Anything

Review Buku Pengantar Ilmu Sejarah

Judul Buku                : Pengantar Ilmu Sejarah

Penulis                        : Kuntowijoyo

Penerbit                      : Tiara Wacana

Kota Terbit                : Sleman

Tahun Terbit             : 2013

Jumlah Halaman       : 190 halaman

Nomor ISBN              : 978-979-1262-56-9

 

Kuntowijoyo dikenal selain sebagai penulis, juga merupakan salah satu sejarawan Indonesia yang disegani. Pemikiran-pemikirannya sering dituangkan kedalam bentuk tulisan. Karya-karya beliau juga sudah banyak yang diterbitkan, salah satunya merupakan buku diktat kuliah bagi mahasiswa jurusan sejarah di Indonesia, yakni Pengantar Ilmu Sejarah.

Dalam buku ini, Kuntowijoyo menjelaskan seluk-beluk sejarah sebagai suatu cabang keilmuan tidak hanya di Indonesia, tapi juga dunia. Pengantar Ilmu Sejarah ini terdiri dari dua belas bab, yang keseluruhannya dibahas dengan gamblang oleh beliau. Kedua belas bab tersebut yakni : Apakah Sejarah Itu?, Guna Sejarah, Sejarah Penulisan, Sejarah sebagai Ilmu dan Seni, Pendidikan Sejarawan, Penelitian Sejarah, Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial, Kekuatan-kekuatan Sejarah, Generalisasi Sejarah, Kesalahan-kesalahan Sejarawan, Sejarah dan Pembangunan, serta bab terakhir yaitu Ramalan Sejarah.

Kata sejarah sebetulnya lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dalam buku ini pula, Kuntowijoyo menjelaskan penggunaan istilah-istilah yang tepat berkenaan dengan kata sejarah. Tentunya, sebelum kita menggunakan istilah ‘sejarah’, terlebih dulu kita harus memahami pengertian sejarah itu sendiri. Menurut Kuntowijoyo, sejarah memiliki beragam pengertian, karena bisa dilihat dari sudut negative maupun positif. Tokoh-tokoh lain juga memiliki argumentasinya sendiri mengenai pengertian sejarah. Dan menurut hemat penulis, pengertian sejarah menurut Kuntowijoyo sudah sangat mencakup, yaitu bahwasanya sejarah merupakan rekonstruksi masa lalu.

Sejarah sebagai ilmu yang dinamis, juga memiliki riwayatnya sendiri dalam hal penulisannya. Terhitung sejak mulainya peradaban kuno dunia, Yunani, hingga masa kontemporer. Sejarah penulisan juga menjadi salah satu acuan bagi sejarawan untuk membuat reka ulang atau rekonstruksi mengenai peristiwa yang telah terjadi. Menariknya, sejarah sebagai ilmu juga bisa menjadi kritik terhadap ilmu lain, terutama dalam sumbangsih seni.

Tidak berbeda dengan ilmu lain, sejarah juga memiliki pendidikan khusus bagi mereka yang ingin lebih mendalaminya. Pendidikan bagi sejarawan sebetulnya tidak hanya dimulai ketika bangku perkuliahan saja, tapi juga sudah mulai ‘mencicipi’ kurikulum-kurikulum tentang sejarah. Jenis pendidikan sejarawan sendiri juga beragam, karena hal tersebut kembali lagi pada kebutuhan dunia pendidikan saat itu. Terlebih pada keputusan pemerintah mengenai pelaksanaan kurikulum pendidikan secara nasional. Hal tersebut tentunya berpengaruh pada mata kuliah-mata kuliah dalam proses pendidikan sejarawan.

Sejarawan yang baik selain pernah mendapat pendidikan sejarawan, juga tentunya memahami langkah-langkah dalam melakukan penelitian sejarah. Sebab, meskipun bukan kelompok ilmu eksakta, sejarah juga mempunyai dasar atau patokan dalam penelitiannya. Hal yang umum menjadi kendala bagi sejarawan menurut Kuntowijoyo justru dimulai ketika langkah awal, yaitu pemilihan topic. Saking banyak dan luasnya bahasan mengenai sejarah Indonesia membuat sejarawan bingung sendiri untuk menentukan topic. Terlebih karena adanya ‘tantangan’ bahwa penelitian sejarah yang dilakukan haruslah workable sehingga dapat ‘disetor’ tepat pada waktunya. Sementara itu, hal lain yang mungkin menjadi kendala adalah terbatasnya sumber-sumber sejarah, padahal si peneliti sudah sangat excited dengan topic yang akan ditelitinya.

