung bagi mereka yang ingin menemui sang suami. Satu hal tersebutlah yang tidak bisa dilakukan oleh Fatmawati semasa menjadi istri Soekarno.

BAB 7

DALAM KEMELUT POLITIK

Peristiwa G30S/1965 menjadi titik balik kekuasaan Soekarno. Tapi, tidak banyak yang mengetahui peranan Hartini dibaliknya. Ialah yang menjadi saksi lahirnya Supersemar. Ia juga yang menjadi tumpuan Soekarno disaat menghadapi kebimbangan politik dan nasib bangsa Indonesia. Hartini jugalah yang mengetahui bahwa Jendral Soeharto memanfaatkan Supersemar untuk menggerogoti kekuasaan Soekarno.

BAB 8

TEMAN SETIA SUKARNO

Jatuhnya kekuasaan Soekarno pasca peristiwa G30S/1965 dan pembelokan otoritas Supersemar yang dilakukan Soeharto, menorehkan luka bagi Hartini. Ia yang menahan derita dan sedih karena harus menyaksikan sang suami ‘dilumpuhkan’ perlahan-lahan, tetap setia merawat dan mendampingi Soekarno. Hartini terus bersama dengan Soekarno, pun ketika ia diasingkan oleh pemerintahan Orde Baru.

BAB 9

AKHIR SEBUAH PENGORBANAN

Buruknya perlakuan pemerintahan Orde Baru pada Soekarno berakibat pada menurunnya kondisi kesehatan fisik dan psikis Soekarno. Hingga pada akhir hayat Soekarno, Hartini tetap setia disisinya. Selepas kepergian Soekarno, hubungan Hartini dengan anak-anak Soekarno dari Fatmawati tetap terjalin bahkan semakin akrab. Luka lama akibat kehadiran Hartini pada pernikahan Fatma-Soekarno pun mulai terobati. Anak-anak Soekarno seakan menemukan sosok ibu dalam Hartini. Bahkan, mereka juga mengakui bahwa Hartini merupakan teman yang paling setia mendampingi Soekarno.

BAB 10

MENJADI JANDA SUKARNO

Sepeninggal Soekarno, Hartini berusaha bangkit dan hidup tanpa suami. Hartini berjuang mendapatkan hak-haknya yang sempat ‘dibekukan’ oleh pemerintahan Soeharto. Uluran tangan para sahabat juga membesarkan hati Hartini sehingga ia berhasil menyekolahkan kedua anaknya, Taufan dan Bayu Soekarno Putra sampai perguruan tinggi. Sayang, anak pertamanya, Taufan dipanggi Sang Pencipta dan meninggalkan seorang janda cantik keturunan Sunda-Jepang-Rusia tanpa anak. Beruntung, meski telah ditinggalkan oleh suami dan anak tercinta, hubungan Hartini dengan anak bungsunya, Bayu, sang menantu, Levina, dan juga anak-anak Soekarno dari Fatmawati tetap terjalin dengan baik. Bahkan, mulai dari pemerintahan Gus Dur, semua barang peninggalan Soekarno yang sempat disita, dikembalikan. Levina sang menantulah yang bertanggungjawab sebagai pelacak barang-barang dan inventarisasi semua peninggalan Soekarno. Pada 12 Maret 2002, Hartini menghembuskan nafas terakhirnya. Dan diiringi oleh untaian tangis doa, Hartini akan selalu dikenang sebagai wanita yang setia mendampingi Soekarno dan sekaligus menjadi salah satu saksi penting sejarah bangsa ini.

BAB 11

SEBUAH REFLEKSI

Dalam bab terakhir ini berisi refleksi dari penulis yang secara umum menceritakan garis besar buku biografi Hartini Soekarno ini. Meminjam perkataan penulis di bukunya,

Tetapi bagaimanapun Hartini telah ikut mengisi paruh waktu dalam kehidupan Soekarno. Di samping Soekarno dia menjadi lambing perempuan Jawa yang setia, nrimo, dan penuh bekti terhadap guru laki.

Buku biografi Hartini ini seakan menjadi self-reminder bagi saya untuk bekal kedepannya agar tidak lupa akan kodrat sebagai wanita Jawa.

Itulah ulasan dari bab-bab dalam buku Srihana-Srihani : Biografi Hartini Sukarno karya Arifin Suryo Nugroho ini. Secara keseluruhan, jika dinilai menggunakan skala 1-10, maka saya memberi nilai 6. Hal ini dikarenakan bila ditinjau secara menyeluruh, buku ini lebih membahas masalah Soekarno, terutama saat ia berada di ujung krisis politiknya. Kehidupan Hartini tidak terlalu banyak yang dibahas. Padahal, menurut saya selain Inggit Garnasih, tokoh ibu Hartini-lah yang menarik minat saya. Mungkin penulis buku ini memiliki argumentasinya sendiri terhadap pemilihan topik pada bab-bab buku. Selain aspek pembahasan isi, saya mengapresisasi banyaknya dokumentasi pendukung dalam buku ini. Baik berupa foto-foto lama maupun kopian surat-surat penting. Adanya catatan kaki hampir disetiap halaman juga menambah referensi pembaca. Akan lebih baik lagi jika dokumentasi-dokumentasi pendukung tersebut dicetak berwarna sehingga terkesan lebih ‘hidup’. Juga isi mengenai Hartini lebih diperbanyak porsinya daripada kisah politik Soekarno.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s