Anything

Imperium Macedonia

BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Benua Eropa menjadi wilayah yang memiliki sejarah sangat kompleks. Blue print negara-negara di Eropa menjadi kiblat kebudayaan bagi banyak wilayah lain di dunia. Sejarah Eropa juga tidak melulu membahas tentang dua peradaban yang diyakini sejarawan sebagai peradaban tertua di dunia, yaitu kebudayaan Yunani dan Romawi. Eropa memiliki sisi kesejarahan lain yang memikat dan tentunya, menuntut kita untuk berpikir kritis dan bijaksana.

Salah satu hasil dari sejarah Eropa yang sangat beragam ini adalah lahirnya sebuah kerajaan besar yang luas wilayahnya hampir keseluruh dunia. Kerajaan tersebut tidak lain adalah Imperium Macedonia. Kebesaran kerajaan yang dipimpin oleh Alexander The Great (Alexander Agung) ini meliputi Eropa (Yunani), Afrika (Mesir), dan Asia (Mesopotamia, Syria, dan Persia).

Macedonia sendiri memiliki keterkaitan dengan orang-orang Yunani, meskipun tetap memiliki perbedaan.[1] Orang-orang Yunani memiliki pemukiman dan kehidupan mereka di sekitar Laut Aegea, sedangkan Macedonia sendiri telah menetap di daerah pegunungan utara Yunani.

Macedonia adalah imperium yang pertama di Eropa. Imperium Macedonia sendiri merupakan kerajaan yang awalnya dirintis oleh Philip II (Philipus) dengan menaklukan Yunani pada 338 SM. [2] Berdirinya Macedonia sebagai salah satu imperium terkuat sepanjang sejarah, tidaklah memakan waktu singkat.

Setidaknya diperlukan waktu selama dua dekade untuk pembentukan awal imperium oleh Philip II. Macedonia sendiri telah berhasil tampil sebagai kekuatan militer terkemuka di kawasan Mediterania. Hal ini membuat Philip II semakin dihormati. Tidak lama setelah kesuksesannya dalam menaklukan seluruh Yunani dibawah Macedonia, Philip II tewas. Perjuangannya pun kemudian dilanjutkan oleh sang putra, Alexander yang juga memiliki ambisi sebesar sang ayah.

Dalam makalah ini penulis akan menjabarkan mengenai Imperium Macedonia, mulai dari awal berdirinya, masa-masa kejayaan, peradaban atau hasil dari kejayaan yang terangkum dalam budaya Helenistik, hingga melemahnya kekuasaan Macedonia setelah meninggalnya Alexander. Penulis berharap, walaupun makalah ini masih belum sempurna, akan memberi wawasan mengenai sejarah Eropa kuno, khususnya mengenai Imperium Macedonia.

Rumusan Masalah

Dalam penyusunan makalah ini beberapa rumusan masalah yang penulis ajukan diantaranya sebagai berikut :

  1. Bagaimana proses awal pembentukan Imperium Macedonia?
  2. Bagaimanakah kondisi Imperium Macedonia dibawah pemerintahan Alexander?
  3. Apakah yang dimaksud dengan budaya Helenistik?
  4. Bagaimana keadaan Imperium Macedonia setelah Alexander meninggal?

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang ingin penulis capai dalam makalah ini yaitu :

  1. Mengetahui awal terbentuknya Imperium Macedonia.
  2. Mengetahui kondisi Imperium Macedonia masa pemerintahan Alexander.
  3. Mengetahui budaya Helenistik.

Mengetahui keadaan Imperium Macedonia pasca wafatnya Alexander.

[1] Paul Farmer, The European World : A Historical Introduction, (New York : University of Wisconsin, 1951), hlm. 49

[2] Wahjudi Djaja,  Sejarah Eropa dari Eropa Kuno hingga Eropa Modern, ( Yogyakarta : Penerbit  Ombak, 2012), hlm 12

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Awal Terbentuknya Imperium Macedonia

Macedonia berdiri pada pertengahan abad 6 SM. Awal mulanya Macedonia belumlah menjadi sebuah imperium. Ketika pada akhir abad 6 SM ditaklukan oleh Parsi, Macedonia dijadikan pangkalan Parsi untuk berkuasa di Balkan.

Memasuki tahun 459-450 Parsi mulai goyah. Banyak wilayah jajahannya yang mulai melepaskan diri, tidak terkecuali Macedonia. Pada akhirnya, Macedonia pun berhasil melepaskan diri sekitar tahun 400 SM akibat lemahnya kekuasaan Parsi pada daerah kekuasaannya (tribal kings).[1]

Setelah lepas dari kekuasaan Parsi, Macedonia dihadapkan pada salah satu perang terbesar di Yunani, yaitu Perang Peloponesos. Menghadapi perang ini, Macedonia melawan sebagai buktinya menjadi kerajaan yang kuat. Perang Peloponesos menghancurkan begitu banyak pulau-pulau yang menjadi bagian dari wilayah Yunani. Pada akhirnya, perang tersebut justru mengakibatkan kekuasaan Yunani terpecah-pecah dan semakin lemah.[2] Dengan berakhirnya Perang Peloponesos, maka Macedonia muncul sebagai kerajaan baru yang sangat kuat.

