Anything

Contoh Proposal Skripsi Sejarah Metode Historis : Sejarah Indonesia Masa Pergerakan Nasional

Perkembangan GAPI dalam Masa Pergerakan Nasional Indonesia (1939-1943)

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Masa penjajahan Belanda yang tidak singkat melahirkan beberapa fase penting dalam blue print bangsa Indonesia. Salah satu fase penting tersebut adalah masuknya zaman pergerakan nasional yang dipelopori oleh para cendekiawan Indonesia. Pergerakan nasional menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah bangsa ini. Lahirnya sejarah pergerakan nasional sendiri berasal dari kebijakan politik etis yang juga bagian dari kolonialisme Belanda.

Politik Etis merupakan kebijakan yang berawal dari rasa ‘hutang budi’ pemerintah kolonial Belanda terhadap Indonesia, khususnya karena telah mengisi kembali kekosongan kas negara Belanda akibat kerugian dari Perang Diponegoro dan Perang Kemerdekaan Belgia. Dengan demikian, Van Deventer dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Een Eereschuld”atau “Hutang Kehormatan” mengatakan bahwa orang Indonesia telah berjasa membantu pemerintah Belanda memulihkan keuangannya meskipun dengan penuh pengertian. Oleh karena itu sudah sewajarnyalah bila kebaikan budi orang Indonesia itu dibayar kembali.[1]

Keberhasilan Van Deventer meyakinkan pemerintah Belanda untuk melaksanakan politik etis yang terdiri dari 3 program (irigasi, migrasi, dan edukasi) ini sedikit demi sedikit telah membawa perubahan kearah perbaikan nasib dan usaha untuk melepaskan diri dari penjajahan. Memang tidak dapat dihindari bahwa kaum moderat Belanda itu sendiri juga sebenarnya merupakan para kapitalis yang menginginkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan meningkatkan daya beli dan kesejahteraan penduduk Indonesia. Lahirnya organisasi pergerakan nasional merupakan tanda dan dorongan berakhirnya kebijakan politik etis Belanda.

Gabungan Politik Indonesia[2] menjadi salah satu organisasi pergerakan nasional yang lahir untuk memperjuangkan kebebasan Indonesia.  Pergerakan nasional sendiri menjadi fenomena historis yang merupakan hasil dari perkembangan faktor ekonomi, sosial, politik, kultural, dan religius dan diantara faktor-faktor itu saling terjadi interelasi. Kata “pergerakan” sendiri merupakan cakupan semua macam aksi yang dilakukan dengan organisasi modern kearah kemerdekaan Indonesia. Seperti disinggung diatas bahwa aksi itu tidak terbatas pada aksi politik saja, tetapi juga menyangkut aksi lainnya. Secara spasial aksi itu tidak hanya terbatas di Jawa saja tetapi juga meliputi aksi-aksi yang terjadi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan kepulauan Indonesia lainnya.[3]  Aksi-aksi tersebut memiliki satu tujuan akhir yang sama, kebebasan Indonesia dari tangan penjajah. Maka dari itulah, seperti organisasi pergerakan lainnya, GAPI mempunyai identifikasi dan motivasi tersendiri. Dengan demikian GAPI juga mempunyai ciri khas tersendiri dari organisasi pergerakan nasional lainnya.

Bisa dikatakan bahwa GAPI berdiri ditengah situasi dan kondisi politik Indonesia yang cukup rumit. Tahun 1930-1943 merupakan masa-masa penting dalam pergerakan nasional Indonesia. Pergolakan antara tokoh-tokoh pergerakan Indonesia dengan pemerintah kolonial Belanda makin nyata terlihat. Salah satu penyebabnya tidak lain karena pergerakan para tokoh-tokoh Indonesia dianggap terlalu revolusioner dan radikal. Maka dari itu pemerintah Belanda mulai melakukan tindakan tegas mengenai organisasi pergerakan Indonesia.

Hal yang paling tampak dalam upaya Belanda ‘membendung’ semangat nasionalisme bangsa Indonesia yakni dengan menangkap dan mengasingkan para pemimpin organisasi. Puncaknya yaitu penangkapan dan pengasingan ketua PNI, Ir. Soekarno ke Boven Digul pada Februari 1934. Bahwasanya penangkapan dan pembuangan tokoh-tokoh nasionalis sebagai pelaksanaan politik keras dan pembuangan tokoh-tokoh nasionalis sebagai pelaksanaan politik keras dan reaksioner pemerintah Hindia Belanda mempunyai dampak kuat pada sifat serta arah perjuangan kaum nasionalis tidak dapat disangsikan lagi. Perjuangan radikal yang hendak berkonfrontasi dengan penguasa kolonial pasti menemui kegagalan oleh karena pihak terakhir memiliki prasarana kekerasan. [4]

