Anything

REVIEW JURNAL “THE SULTAN AND THE REVOLUTION”

Sultan dan Revolusi

 

Dalam jurnal berbahasa Inggris ini pembaca khususnya mereka yang mendalami sejarah, akan diajak untuk menyimak perjuangan Sultan Yogyakarta, Hamengku Buwono IX untuk membantu mengusir Belanda dari Indonesia. Revolusi kala itu adalah untuk melawan pihak kompeni yang telah melancarkan Agresi Militer Belanda di kota Yogyakarta pada Desember 1948 sampai Juni 1949.

Sultan Hamengkubuwono IX merupakan salah satu sosok paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, terutama mengenai sikap tegasnya terhadap Belanda. Beliau juga orang yang nasionalis, cerdik, berwawasan politik yang luas, dan dapat dipercaya. Terbukti beliau menjadi seorang ‘administrator’ untuk menciptakan solidaritas diantara pemimpin-pemimpin Indonesia.

Serangan pertama Belanda pada 19 Desember 1948 di Yogyakarta nyaris membuat kacau stabilitas nasional. Dalam waktu singkat pasukan Belanda berhasil menduduki Yogyakarta, dan menangkap petinggi pemerintahan pusat : Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan lainnya. Tawanan politik tersebut itu pun diasingkan ke berbagai daerah. Penyerangan itu membuat Sultan Hamengku Buwono praktis mengambil alih komando. Juga sekaligus bertindak sebagai tokoh politik. Secepat mungkin Sultan langsung menginstruksikan pengamanan pejabat pemerintah pusat ke Gunung Kidul, rapat cabinet di Istana Merdeka, serta menjadi wakil Indonesia untuk menyelesaikan penyerangan ini dengan dibantu komisi PBB, UNCI.

Kesigapan Sultan dalam menangani penyerangan tersebut tetap konsisten dilakukan. Konsistensi beliaulah yang menjadikannya berani untuk mengambil keputusan yang besar ditengah situasi politik yang genting. Keyakinan utamanya, bahwa waktu kolonialisme usai, membimbing Sultan untuk mengambil semua tindakan yang dirasa perlu untuk menyelamatkan kedaulatan NKRI.

Belanda, yang walaupun saat penyerangan pertamanya sudah dikecam habis-habisan oleh negara lain, tampaknya tetap bergeming. Belanda malah sempat menyerang kembali. Kali ini sasarannya kantor utama Kepatihan yang juga milik Sultan. Serangan pada 22 Februari 1949 tersebut sudah sangat membuat Indonesia geram.

Akhirnya, pada akhir bulan Februari, Sultan yang mengetahui pihak Belanda sudah sangat kesal, memutuskan untuk mengultimatum pemerintah Indonesia. Tanpa diketahui Belanda, Sultan dibantu dengan pasukan Indonesia yang dibawahi Jenderal Sudirman dan Koloneh Soeharto telah menyusun serangan pembalasan. Pada 1 Maret pukul 06.00 serangan kepada Belanda pun meletus. Dalam waktu singkat, pasukan TNI berhasil merebut pos-pos penting yang telah diduduki Belanda dan memukul mundur pasukan kompeni. Pihak Belanda yang tidak menyangka akan datangnya serangan ini mengatakan tindakan tersebut sebagai aksi yang cerdas-terorganisir.

Apa yang telah dilakukan Sultan memang sebuah perjudian dengan resiko tinggi. Terbukti, keesokan harinya, utusan dari Belanda yaitu Komandan Meijer datang ke keraton untuk menemui Sultan serta untuk melakukan penggeledahan di keraton karena diduga kuat sebagai basis penyerangan kemarin. Tetapi, sekali lagi, Sultan juga menunjukkan konsistensinya bersikap non-kooperatif dengan Belanda. Ia lebih memilih mati daripada harus melihat rakyat dan juga keratonnya dimasuki Belanda.

Tindakan Sultan ini mungkin bisa dilihat dari sejarah sebelumnya ketika leluhur Sultan bertempur membantu Pangeran Diponegoro karena masalah pagar batas makam. Ia menilai bahwa ketika serangan tersebut terjadi, Belanda tidak akan mungkin berani untuk menyerang lagi. Hal itu pun terbukti benar.

Sebagai seorang pemimpin, Sultan Hamengkubuwono IX telah membuktikan kepada kita bahwa tanpa kerja kerasnya dalam Revolusi Indonesia tersebut, peristiwa yang terjadi tahun 1949 akan lebih sulit untuk diatasi. Bahkan, tidak hanya dalam birokrasi poltik saja, Sultan pun mampu membuktikan dukungan penuhnya terhadap kedaulatan NKRI. Hal ini nyata terlihat dari bantuan financial yang diberikan Sultan pada pemerintah pusat ketika sedang mengalami krisis diawal-awal kemerdekaan, hingga masalah kemiliteran.

Jurnal yang ditulis oleh John Monfries ini menurut penulis sudah bagus. Cara penulisannya sudah sesuai dengan kaidah kesejarahan. Penyampaiannya dalam kalimat di jurnal ini juga komunikatif. John Monfries juga menggunakan sumber yang cukup banyak sehingga bisa melakukan kritik sumber untuk cross check.

Advertisements

3 thoughts on “REVIEW JURNAL “THE SULTAN AND THE REVOLUTION”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s