Titik balik dari peristiwa tersebut membawa pendiri Macedonia, Raja Philip II (Phillipus) yang berkuasa dari tahun 382-336 SM menjadi pemegang kekuasaan tertinggi yang bahkan cenderung absolut. Meskipun cenderung berkuasa mutlak, tapi perjuangan Philip II tidak sia-sia. Terbukti dengan keberhasilannya dalam memelihara kekuatan militer guna keberlangsungan kekuasaannya, telah membawa militer Macedonia sebagai kekuatan militer yang paling terkemuka di kawasan Mediterania.[3]

Philip II yang juga mendapat pendidikan dari Yunani, mengerti betul situasi dan kondisi pasca Perang Peloponesos. Tidak lama kemudian, Yunani yang masih dibawah bayang-bayang keruntuhan akibat Perang Peloponesos, diserang oleh Philip II. Pada tahun 338 SM perang antara Yunani dengan Macedonia inipun tidak dapat dihindari. Perang yang terjadi di kota Chaeronea tersebut menghentikan adanya sistem polis di Yunani. Penaklukan ini otomatis menjadikan Yunani dibawah kendali Macedonia. Yunani pun harus menandatangani perjanjian Korinthia.

Adapun isi perjanjian tersebut yaitu :

  • Perang antar polis dilarang
  • Pemerintahan polis diizinkan untuk terus berjalan, asalkan berada dibawah Macedonia
  • Dibentuk liga militer antara Macedonia dan Yunani guna melawan Parsi.
  1. Kondisi Imperium Macedonia Masa Pemerintahan Alexander (Tahun 338-323 SM)

Pada jangka waktu dua puluh tahun selama 359-338 SM, raja Philip II telah menguasai seluruh negara Yunani-Eropa sampai terusan Otranto, kecuali Epirus, Sparta, Bizantium, berada dibawah kendalinya.[4] Hal ini menjadikan Macedonia sebagai salah satu kerajaan terkuat di peradaban kuno dunia.

Sayangnya, segera setelah kesuksesan tersebut, Philip II meninggal. Dua tahun setelah perang di Chaeronea, Philip II dibunuh oleh seorang konspirator yang diduga bernama Pausanias ketika menghadiri perayaan pernikahan putrinya.[5]

Pasca wafatnya sang ayah, diangkatlah Alexander sebagai penerus tahta Macedonia. Alexander lahir di Pella, 20 Juli 356 SM dari ibu bernama Olympias dan ayah Philip II. Ibunya yang merupakan ratu Macedonia kala itu berasal dari keluarga keturunan bangsa Epirus. Sedangkan sang ayah keturunan asli Macedonia. Legenda mengatakan bahwa Alexander masih memiliki hubungan darah dengan legenda pahlawan Yunani, Achilles dari pihak sang ibu dan pahlawan Hercules dari pihak ayahnya.

Alexander di didik oleh Aristoteles, yang merupakan salah satu cendekiawan terkemuka Yunani. Dari kecil Alexander telah dibiasakan hidup sebagai penerus tahta sang ayahanda. Maka dari itu, tidaklah mengherankan jika Alexander yang ketika penobatan itu  masih sangat muda, ternyata memiliki kecerdasan yang luar biasa. Pemberani, disiplin, pantang menyerah, cerdas, dan sangat intuitif. Ia dikenal sebagai jendral yang penuh inspirasi dan ahli strategi yang cemerlang.[6] Inteligensi sang raja muda tersebut kemudian membawanya menjadi penakluk militer terkuat, sehingga dijuluki Alexander The Great.

Tidak lama setelah penobatannya, Alexander harus menghadapi perlawanan dari bangsawan Yunani yang ingin merdeka dari Macedonia. Dalam usahanya untuk mengkonsolidasikan kekuatan Macedonia, termasuk juga wilayah yang telah diwariskan sang ayah, Alexander melakukan bermacam cara, diantaranya :

  • Menyingkirkan bangsawan istana yang tidak loyal
  • Memadamkan perlawanan-perlawan polis-polis yang ingin merdeka : Athena dan Thebe
  • Mengamankan wilayah timur Macedonia : Illyria dan Thracia.

Usaha pengkonsolidasian tersebut pun sukses. Tahun 335 SM Athena dan Thebe menyatakan tunduk dan mengakui kekuasaan Alexander. Mereka pun sepakat untuk membantu Macedonia dalam upaya mengadakan invasi ke Persia.

Penaklukan Alexander kemudian terus berjalan. Setelah usaha pengkonsolidasian kekuatan di Macedonia, ia menjalankan strateginya untuk menaklukan Asia Kecil. Peristiwa ini dikenal dengan nama Perang Granicus.

Alexander bersama dengan panglima perangnya : Antigonus, Ptolemy, dan Seleucus mulai melakukan invasi militer pada tahun 334 SM. Memimpin sebanyak 35 ribu pasukan, invasi tersebut diawali dengan menyebrangi Selat Hellespont (Dardanella) untuk memasuki wilayah Asia Kecil. Ketika memasuki wilayah Granicus inilah Alexander bertemu dengan 40 ribu pasukan Persia.

Invasi militer di Granicus tersebut berlanjut hingga tahun 333 SM ketika Alexander berhasil mengalahkan pasukan utama Persia yang kala itu dikomandoi Raja Darius III. Awal peperangan dengan Raja Darius III ini kemudian membawa Alexander kedalam Perang Issus.

Perang yang terjadi di Teluk Issus tersebut membawa kemenangan bagi Alexander karena ia berhasil memukul mundur Raja Darius III. Hal yang cukup mengejutkan, mengingat pasukan Persia telah menaklukan wilayah Mesopotamia, Mesir, Levant, dan Yunani selama kurang lebih dua abad, berhasil ditaklukan oleh Macedonia, yang notebene merupakan kerajaan kecil Eropa yang baru muncul pasca keruntuhan Yunani pada perang Peloponesos.[7]

Penaklukan selanjutnya dilakukan Alexander dengan berusaha memasuki wilayah Nubia. Akan tetapi akhirnya rencana tersebut dibatalkan dan Alexander lebih memilih ke Mesir karena menghindari pasukan gajah Ratu Nubia, Candace Meroe, yang terkenal hebat.