Melihat kenyataan yang terjadi, pemimpin-pemimpin dari kalangan kooperatif seperti Soetomo, Thamrin, A.H Salim, A.K. Gani, dan Moh. Yamin bersepakat mengenai kenyataan bahwa perumusan tujuan organisasi-organisasi baik yang sejak awal bersikap kooperatif maupun yang semula non-kooperatif, kesemuanya mengarah pada Indonesia merdeka. Meskipun diakui bahwa ada perubahan sikap dan taktik, namun fokus perjuangan sudah mantap sehingga titik pengerahan kekuatan semakin mantap fungsinya sebagai penggemblengan solidaritas nasional.[5]

Kisruh suasana Volksraad setelah dikeluarkannya Petisi Sutardjo pada 15 Juli 1936 semakin meyakinkan tokoh-tokoh Indonesia untuk bersatu padu menggabungkan kekuatan melawan kolonialisme. Langkah yang dikeluarkan Sutardjo dan rekan-rekannya guna menekan pemerintah Belanda ternyata ditolak. Berita kekalahan Sutardjo dalam memperjuangkan pribumi di Volksraad bahkan sampai membuat pers Indonesia bergemuruh. Mereka berseru agar kekalahan dalam forum Volksraad (perjuangan Petisi Sutardjo) dianggap sebagai cambuk untuk menuntut dan menyusun barisan kembali dalam suatu wadah persatuan berupa konsentrasi nasional.

Suatu gagasan untuk membina kerja sama diantara partai-partai politik dalam bentuk federasi timbul kembali pada tahun 1939. Menurut Mochammad Husni Thamrin, pendiri federasi itu, pembentukan federasi pada mulanya dianjurkan oleh PSII pada bulan April 1938 dengan pembentukan Badan Perantara Partai-partai Politik Indonesia (BAPEPPI).[6] Federasi ini memiliki tujuan untuk memberi wadah bagi kerja sama partai politik Indonesia yang mempunyai cita-cita memajukan Indonesia. Sayangnya, nasib badan ini sungguh menyedihkan karena ternyata prosedur pendiriannya saja telah menimbulkan banyak kontroversi sehingga ada alasan bagi banyak organisasi untuk tidak masuk, bahkan Gerindo pun tidak jadi masuk, sedangkan Parindra menjadi sangat pasif sikapnya dalam BAPEPPI.[7]

Ketidakberhasilan BAPEPPI sebagai pemersatu organisasi-organisasi Indonesia membuat beberapa tokoh, yang dalam hal ini diprakarsai oleh pemimpin-pemimpin di Parindra, untuk mengadakan pendekatan dan perundingan dengan partai-partai dan organisasi lain seperti PSII, Gerindo, PII, Pasundan, Persatuan Minahasa, dan Partai Katolik untuk membicarakan masa depan Indonesia. Realisasi kegiatan tersebut terlaksana di Jakarta pada tanggal 21 Mei 1939. Dengan demikian, kecuali PNI-Baru, GAPI dibentuk sebagai suatu wadah resmi yang lebih solid untuk mewadahi organisasi-organisasi nasional.

Setelah resmi terbentuk, GAPI mengkehendaki adanya parlemen penuh bagi Indonesia. Dan sebagai langkah awal, pada bulan Desember 1939 GAPI menyelenggarakan Kongres Rakyat Indonesia. Kongres yang diadakan di Jakarta ini dianggap sebagai suatu keberhasilan yang besar.[8] Selanjutnya, GAPI semakin memantapkan diri untuk mengembangkan kemajuan organisasi guna tercapainya Indonesia merdeka.

Perkembangan GAPI semakin tampak ketika mengadakan suatu program yang disebut “Indonesia Berparlemen” sebagai tindak lanjut dari Kongres Rakyat Indonesia. Puncaknya, pada 23 Februari 1940 GAPI menganjurkan pendirian Partai Parlemen Indonesia. Keputusan tersebut langsung didukung oleh Parindra, PSII, Pasundan, dan lainnya. Ide tersebut terpaksa berhenti ditengah jalan karena pada awal Mei 1940 Belanda diduduki Jerman dan pecahlah perang.[9]

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan pengertian judul di atas, maka penulis mengajukan beberapa rumusan masalah, sebagai berikut :

