Buah Pena

Hujan di Akhir Mei

Dia berdiri khidmat ketika tangis turun dari langit.
Senyumnya damai, seolah tak terusik oleh gelagar dan deru kilat.
Aku terhenyak, lupa menarik nafas.
Tanpa sadar hatiku menderu mengegas:

Apa itu kau?

Aku diam, terpana, berusaha mencari pembenaran.
Mereka di sekeliling tidak aku hiraukan.
Pun suara cempreng si sopir taksi yang protes karena aku batal memberinya rejeki, tak aku pedulikan.
Semesta seakan terhenti, seperti aku yang mendadak lupa diri.

Hatiku setengah berharap itu kau. Meski nalarku juga memprotes, dan malah mengguratkan kenangan menyakitkan.

Kau seperti adonis Yunani paling rupawan yang pernah kutemui.
Sayangnya, kau juga seadonis Yunani yang paling kubenci.
Kau berhasil membuatku mencoret hujan dari daftar kesukaanku dalam hidup.
Sama seperti kisah kita yang kau gores begitu saja.

Sampai detik aku menatapmu pun, aku masih tak bisa mengerti alasanmu.

Cinta tidak bisa berjalan sendiri, kita tahu itu.
Kita pun berjuang, agar asa-asa itu bisa tercapai.
Kita pun berkorban, meski perih juga tak bisa dielakkan.
Bahkan aku sudah pernah nyaris sekarat, tapi hadirmu memberi kuat.

Tapi, mengapa disaat asa itu hampir berhasil digapai, kau malah pergi?

Hujan di 31 Mei tepat setahun lalu memberi sejuta sakit didadaku.
Ketika kau memutuskan pergi padahal sebelumnya kita sejoli.
Aku tersedu, mencoba menahanmu disini.
Tapi kau hanya diam dan lantas mengecup keningku sekilas :

“Aku menyayangimu, Na. Dari dulu, sekarang, hingga nanti. Hanya saja, aku harus pergi. Hujan akan menemani hingga tiba saat aku bisa mengecupmu lagi.”

Kini, 365 hari setelahnya, kau berdiri di tempat yang sama.
Tanpa payung, hanya mantel panjang.
Lalu, kau menoleh padaku.
Mengalirkan sejuta listrik yang seakan diamini langit.
Membuatku kembali bernafas, tapi lantas menangis terisak.

Aku ingin berlari menyerbu, tapi kaki ini seakan dipaku.
Kau melangkah mendekat, pelan dan tegap.
Air mataku semakin deras, melebur dengan tangis langit.
Di depanku kau berhenti.
Memamerkan lesung indah yang selalu terpatri di relungku.

Tanganku bergerak ingin mencubit wajahku.
Sekedar memastikan ini bukan mimpi.
Sekejap, kau mendekapku erat.
Membisikkan maaf paling tulus yang pernah aku dengar.

“Naira, maaf telah meninggalkanmu. Aku tak ingin menyampaikan alasan untuk membenarkan tindakanku. Aku hanya ingin melihat ketangguhanmu dengan kealpaanku. Dan aku benar, Na. Kamu tangguh. Kamu wanita tercantik paling tangguh karena bisa setia mencintaiku. Would you forgive me for all mistakes I’ve done?

Dekapannya merenggang, seiring dengan hujan yang terus berderak.
Matanya sarat permohonan.
Meski enggan untuk mengakuinya, toh aku tetap mendambanya.
Mencintainya dengan segala lebih dan kurang bak manusia biasa.

Aku mengangguk pelan.
Dan seketika, sorot di depanku adalah pemandangan paling indah yang aku alami.
Cinta itu masih sama, bahkan bertambah dewasa.
Jarak memang pernah mencederai dan meleburkan segala mimpi.
Tapi, air mata langit sanggup mendamaikan sebentuk hati yang pernah dilukai.

Ya, karena aku mencintainya : sang lelaki hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s