Memasuki wilayah Mesir pada tahun 332 SM, Alexander berhasil menduduki kota Damaskus, Sydon, dan Tyre. Kedatangan Alexander bahkan disambut baik oleh masyarakat Mesir. Hingga kemudian pada tahun 331 SM, Alexander mendirikan kota di Mesir yang sangat terkenal bahkan sampai sekarang : Alexandria atau Iskandariah.

Setelah berhasil menaklukan Mesir dan bahkan mendirikan kota disana, pada akhir tahun 331 SM Alexander meninggalkan Mesir dan bergerak ke wilayah Assyria (Irak). Dalam perjalanannya, ketika memasuki Gaugamela, Alexander kembali bertemu dengan Raja Darius III beserta pasukan Persia yang sempat dipukul mundur saat Perang Issus. Pasukan Alexander kembali dapat mengalahkan Persia dan membuat Raja Darius III melarikan diri ke Arbela, dan terus ke Ecbatana (Hamedan). Pasca perang di Gaugamela ini Alexander kembali meneruskan perjalanannya untuk menaklukan kekuatan utama Persia.

Serangan tersebut difokuskan pada empat hal, yaitu :

  1. Babilonia
  2. Sussa, sebagai kota legendari Babilonia
  3. Persepolis, yang berada di sebelah timur sebagai ibukota Persia, dan
  4. Penaklukan total di seluruh wilayah Asia Tengah.

Alexander berhasil menaklukan kota Sussa pada 331 SM. Persepolis yang merupakan ibukota Persia juga berhasil ditaklukan. Kota tersebut dibakar Alexander sebagai tanda bahwa Persia telah jatuh dan kini berada di bawah pemerintahan Macedonia. Setelah Persepolis, Alexander juga tidak mendapat halangan berarti untuk menaklukan wilayah Asia Tengah. Kandahar, Tajikistan, Sogdiana, Bactria, dan lainnya pun jatuh ke tangan Macedonia.

Keberhasilan Alexander dalam menaklukan kerajaan Persia tersebut tidak lantas membuatnya puas. Terbukti antara tahun 330 SM sampai 324 SM Alexander memimpin pasukannya menyebrangi ke wilayah timur jauh dan memasuki Lembah Indus di sebelah barat laut India hingga melampaui Lembah Gangga di timur laut.[8]

Invasi di wilayah India tersebut dimulai dengan ultimatum Alexander ke beberapa provinsi kerajaan Gandhara untuk menyerah. Alexander juga menaklukan wilayah Taxilla dan membuat penguasanya, Omphis, menyerah. Alexander juga berhasil mengalahkan Raja Punjab Porus dalam pertempuran di Sungai Hydaspes atau Sungai Jellum.

Pasca pertempuran di Hydaspes, Alexander ingin meneruskan penaklukannya hingga Kerajaan Magadha, tapi urung dilakukan karena beberapa panglimanya menolak dan lebih memilih untuk pulang ke Macedonia. Alexander pun menyetujui usulan tersebut.

Selama perjalanan pulang, Alexander dan pasukannya sempat singgah di beberapa tempat yang kini telah menjadi wilayah Macedonia. Pun termasuk ketika singgah di Sussa, Alexander mengadakan pesta kemenangan. Alexander bahkan menikah dengan putri Persia, yang merupakan keturunan Darius III, yaitu Putri Roxane dan Stateira. Panglima-panglima Alexander juga melakukan perkawinan campuran dengan penduduk setempat. Peristiwa ini kemudian menjadi cikal bakal kemajuan budaya Helenis karena perkawinan campuran menghasilkan keturunan baru yang berasal dari darah Eropa (Yunani-Macedonia) dengan darah Asia (Mediterania-Persia).

Ketika Alexander berada di Babilonia dan sedang mempersiapkan penaklukan di Semenanjung Arab, ia jatuh sakit. Kemungkinan tertinggi karena kecerobohannya sendiri terlalu banyak mabuk saat mengadakan pesta yang berlebihan. Selang beberapa hari kemudian, pada 10 Juni 323 SM, Alexander meninggal di usia 33 tahun.[9]

 

 

  1. Budaya Helenistik

Penaklukan Macedonia dibawah Alexander telah membawa begitu banyak perubahan di wilayah yang telah dikuasainya. Perubahan tersebut tidak hanya dari segi militer dan pemerintahan saja, tapi nyaris hingga seluruh aspek kehidupan. Perubahan tersebut dikenal dengan ‘Helenisme’ atau lebih sering dikenal dengan nama Budaya Helenistik.

Terhitung sejak tahun 334 SM, pada waktu Alexander menguasai Dardanes, bukanlah tahun dimulainya perkembangan dan penyebaran peradaban Helenistik.[10] Pada tahun itu, peradaban ini sudah berkembang selama lebih dari empat abad. Budaya Helenistik diawali dengan keruntuhan peradaban Minoa dan Mycenae sekitar abad 12 SM. Tapi baru sekitar abad 17 SM, atau kira-kira tahun 700 SM, budaya Helenistik baru berkembang. Hal ini juga berkaitan dengan invasi Yunani ke Persia hingga secara luas kebudayaan ini menyebar. Adapun skala luas tersebut juga tidak hanya dalam segi wilayah saja, tapi juga ke segi lain termasuk sosial dan etika.