  1. Bagaimana situasi dan kondisi politik di Indonesia pada masa pergerakan nasional tahun 1939-1943?
  2. Bagaimana perkembangan GAPI sebagai salah satu organisasi politik di Indonesia pada masa pergerakan nasional tahun 1939-1943?
  3. Bagaimana peran serta GAPI dalam perkembangannya di dunia politik Indonesia masa pergerakan nasional tahun 1939-1943?
  4. Tujuan Penelitian
  5. Tujuan Umum
  6. Menerapkan metodologi penulisan sejarah untuk mengkaji sejarah secara mendalam
  7. Menjadi bahan rujukan, melatih dan meningkatkan daya pikir dalam penulisan sejarah.
  8. Tujuan Khusus
  9. Memberikan gambaran mengenai situasi dan kondisi politik di Indonesia pada masa pergerakan nasional tahun 1939-1943.
  10. Memberikan gambaran mengenai GAPI sebagai salah satu organisasi politik di Indonesia pada masa pergerakan nasional tahun 1939-1943.
  11. Memberikan gambaran mengenai peran serta GAPI dalam perkembangannya di dunia politik Indonesia masa pergerakan nasional tahun 1939-1943.
  12. Kajian Pustaka

Kajian Pustaka merupakan telaah terhadap pustaka atau literatur yang menjadi landasan pemikiran dalam penelitian.[10] Dalam kajian pustaka dapat berupa buku yang sesuai dengan topik ataupun majalah. Disini penulis menggunakan sumber pustaka dalam melakukan penelitian.

Buku yang ditulis oleh Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional : dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945 ini memaparkan keseluruhan periode pergerakan nasional di Indonesia. Buku ini tidak hanya membahas latar belakang munculnya GAPI saja, tapi juga membahas program-program yang akan dan atau sedang dilakukan GAPI sampai dengan bubarnya organisasi ini.

Pengantar Sejarah Indonesia Baru : Sejarah Pergerakan Nasional 1900-1942 yang ditulis Sartono Kartodirdjo mengemukakan penjelasan yang lebih gamblang mengenai GAPI. Dalam buku ini Sartono mengatakan bahwa GAPI sempat mendapat “persaingan” dari GNI yang merupakan suatu kesatuan politik Dewan Rakyat yang beradi di daerah-daerah luar Jawa. GNI (Golongan Nasional Indonesia) berdiri pada 10 Juli 1939. Organisasi ini ridak lain diprakarsai oleh Moh. Yamin, Rasjid, dan Tadjoedin Noer. Tindakan GNI penulis kutip dibawah ini :

Sementara itu terjadilah hal yang tidak terduga sama sekali ialah tindakan GNI untuk menyampaikan petisi kepada Badan Perwakilan Belanda (Staten-Generaal) untuk memberi suatu parlemen kepada Indonesia. Terlepas dari motivasi sesungguhnya yang ada di belakang petisi itu, tindakan itu pada umumnya dianggap sangat merugikan perjuangan kesatuan dan persatuan Indonesia. Persaingan politik seperti itu menguntungkan pihak Belanda, oleh karena perpecahan di kalangan kaum nasionalis hanya akan memperlemah perjuangannya saja. Memang peristiwa itu menimbulkan keresahan dan kericuhan di kalangan kaum nasionalis; ada kekhawatiran bahwa gerakan nasionalis akan tidak berdaya sama sekali.

 

Di dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid V : Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Akhir Hindia Belanda (tahun 1900-1942) oleh Tim Penulisan Sejarah Nasional Indonesia membahas tentang awal kebangkitan fraksi nasional yang sudah dimulai ketika Petisi Sutardjo hingga masa GAPI.

  1. Metodologi Penelitian

Metode penelitian sejarah adalah seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis dan mengajukan sintesis dari hasil-hasil dalam bentuk tulisan.[11]

Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman-rekaman dan peninggalan masa lampau.[12] Menurut Kuntowijoyo dalam kedudukannya sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur penelitian ilmiah, sejarah juga terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta, kebenaran sejarah terletak pada kesediaan sejarawan untuk meneliti sumber sejarah secara tuntas sehingga diharapkan ia akan mengungkap sejarah obyektif.

Dalam penulisan ini, penulis menggunakan tahapan-tahapan tersebut sebagai mata rantai yang saling berpengaruh dan sebagai urutan yang harus dikaji dan analisis secara mendalam dalam penulisan sejarah. Adapun langkah-langkah tersebut adalah:

  1. Pengumpulan Sumber (Heuristik)

Heuristik merupakan langkah awal dalam melakukan penelitian sejarah, yaitu suatu kegiatan mencari sumber-sumber untuk mendapatkan datadata, atau materi sejarah atau evidensi sejarah.[13] Sumber (Sumber sejarah disebut juga data sejarah; bahasa Inggris datum bentuk tunggal, data bentuk jamak; menurut bahasa Latin datum berarti pemberian) yang dikumpulkan harus sesuai dengan jenis sejarah yang akan ditulis. Sumber menurut bahannya dapat dibagi menajdi dua yaitu tertulis dan tidak tertulis, atau dokumen dan artefak. Kemudian sumber yang digunakan bisa berupa sumber primer dan sekunder. Dalam penelitian ini sumber primer menggunakan buku-buku tentang zaman pergerakan nasioanal dan organisasi GAPI. Sedangkan sumber sekunder yang digunakan dalam penelitian berupa tambahan jurnal maupun makalah sejarah.

