Anything

Artikel Sejarah Lisan : Sekolah Rakyat Desa Grantung Pada Masa Pendudukan Jepang

Pendahuluan

Indonesia menyimpan banyak catatan mengenai sejarah pendidikan sebagai blue print warisan bangsa. Dari banyaknya topik yang diangkat mengenai sejarah pendidikan, penulis mencoba untuk mengkaji tentang sekolah pada zaman penjajahan. Adapun sekolah yang penulis kaji dalam makalah ini yaitu dua sekolah yang didirikan pada masa penjajahan Jepang di desa Grantung, kecamatan Karangmoncol, kabupaten Purbalingga.

Mungkin sudah banyak tulisan atau pembahasan mengenai sekolah yang ada pada masa penjajahan Jepang, tapi belum ada pembahasan lebih lanjut mengenai sekolah yang terpusat atau khusus di suatu daerah di Indonesia. Oleh karena itulah penulis mencoba mengkaji Sekolah Rakyat (SR)  yang pernah ada di desa Grantung tersebut.

Sekolah Rakyat Desa Grantung

Sekolah Rakyat (SR) merupakan salah satu hasil gagasan pendidikan yang dicanangkan Ki Hajar Dewantara. SR didirikan oleh pemerintah Jepang dan memiliki 3 tingkatan, yaitu :

  • Kelas 1
  • Kelas 2
  • Kelas 3

Mereka yang bersekolah di SR diajarkan berbagai macam hal, seperti kemampuan balistung (baca, tulis, hitung), pendidikan keterampilan desa, teknik-teknik pertanian, sampai kemampuan berbahasa Jepang. Bisa dikatakan, kurikulum dalam SR ini hampir sama dengan kurikulum sekolah masa penjajahan Belanda, yakni “Sekolah Kelas 1 dan Sekolah Kelas 2yang juga mengajarkan kemampuan-kemampuan dasar. ( Nasution, 2011 : 52 ). Adapun mereka yang bersekolah disini adalah rakyat pribumi, yang dalam hal ini berarti masyarakat desa Grantung dan sekitarnya. Jumlah muridnya pun banyak, bisa mencapai puluhan orang, bahkan ratusan.

Sekolah Rakyat desa Grantung didirikan sejak zaman penjajahan Jepang sampai sebelum Indonesia merdeka. SR yang didirikan oleh pemerintah Jepang ini bertujuan untuk memenuhi tenaga-tenaga kerja mereka sendiri (pemerintah Jepang). Untuk bersekolah di SR, rakyat yang bersekolah tidak dipungut biaya. Akan tetapi, SR dulunya tidak memiliki bangunan tetap. Para guru yang berasal dari kalangan demang selalu mengadakan pengajaran untuk murid-muridnya secara nomaden (berpindah). Biasanya, yang dipakai sebagai tempat untuk ‘bersekolah’ adalah rumah-rumah para pamong desa. Para pengajar atau demang-nya itu sendiri berbeda-beda, mengikuti perpindahan tempat ‘bersekolah’ nya. Selain di desa Grantung, SR juga ada di desa Makam, Karangmoncol, dan Rembang.

Sekolah Rakyat desa Grantung mengajar siswa-siswanya sampai kelas tingkat 3. Setelahnya, mereka yang berhasil lulus akan mendapatkan sertifikat. Tidak semua siswa bisa lulus, seperti halnya Eyang Wignyo. Beliau mengatakan bahwa tidak sempat lulus karena pada waktu hendak naik kelas 3, meletuslah kanonan, atau perang melawan Jepang yang terjadi di sekitar desa Grantung. Sedangkan mereka yang bisa lulus, seperti Mbok Runtah mendapatkan sertifikat dari kertas tebal yang bercorak ular kembar berwarna merah dan ditulis dengan tinta berwarna emas.

Sekolah Rakyat yang didirikan oleh pemerintah Jepang idealnya memang bertujuan untuk memenuhi tenaga administrasi. Akan tetapi, SR di desa Grantung ini output yang dihasilkan tidak untuk pemerintah Jepang, melainkan untuk kepentingan siswanya sendiri. Walaupun mereka yang dulunya bersekolah di SR didasari oleh perintah masyarakat dan demang, tapi itu demi kepentingan siswa tersebut. Seperti halnya Mbok Runtah dan Eyang Wignyo yang disuruh sekolah agar tidak bodoh, tidak seperti orangtua mereka.

Hal yang menarik dari SR pada masa penjajahan Jepang ini adalah, para siswa dididik agar bisa hidup mandiri, sehat fisik dan jasmani, mampu bekerja sama, serta bisa menghargai jasa-jasa pahlawan. Contohnya yaitu ketika siswa disertakan untuk bergotong royong membawa batu kali, juga ketika upacara 17 Agustus di lapangan kecamatang. Siswa di SR desa Grantung ditanamkan budi pekerti luhur untuk menghormati jasa-jasa pahlawan, yaitu dengan cara berziarah dan nyekar setelah mengikuti upacara.

Dalam perkembangan selanjutnya, setelah Indonesia merdeka, SR yang ada di desa Grantung ini berubah nama menjadi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Grantung yang pola pendidikan dan kurikulumnya menyesuaikan zaman sekarang.

Penutup

Dari apa yang telah penulis jabarkan diatas, beberapa poin yang bisa dijadikan simpulan yaitu :

  • Sekolah Rakyat (SR) dan yang ada di desa Grantung merupakan salah satu hasil dari pendidikan di zaman penjajahan dulu, khususnya zaman penjajahan Jepang.
  • SR dan yang ada di desa Grantung menunjukkan bahwa Indonesia sudah mengenal beberapa kemampuan dasar seperti balistung dan kemampuan berbahasa Jepang pada masa penjajahan.
  • Walaupun masih terbatas, kehadiran SR dan pada masa pendudukan Jepang dirasakan lebih baik dibanding sekolah-sekolah yang ada pada zaman penjajahan Belanda.
  • Selain itu, pemerintah Jepang yang memiliki tujuan implisit untuk mencari tenaga kerja berkualitas dari pribumi tetap memperhitungkan beberapa kemampuan yang bisa terus dipegang atau dikuasai oleh rakyat pribumi sendiri.

 

Referensi

Hasil wawancara penulis dengan Mbok Runtah dan Eyang Wignyo pada tanggal 8 Mei 2016.

  1. Nasution. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara. 2011.

http://bloggerpurworejo.com/2009/08/mengenang-%E2%80%9Ckokumin-gakko%E2%80%9D-sekolah-rakyat-jaman-jepang/ (diakses pada 30 April 2016 pukul 19.00 WIB)

http://repository.library.uksw.edu/jspui/handle/123456789/3574 (diakses pada 30 April 2016 pukul 20.30 WIB)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s