Budaya Helenistik sendiri berasal dari kata ‘helenis’ yang merupakan nama umum baru orang-orang Yunani, yang berarti ‘penduduk kota Hellas’. Sementara ‘Hellas’ sendiri adalah sebuah distrik di Yunani tengah yang mempunyai banyak kuil seperti kuil Artemis di Athena dekat Thermopylae, kuil Dewi Bumi, kuil Apollo, dan kuil Dionysus di Delphi, sebuah tempat pemujaan sekaligus tempat sabda dewa dirundingkan.[11]

Budaya Helenistik era Alexander dengan budaya Helenistik asli Yunani memang tidak sama persis. Ini dikarenakan budaya Helenistik yang baru merupakan kombinasi perluasan dan perpanjangan pemikiran dari Helenistik Yunani dengan tradisi dan pemikiran asli milik bangsa lain, yang dalam hal ini merupakan wilayah yang berhasil ditaklukan Alexander.[12] Secara sederhana, era baru dari Budaya Helenistik yang masih bertahan hingga hampir tiga abad pasca kekuasaan Alexander, adalah campuran dari budaya Yunani, Babilonia (Persia), dan Mesir.

Meski dikenal sebagai orang yang berhasil menyebarkan bahkan hingga membuat budaya Helenistik berada di puncaknya, Alexander mungkin tidak sanggup melakukannya sendiri. Hal tersebut tidak lain karena cikal bakal budaya Helenistik telah dibawa oleh orang-orang Yunani selama kurang lebih empat abad sebelum dimulainya ekspansi Alexander. Orang-orang Yunani tersebut sudah mengunjungi Assyria, dan Mesir sebagai pedagang, mengabdi di Mesir dan Babilonia, hingga menjadi prajurit bayaran kerajaan Persia.[13] Koin uang Yunani pun sudah beredar di pasaran Persia dan bersaing dengan mata uang lokal. Menariknya, orang-orang Yunani tersebut juga sampai menjadi orang buangan hingga sejauh Soghd, wilayah terluar di Sungai Oxus.

Seperti yang telah penulis kemukakan sebelumnya, ketika akhirnya invasi Yunani ke Persia berhasil, dan kerajaan tersebut takluk dibawah pemerintahan Yunani, Yunani sendiri harus memutuskan apakah mereka akan menjadikan dirinya sebagai ras yang berkuasa terhadap populasi yang mereka taklukan atau mereka berniat untuk hidup sederajat dan mungkin mengadakan pernikahan campuran dan hidup berdampingan dengan damai. Akan tetapi, salah seorang filsuf terkenal Yunani, yang juga merupakan guru Aristoteles, mengeluarkan suatu teori yang tidak manusiawi. Ia mengatakan bahwa bangsa Helenis dilahirkan untuk menjadi tuan bagi ras lain dan ras lain dilahirkan untuk menjadi budak mereka.[14]

Bertahun-tahun setelahnya, Alexander yang merupakan murid Aristoteles menolak teori tersebut. Bukti nyata tindakannya tersebut yakni dengan mendukung perkawinan campuran antara orang-orang Macedonia dengan bangsa lain. Pun termasuk dirinya yang menikahi putri Persia, Roxane. Sesaat sebelum kematiannya yang dinilai terlampau cepat, Alexander sudah mulai menanamkan kerangka luhur budaya Helenis ke daerah-daerah yang ditaklukannya.

Namun, apa yang dilakukan Alexander tidak lantas membuat rasioanalisme dalam budaya Helenistik Yunani hilang dalam Helenistik zaman Alexander. Malahan, ilmu pengetahuan menjadi lebih maju dalam periode ini daripada sebelumnya.

Di Alexandria, salah satu pusat utama pemikiran Helenistik, dibangun sebuah perpustakaan dengan koleksi sekitar lima ratus ribu jilid. Sebuah lembaga penelitian yang kemudian dikenal dengan nama, Museum, juga dipertahankan.[15] Beberapa orang terpelajar juga lahir pada masa ini. Bahkan, kontribusinya juga digunakan sampai sekarang. Sebut saja, Euclid yang terkenal dengan teori geometri dan koherensi, Archimedes dalam bidang hidrostatik dan matematika, hingga Eratosthenes yang merupakan seorang ahli geografi.

Naiknya popularitas Budaya Helenistik yang awalnya hanya berasal dari cekungan timur Mediterania, berubah menjadi kursi tunggal peradaban internasional. Di periode sebelumnya, orang-orang Mesir, orang-orang Sumeria, dan para pengganti mereka di Mesopotamia, bangsa Phoenicia, Hebrew, dan Aramea di Levant, bangsa Minoan, dan serta bangsa Yunani di Aegea telah membuat interaksi sosial yang sejajar dan juga memajukan ilmu pengetahuan. Orang-orang tersebut telah melakukan hubungan perniagaan dan juga mempelajari banyak hal antara satu sama lain. Sekitar lima puluh juta orang tinggal di Mediterania. Mereka menempati kota-kota besar pada era Budaya Helenistik, seperti Athena, Alexandria, Antioch. Namun, Helenistik tidak sampai membuat berbagai peradaban bergabung menjadi satu. Periode selanjutnya, bagaimanpun juga, memungkinkan orang-orang untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain, bahkan sampai ke pos-pos terpencil di ujung Mediterania, dan kemudian menyadari bahwa pendatang-pendatang tersebut hanyalah orang aneh yang berbicara dengan bahasa dan berbagi kebudayaan yang sama. [16]

Keberhasilan Alexander dalam menaklukan berbagai wilayah memang telah membuat budaya Helenistik semakin terkenal luas. Akan tetapi, kematiannya yang terlau cepat dan bahkan tidak disangka-sangka oleh musuhnya sekalipun, budaya Helenistik yang sudah diperluas ini jatuh kembali kedalam anarki seperti sebelumnya. Yakni ketika Raja Philip II mendirikian Liga Corinth pada tahun 338 SM.