  1. Kritik sumber

Yaitu kegiatan meneliti apakah jejak-jejak itu sejati, baik bentuk maupun isinya, sehingga benar-benar merupakan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Maka diperlukan kritik intern dan ekstern. Kritik ekstern bertujuan untuk menentukan autentitas sumber, baik keaslian sumber, tanggal, waktu pembuatan, serta pengarang. Kritik intern bertujuan untuk menentukan kredibelitas sumber, baik isi, sumber, atau dokumen, meliputi bahasa dan situasi pengarang, gaya, dan ide.

  1. Interpretasi

Adalah hal menetapkan makna yang saling berhubungan dari fakta-fakta yang diperoleh setelah diterapkan kritik ekstern maupun kritik intern dari data-data yang didapatkan sehingga memberikan kesatuan berupa bentuk peristiwa lampau, yang dalam hal ini tentang Perkembangan GAPI dalam Masa Pergerakan Nasional  Indonesia tahun 1939-1943.

  1. Penyajian atau Historiografi

Yaitu menyampaikan sintesis yang diperoleh dalam bentuk tulisan atau dengan kata lain penyampaian laporan hasil penelitian sejarah setelah melalui tahapan-tahapan di atas dalam bentuk karya sejarah (historiografi).

Kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampau dapat dilakukan dengan heuristic literature, yang tidak berbeda hakikatnya dengan kegiatan bibliografis yang lain, sejauh menyangkut buku-buku yang tercetak.Selanjutnya sumber yang telah diperoleh itu dikritik baik secara ekstern maupun intern.Kritik ekstern bertujuan Kritik ekstern bertujuan untuk menentukan autentitas sumber, baik keaslian sumber, tanggal, waktu pembuatan, serta pengarang. Kritik intern bertujuan untuk menentukan kredibilitas sumber, baik isi, sumber, atau dokumen, meliputi bahasa dan situasi pengarang, gaya, dan ide penulisan.

Langkah berikutnya adalah interpretasi dan sintesis. Pada tahap ini berbagai fakta yang tersedia dan telah berhasil dikumpulkan dihubungakan antara satu dengan yang lainnya sehingga membentuk sebuah rangkaian peristiwa yang harmonis.Sungguhpun begitu, semua data yang dikumpulkan tidak semuanya relevan, maka dari itu perlu diadakannya interpretasi dan sintesis.

DAFTAR PUSTAKA

 

Cahyo Budi Utomo. 1995.  Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia dari Kebangkitan Hingga Kemerdekaan. Semarang: IKIP Semarang Press

Eka Tamara, dkk. 2015. Gabungan Politik Indonesia (GAPI) dan Indonesia Berparlemen. Pendidikan Sejarah FIS UNY. Makalah Sejarah.

Ricklefs, MC. 1981. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sartono Kartodirjo. 2014. Pengantar Sejarah Indonesia Baru : Sejarah Pergerakan Nasional Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Yogyakarta : Penerbit Ombak.

Sri Pangesti Dewi Murni. 2008. Pergerakan Nasional Indonesia. Jurnal Sejarah.

Suhartono. 1994.  Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia. 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V : Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Akhir Hindia Belanda (tahun 1900-1942). Jakarta : Balai Pustaka.

[1] Suhartono, 1994, Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, hlm. 16.

[2] Selanjutnya disingkat menjadi GAPI

[3] Ibid, hlm. 4

[4] Sartono Kartodirdjo, 2014, Pengantar Sejarah Indonesia Baru : Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme sampai Nasionalisme, Yogyakarta : Penerbit Ombak, hlm. 216.

[5][5] Ibid, hlm. 218.

[6] Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia, 2010, Sejarah Nasional Indonesia Jilid V : Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Akhir Hindia Belanda (tahun 1900-1942), Jakarta : Balai Pustaka, hlm. 394.

[7] Sartono Kartodirdjo, Op.cit, hlm. 223.

[8] Rickfles, MC, 1981, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta : Gajah Mada University Press, hlm. 291.

[9] Sartono Kartodirdjo, Op.cit, hlm. 229.

[10] Tim Prodi Ilmu Sejarah, Pedoman Penulisan Tugas Akhir Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, 2013), hlm. 6

 

[11] Dudung Abdurahman, Metode Penelitian Sejara,(Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 43-44

 

[12] Louis Gottschalk, Understanding History: A Primer of Historical Method, a.b. Nugroho Notosusanto, “Mengerti Sejarah”, (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 35

[13] Saefur Rochmat, Ilmu Sejarah Dalam Perspektif Ilmu Sosial, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hlm. 153

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s