Anything

Wanita dalam Pandangan Kitab Negarakertagama

Dalam kitab Negarakertagama terutamanya undang-undang Kutara Manawa, posisi wanita dijelaskan paling tidak dalam beberapa bahasan, yaitu mengenai perkawinan, kedudukan wanita, perceraian, dan pewarisan.

Bahasan pertama, yakni perkawinan disebutkan dalam undang-undang Kutara Manawa tersebut bahwa perkawinan yang ideal adalah perkawinan dalam warna. Perkawinan tersebut adalah perkawinan dengan pihak yang sederajat. Artinya, baik pihak laki-laki maupun wanita harus berada dalam tingkatan atau derajat yang sama. Perkawinan ini juga dilangsungkan dengan izin kedua pihak orangtua, dan menyelenggarakan upacara keagamaan. Sebelum perkawinan disetujui dan dilangsungkan, satu hal yang memegang peranan penting adalah adanya tukon sebagai mahar perkawinan. Wujud tukon ini biasanya bervariasi dari calon mempelai pria. Walaupun dijelaskan perkawinan ideal adalah yang dalam warna, tetap saja terjadi perkawinan yang antar-warna. Hal ini disebut perkawinan pratiloma dan perkawinan anuloma. Bila terjadi perkawinan antar-warna, biasanya terjadi kegoncangan dalam perkawinannya.

Bahasan kedua, mengenai kedudukan wanita dalam undang-undang Kutara Manawa mengatakan bahwa wanita memiliki batasan yang jelas dalam posisinya di keluarga maupun lingkungannya. Wanita digambarkan seolah-olah sebagai konco wingking saja. Pun termasuk tidak boleh ikut campur dalam memilih pasangan hidup untuk anak-anaknya. Sebetulnya, hal yang sama juga terjadi untuk pihak pria atau suami. Dilarang keras untuk bercakap-cakap dengan wanita lain baik yang lajang aau telah bersuami, terlebih di tempat sepi. Mengenai hal-hal yang telah disebutkan diatas, undang-undang Kutara Manawa juga menerapkan sanksi atau denda bagi yang melanggarnya.

Bahasan ketiga, mengenai perceraian dijelaskan tentang dalih atau alasan, denda sampai syarat-syarat perceraian. Baik suami maupun istri dapat menceraikan pasangannya kapanpun selama memenuhi alasan perceraian. Suami berhak menceraikan istrinya dengan alasan apapun, sedangkan pihak istri juga berhak menceraikan suaminya hanya dengan dalih ia tidak lagi mencintai suami. Perceraian dianggap sah jika ada upacara dan juga denda. Selain dengan dalih cinta ataupun hal yang lainnya, undang-undang Kutara Manawa juga menyebutkan alasan perceraian yang disebut pinisah ing hyang. Perceraian tersebut biasanya dialami pihak istri yang ditinggal suaminya dalam waktu lama dan tanpa kabar berita.

Bahasan yang terakhir, perwarisan. Mengenai bahasan yang terakhir ini, tidak ada penjelasan mengenai pembagian warisan untuk wanita. Hal ini mungkin dikarenakan pada zaman tersebut kedudukan wanita lebih rendah dibandingkan laki-laki. Maka dari itu, pada bahasan perwarisan ini hanya ada penjelasan pembagian bagi anak-anaknya, terutama anak laki-laki. Satu-satunya hal yang menyangkut wanita dalam bahasan ini adalah anak-anak yang lahir dari istri tunggal (perkawinan tunggal/monogami) jika anak-anaknya berjumlah banyak, maka saat sang suami atau ayah mereka meninggal, anak laki-laki pertama berhak mengambil warisan dengan jumlah lebih banyak. Baru setelah si anak laki-laki sulung tersebut mengambil warisannya, sisa warisan tersebut baru akan dibagi untuk anak-anak lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s