  1. Keadaan Imperium Macedonia Pasca Wafatnya Alexander (Tahun 323-221 SM)

Jauh sebelum Alexander wafat, Imperium Macedonia telah memiliki dampak yang cukup mengkhawatirkan bagi daerah-daerah taklukannya. Hal ini terutama ketika Alexander mengadakan pesta kemenangan di Sussa. Beberapa orang penting Alexander menganggap bahwa tindakan Alexander bertentangan dengan apa yang seharusnya penakluk lakukan. Kebijakan Alexander untuk tidak menginvasi Sussa mengkhawatirkan terjadinya perpecahan internal. Disamping itu, muncul pula gerakan rantai emas dari Persia. Gerakan itu merupakan gerakan mata-mata terselubung yang dilakukan oleh kaum wanita dengan kedok mendekati petinggi-petinggi Macedonia.

Alexander yang tutup usia di waktu puncaknya telah mengakibatkan Imperium Macedonia terpecah belah. Sang Ratu Imperium Macedonia, Roxane, memang melahirkan seorang putra. Akan tetapi anak tersebut tidak pernah menjadi pewaris tahta Alexander.[17]

Hal yang terjadi ketika wafatnya Alexander justru pengambilalihan kekuasaannya oleh jendral-jendral pasukan Macedonia. Jendral-jendral tersebut tidak lain adalah orang-orang kepercayaan Alexander : Antigonus, Seleucus, Ptolemy, Cassander, dan Lysimachus. Mereka mengambil keuntungan dari kematian Alexander untuk diri mereka sendiri. [18] Antigonus mengambil alih seleuruh wilayah Yunani hingga ke Anatolia. Cassander menjadi penguasa di Macedonia. Ptolemy mengambil wilayah Mesir dan menjadi penguasa baru disana serta mendirikan silsilah dinasti yang baru : Kerajaan Ptolemaic Mesir. Seleucus menduduki Persia hingga ke Mesopotamia. Dan yang terakhir, Lysimachus menduduki wilayah Thracia.

Kematian Alexander dan terpecah belahnya Imperium Macedonia selain mengakibatkan situasi dan kondisi keadaan internal tidak stabil, juga menyebabkan pemberontakan di daerah taklukan di Yunani. Salah satunya yaitu Sparta yang langsung mengangkat senjata untuk bertempur melawan Macedonia.

Seakan belum cukup rawan, pada 321 SM para jendral, panglima, dan perwira pasukan Macedonia mulai berperang satu sama lain. Peristiwa ini dikenal dengan nama “The Diadochi” yang dalam istilah modern bahasa Inggris berarti successor.[19]

The Diadochi ini tidak diketahui pasti penyebabnya. Beberapa sejarawan mengatakan adanya perebutan kekuasaan karena beberapa pihak merasa tidak adil mengenai pembagian wilayah, tetapi ada juga pendapat ahli yang mengatakan bahwa para pengikut setia Alexander masih tetap mendukungnya dengan cara melindungi Ratu Roxane dan putranya. Pengikut setia Alexander inilah yang mengkehendaki bahwa penguasa tertinggi Macedonia harus dikembalikan pada sang pewaris resmi.

Perang antara para pengganti Alexander tersebut berlangsung selama kurang lebih 40 tahun dari 321-281 SM. Usaha-usaha penyatuan yang sebelumnya dirintis oleh Philip II , sama seperti Alexander, juga tidak terselesaikan. Para pewarisnya yang saling bermusuhan membiayai persaingan mereka dengan emas batangan yang telah diminta oleh pemerintah kekaisaran Persia dari penduduknya dan disimpan selama dua abad. Mereka menghambur-hamburkan simpanan tersebut untuk pembayaran terhadap tentara Macedonia yang telah berhasil dihimpun oleh masing-masing pesaing itu dan diperlengkapi dengan senjata yang berasal dari luar Macedonia. Pembayaran terhadap tentara-tentara itu disebarluaskan ke seluruh dunia yang terpengaruh Budaya Helenistik dan mengakibatkan inflasi mata uang yang kemudian menekan upah penduduk yang bekerja dalam sektor industri dan perdagangan.[20]

Perang antara pewaris Alexander ini masih kalah brutal daripada perang yang terjadi di polis-polis Helenistik sebelum perdamaian dipaksakan terhadap mereka pada tahun 338 SM oleh Philip II. Para penduduk polis-polis itu saling berperang dengan disertai kebencian yang mendalam. Para pewaris Alexander didewakan oleh para penduduknya, atau mereka yang mendewakan dirinya sendiri. Akan tetapi mereka tidak menganggap pemujaan tersebut sebagai sesuatu yang serius, dan dalam setiap hal tujuan utama mereka adalah untuk mendapatkan keuntungan.