Kita tentu sudah sering mendengar bahwa ilmu yang satu berkaitan dengan ilmu lainnya. Maka demikian jugalah dengan ilmu sejarah. Cabang ilmu sosial yang lain ikut membantu sejarawan menyempurnakan penelitiannya. Misalnya saja ketika sejarawan ingin mengulas tentang sejarah pembuatn selokan Mataram di DIY, tentunya ia harus bisa melakukan pendekatan dengan ilmu sosial seperti antropologi, ekonomi, dan atau geografi untuk menunjang kevalidan datanya. Selain itu, ilmu-ilmu sosial lainnya juga bisa menjadi kekuatan sejarah. Dimana kekuatan sejarah sangat penting dalam membuat penelitian menjadi lebih berkualitas.

 

Ketika seorang sejarawan berhasil melakukan penelitian, biasanya ia juga membuat generalisasi agar pembaca awam bisa memahami penelitiannya. Generalisasi dalam sejarah sendiri terbagi menjadi generalisasi konseptual, personal, tematik, spasial, periodic, sosial, kausal, cultural, sistemik, dan struktural. Walaupun terbagi ke banyak generalisasi, hasil akhir generalisasi sejarah bertujuan untuk mendapat generalisasi yang bersifat saintifik dan atau yang bersifat simplifikasi.

Pada akhirnya, sejarawan juga bisa salah. Meskipun sudah mendapat generalisasi utuh tentang penelitiannya, terkadang kesalahan-kesalahan tertentu bisa saja terjadi. Kuntowijoyo menguraikan setidaknya ada lima kesalahan yang mungkin dilakukan sejarawan, yaitu : kesalahan pemilihan topic, kesalahan pengumpulan sumber, kesalahan verifikasi, kesalahan interpretasi, dan kesalahan penulisan.

Sebagai penutup, Kuntowijoyo mengatakan bahwa mayoritas masyarakat beranggapan bahwa sejarah hanya memiliki fungsi pragmatis saja. Anggapan ini ditepis oleh beliau, sebab sejarah juga mempunyai fungsi praktis, yaitu berguna sebagai peranan ilmu sosial dalam pembangunan.

Setelah membaca buku ini, saya dapat menarik simpulan bahwasanya sejarah sejatinya merupakan ilmu yang ‘tua’, karena berusia sama tuanya dengan manusia sendiri. Contoh nyatanya adalah, setiap kelahiran manusia di muka bumi ini, maka salah satu ‘sejarah’ juga tercatat, yakni bertambahnya satu populasi penduduk dunia. Sejarah juga menjadi cabang ilmu yang penting, karena menurunkan disiplin-disiplin ilmu lain, terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat, seperti antropologi dan filsafat. Memang, pada penerapannya sejarah menjadi salah satu ilmu yang bisa menjadi sangat subjektif, karena interpretasi tiap-tiap sejarawan tentu berbeda. Padahal, bila ditarik benang merah, nilai objektifitas dalam ilmu sejarah juga bisa ditemukan.

Saya pribadi menilai bahwa buku ini sangat bagus dibaca untuk semua kalangan, tidak hanya bagi mereka yang mendalami ilmu sejarah saja. Alasannya karena buku ini disajikan oleh Kuntowijoyo dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tanpa penjelasan yang rumit. Contoh-contoh tambahan yang mendukung penjelasan per sub-bab juga ditulis dengan baik, sehingga memudahkan pembaca mengembangkan ide dan kreatifitasnya dalam menggali sumber atau permasalahan tentang sejarah. Hal yang mungkin dirasa kurang menurut saya yaitu berkenaan dengan ilustrasi. Sebaik apapun penjelasan penulis pada bukunya, tentu akan lebih menarik jika disajikan pula contoh ilustrasi pendukung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s