Polis-polis Yunani yang pada waktu itu secara de facto sudah dalam keadaan yang tidak lagi merdeka, adalah sebuah peti harta dalam peperangan dan sumber kekuatan dari perang tersebut adalah tentara profesional, bukan uang yang dibayarkan kepada para prajurit itu. Oleh karena itu, bukannnya membantai para prajurit yang dikalahkan, para pemenang dalam perang itu mengundang mereka untuk pindah kubu. Bukannya menghancurkan kota, mereka malah ‘membebaskan’ kota-kota itu, yang sebenarnya merupakan eufimisme untuk merampas kendali politik yang sebelumnya dimiliki oleh lawan politik mereka. Tidak ada kota yang dihancurkan oleh tangan Yunani diantara tahun 335 SM, saat Alexander menghancurkan Thebes dan menjualnya penghuninya sebagai budak, dan pada tahun 223 SM, saat Mantinea diperlakukan dengan kekejaman yang sama oleh Antigonus penguasa Macedonia dan sekutu-sekutunya. (Dalam periode yang sama, Akragas dan kota-kota sampai ke arah barat terusan Otranto di Yunani dihancurkan dan penghuninya diperbudak oleh bangsa non Yunani).[21]

Meski begitu, perang antar pewaris Alexander dan perang pewaris setelahnya sampai yang terjadi berulang kali, membuat daerah budaya Helensitik sampai ke timur Terusan Otranto terus menerus mengalami kerusuhan. Bagi mayoritas penduduk daerah yang sebelumnya dikuasai oleh Persia, pergantian kekuasaan dari Persia ke tangan Yunani adalah suatu bencana. Rezim Persia telah memberi kepada mereka suatu ketentraman yang mereka perlukan untuk menyembuhkan diri mereka kembali dari efek bencana yang diakibatkan oleh militerisme Asyria. Bertolak belakang dari kekaisaran Asyria, kekaisaran Persia memberi kekuasaan dan pada waktu setelahnya, yang kemudian keaadan berubah menjadi kebobrokan dan ketidakberaturan. Mesir melepaskan diri, para gubernur propinsi berbentrokan, dan suku-suku dari daerah pegunungan telah menggoyahkan kendali pemerintah kerajaan. Ikatan Persia lebih ringan daripada Yunani yang menggantikannya. Pada masa pasca Alexander, seperti halnya pada masa pra Alexander, perang terjadi di dunia Helenistik sangat kronis karena mereka tidak terselesaikan.

Negara yang paling menderita karena penaklukan-penaklukan yang dilakukan Alexander justru adalah Macedonia itu sendiri. Cara yang dilakukan oleh Philip II untuk menaklukan Yunani adalah dengan cara merekrut pasukan infanteri yang berasal dari kaum petani untuk menambah jumlah kavaleri Macedonia. (Kavaleri itu tetap menjadi pasukan utama Macedonia, tapi belum cukup banyak untuk bisa mengalahkan dan menguasai daerah kekuasaannya tanpa kerjasama dari formasi petani yang kuat). Pada saat Alexander menginvasi kekaisaran Persia, dia harus meninggalkan sebagian dari tentaranya di Eropa untuk mengendalikan daerah Selatan Yunani yang dikuasainya dan menahan serangan orang barbar dari Utara. Macedonia telah kehabisan persediaan sumber daya manusianya untuk memenuhi jumlah pasukan yang diinginkan Alexander. Setelah itu, masing-masing oewwaris mendapat paling tidak sepasukan pengawal yang berasal dari tentara Macedonia untuk menjaga bagian daerah kekuasaan yang diwarisinya dari kerajaan Alexander dan Philip. Pada tahun 280-279 SM, segera setelah perang para pewaris Alexander berakhir daerah-daerah Macedonia ditempati oleh orang Kelt yang datang dari lembah sungai Danube. Pada saat harus menghadapi kedatangan inilah, Macedonia menyadari bahwa pasukannya tidak cukup, padahal mereka masih harus menghadapi dua kubu, melawan bangsa barbar dari Utara yang sudah berada bergerak menghadang Yunani Selatan yang telah melarikan diri dari kekuasaan Macedonia dan berniat melawannya.

Lawan Macedonia yang paling berhasil adalah Konfederasi Aetolia.[22] Satu-satunya negara Yunani pemberontak yang belum pernah menyerah kepada Macedonia pada tahun 332 SM. Kira-kira tahun 300 SM, bangsa Aetolia menetapkan kekuasaan politik terhadap Delphi, tempat suci bangsa Yunani yang tetap mempertahankan arti pentingnya sebelum masa Alexander. Secara progresif Aetolia bekerjasama dengan daerah utara dan timurnya. Pada tahun 235 SM, Aetolia memperluas daerah kekuasaannya melewati ke seluruh Yunani. Dataran dari satu pantai ke pantai yang lainnya. Pada tahun 226 SM , pada masa puncak ekspansinya yang singkat, daerahnya mencapai perbatasan selatan Macedonia. Dengan pemikira politik yang luas seperti bangsa Romawi, bangsa Aetolia memberi hak kewarganegaraan yang penuh bagi yang mau bekerjasama dengannya.

Sepanjang pesisir teluk Corinth, konfederasi Achea juga mulai memperluas daerahnya pada tahun 251 SM , tetapi masih kalah dari bangsa Aetolia dan bukanlah tandingan dari kekuatan militer Aetolia. Lagipula, konfederasi Achea mempunyai lawan yang tangguh di Sparta, suatu kekuatan Pelopenia yang lebih tua yang pantang menyerah, dan tidak pernah melindungi kekuasaan bangsa Thebe pada tahun 369 SM dan daerah teritori lain lagi dari Philip II pada tahun 338 SM.

Dua negara pengganti kekaisaran Persia yang penting didirikan oleh dua perwira Alexander, yaitu Ptolemy dan Seleucus. Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa Ptolemy yang mendapat wilayah Mesir, menjadikannya memiliki daerah lebih luas dari Seleucus yang menguasai bekas kekaisaran Persia. Meskipun begitu, wilayah Seleucus lebih penting yang berdampak pada riskannya terjadi penolakan bangsa pribumi terhadap pendudukan Seleucus. Di barat laut Asia kecil, yang masih masuk wilayah Seleucus, Bithynia menerapkan kemerdekaannya dibawah dinasti pribumi : Pontic dan pedalaman Cappadocia dan Media utara (Atropene; Azerbaijan) memastikan diri mereka dibawah dinasti bangsa Iran.[23] Pada tahun 302 SM, Seleucus harus menyerahkan pinggiran timur Iran kepada pendiri kekaisaran India, Chandragupta Maurya, yang pada tahun 322 SM lebih berhasil dari negara Yunani Selatan. Chandragupta telah berhasil mengusir pasukan Macedonia yang ditempatkan dilembah sungai Indus, kemudian memperluas kerajaannya di lembah sungai Gangga-Jamuna.

Kekaisaran Seleucus sudah terlalu tercerai-berai untuk bisa disatukan lagi. Pada perang pergantian terakhir pada 281 SM, Seleucus merupakan pemenang dalam hal jumlah; dia telah melewati bangsa Dardanele dan sedang menuju Macedonia pada saat dia dibunuh. Akan tetapi pemenang sebenarnya dari perebutan daerah ini adalah para imigran Kelt yang menempatkan diri mereka di Asia kecil dan menyebar jauh selama setengah abad setelahnya, saat mereka dihambat oleh harta yang telah ditemukan tahun 281 SM di Pergamon di barat Asia kecil oleh pemburu harta yang juga telah mengambil bagian mereka. Harta tersebut tidak lain adalah milik bangsa Persia yang telah disimpan dalam sebuah benteng. Kira-kira setengah perjalanan abad ketiga, perluasan daerah kekuasaan Seleucus berkurang secara drastis karena penggantian gubernur daerah Yunani di propinsi lembah sungai Oxus Javartes dan oleh penduduk bangsa Partia, propinsi terdekat ke arah barat, oleh bangsa Parni, pengembara pastoral yang saat ini disebut Turkmenistan.

Keadaan yang tanpa penyelesaian adalah hal yang paling buruk dalam perang mewabah warisan Alexander yang diabaikan sepanjang tahun 321-221 SM. Bangsa Macedonia tak mampu untuk menaklukan kembali Yunani Selatan, akan tetapi Yunani Selatan tidak mampu melepaskan kekuasaan Macedonia terhadap tiga rantai bangsa Yunani : Demetrias, Chalcis, dan Akropolis di Corinth. Bangsa Achaea membebaskan Corinth dari Macedonia tahun 243 SM, tetapi kembali kehilangan pada 225 SM, sebagai akibat dari interfensi militer Macedonia atas kepentingan Sparta dan konfederasi Achea. Pada tahun 222 SM bangsa Achaea dan Macedonia mengalahkan Sparta, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, Sparta dikuasai oleh kekuatan asing. Akan tetapi Sparta dapat bangkit dan memperoleh kemerdekaannya kembali serta terus diperhitungkan kekuatan militernya. Sementara itu, komando angkatan laut kepulauan Achea telah direbut dari tangan Demetrius Poliocetes oleh Ptolemy II dan kemudian direbut oleh bangsa Macedonia sebagai hasil dari kemenangan angkatan laut Macedonia diluar Cos. Pada tahun 257 dan diluar Andros pada tahun 246 SM. Pada tahun 221 SM, perang keempat untuk memperoleh Asyria antara kekaisaran Ptolemy dan Seleucus meninggalkan daerah yang diperebutkan ini di tangan kekaisaran Ptolemy.

[1] Paul Farmer, The European World : A Historical Introduction, (New York : University of Wisconsin, 1951), hlm. 50

[2] Wahjudi Djaja, Op.Cit.  Hal  22

[3] Paul Farmer, Op.Cit, hal. 50.

[4] Arnold Toynbee, Sejarah Umat Manusia :Uraian Analitis, Kritis, Naratif, dan Komparatif, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 267

[5] James Henry Robinson dan James Henry Breasted, History of Europe : Ancient and Medieval, (USA : Cornell University, 1914), hlm. 171.

[6] Penny Clarke, Sejarah Singkat : Kilasan Tokoh dan Peristiwa Penting yang Mengubah Wajah Dunia, (Yogyakarta : Golden Books, 2008), hlm. 36.

[7] Paul Farmer, The European World : A Historical Introduction. (New York : University of Wisconsin, 1951), hlm. 52.

[8] Ibid, hlm. 52.

[9] James Henry Robinson dan James Henry Breasted,  History of Europe : Ancient and Medieval, (USA : Cornell University, 1914), hlm. 177.

[10] Arnold Toynbee, Sejarah Umat Manusia :Uraian Analitis, Kritis, Naratif, dan Komparatif, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004),  hlm. 273.

[11] Ibid, hlm. 233.

[12] Paul Farmer, The European World : A Historical Introduction. (New York : University of Wisconsin, 1951) Hal. 53.

[13] Arnold Toynbee, Op.cit, hlm. 273.

[14] Ibid, hlm. 274.

[15] Paul Farmer, Op.cit, hlm. 53.

[16] Ibid, hlm. 54.

[17] Ibid, hlm. 52.

[18] Ibid, hlm. 52.

[19] Easton, Stewart C, The Heritage of the Past: From the Earliest Times to the Close of the Middle Age, (New York : The City College, 1963), hlm  283.

 

[20] Arnold Toynbee,  Sejarah Umat Manusia :Uraian Analitis, Kritis, Naratif, dan Komparatif, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 268.

[21] Ibid, hlm. 269.

[22] James Henry Robinson dan James Henry Breasted, History of Europe : Ancient and Medieval, (USA : Cornell University, 1914), hlm. 171.

[23] Arnold Toynbee, Op.cit, hlm. 271.

 

BAB III

PENUTUP

  Simpulan

Imperium Macedonia adalah sebuah kerajaan besar di Eropa yang luas wilayahnya hampir ke seluruh dunia, dikarenakan ambisi dari sang pemimpin yang menginginkan wilayah taklukan hingga di seluruh dunia. Wilayah yang ditaklukannya meliputi, Yunani, Mesir, dan Asia Tengah. Imperium Macedonia dirintis oleh Raja Philip II dengan penaklukannya di Yunani pada 338 M. Keberadaan Imperium Macedonia memakan waktu selama dua dekade untuk pembentukan awal imperium oleh Philip II. Sayangnya, segera setelah kesuksesan tersebut, Philip II meninggal (359-338 SM). Ia dibunuh oleh seorang konspirator yang diduga bernama Pausanias ketika menghadiri perayaan pernikahan putrinya. Namun tidak lama, pasca kepemimpinan Philip II, tampuk kekuasaan Imperium Macedonia beralih kepada Alexander. Ia adalah putera lelaki Philip II dengan ibu bernama Olympias.

Masa kepemimpinan Alexander tidaklah jauh berbeda dengan sang ayah. Ambisi penaklukan wilayah baru dilanjutkan kembali, seakan warisan sang ayah menjadi tugasnya untuk kejayaan Imperium Macedonia. Peran seorang fisuf Eropa yang tersohor juga terlibat, yaitu Aristoteles. Dia adalah guru Alexander yang memberikan banyak pengetahuan untuk menjadi bekalnya menjadi seorang pemimpin. Alexander dilantik menjadi raja di Imperium Macedonia ketika usianya masih muda. Akan tetapi, diusia mudanya ia sudah memiliki kecerdasan yang luar biasa. Pemberani, disiplin, pantang menyerah, cerdas, dan sangat intuitif. Ia dikenal sebagai jendral yang penuh inspirasi dan ahli strategi. Gelar Alexander The Great menjadi salah satu prestige tersendiri ketika masa kekuasaannya.

Pada tahun 331 SM, Alexander berhasil menaklukan Mesir bersama para panglima perangnya. Kemudian ia meneruskan perjalanan hingga dapat menaklukan kota Sussa, Persepolis, dan juga kota-kota di Asia Tengah. Antara tahun 330 SM sampai 324 SM Alexander memimpin pasukannya menyebrangi ke wilayah timur jauh dan memasuki Lembah Indus di sebelah barat laut India hingga melampaui Lembah Gangga. Selain prestasinya dalam hal penaklukan wilayah-wilayah di luar Eropa, masa kepemimpinan Alexander menjadi tonggak lahirnya budaya Helenistik yang menjadi budaya bangsa Eropa. Awal penyebab munculnya budaya Helenistik dikarenakan perkawinan campuran menghasilkan keturunan baru yang berasal dari darah Eropa (Yunani-Macedonia) dengan darah Asia (Mediterania-Persia). Pada saat itu terjadi ketika Alexander dan prajurit singgah di kota Sussa.

Era baru dari Budaya Helenistik yang masih bertahan hingga hampir tiga abad pasca kekuasaan Alexander, adalah campuran dari budaya Yunani, Babilonia (Persia), dan Mesir. Naiknya popularitas Budaya Helenistik yang awalnya hanya berasal dari kawasan timur Mediterania, berubah menjadi kursi tunggal peradaban internasional. Lahirnya budaya Helenistik menjadi tonggak utama pula dalam perkembangan peradaban dunia, mulai dari munculnya karya sastra baru, hasil kesenian, corak bangunan, hingga pemikiran baru.

Pasca kepemimpinan Alexander yang Agung, Imperium Macedonia mulai goyah karena persoalan intern yang terkait pengambialalihan kekuasaan oleh kekuasaan jendarl-jendral pasukan Macedonia. Penyebab dari konflik internal, beberapa wilayah taklukan melepaskan diri. Kejayaan Macedonia pun mulai runtuh dari dalam, dan menjadi kesempatan emas bagi Negara luar untuk menguasai Macedonia. Keadaan yang tanpa penyelesaian itulah yang paling buruk dalam perang mewabah warisan Alexander yang diabaikan sepanjang tahun 321-221 SM.

 Daftar Pustaka

Adams, Simons. 2007. Ensiklopedi Sejarah Dunia. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Clarke, Penny. 2008. Sejarah Singkat : Kilasan Tokoh dan Peristiwa Penting yang Mengubah Wajah Dunia. Yogyakarta : Golden Books.

Easton, Stewart C. 1963. The Heritage of the Past : From the Earliest Times to the Close of the Middle Ages. New York : The City College.

Farmer, Paul. 1951. The European World : A Historical Introduction. New York : University of Wisconsin.

Hayes, Carlton JH. 1956. History of Europe. New York : The Macmilaan General Company.

Robinson, James Harvey dan James Henry Breasted. 1914. History pf Europe : Ancient and Medieval. USA : Cornell University.

Toynbee, Arnold. 2004. Sejarah Umat Manusia : Uraian Analitis, Kronologis, Naratif, dan Komparatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Wahjudi Djaja. 2012. Sejarah Eropa dari Eropa Kuno hingga Eropa Modern. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

www.ducksters.com/biography/alexander_the_great.php (diakses pada 27 Desember 2015 pukul 19.00 WIB)

www.ushistory.org/civ/5g.asp (diakses pada 27 Desember 2015 pukul 20.00 WIB).

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s