Anything

Selayang Pandang “Sosialisme” (Ulasan Mengenai Ideologi Pemikiran)

Pendahuluan

Sosialisme (socialism) secara etimologi berasal dari bahasa Perancis, social, yang berarti kemasyarakatan. Bisa juga dari bahasa Latin, socius, yang berarti teman, sahabat, saudara. Istilah sosialisme pertama kali muncul di Perancis sekitar tahun 1830. Secara umum penggunaan istilah sosialisme merujuk pada hak milik bersama. Hal tersebut dikarenakan untuk mencegah adanya penguasaan sumber daya atau bahan-bahan produksi oleh kelompok-kelompok tertentu. Dengan demikian, adanya istilah sosialisme digunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sosialisme berarti suatu ajaran atau paham kenegaraan dan ekonomi yang berusaha supaya harta benda, industry, dan perusahaan menjadi milik negara.

Perkembangan Sosialisme sebagai Ideologi

Awal mula perkembangan sosialisme ditandai oleh penggunaan istilah tersebut secara luas. Perancis merupakan negara pelopor penggunaan istilah sosialisme tersebut pada tahun 1830. Meski demikian, sosialisme baru dikenal luas ketika Robert Owen, seorang pemikir berkebangsaan Inggris pada tahun 1827.[1] Dia dikenal sebagai pelopor sosialisme di Inggris Raya. Ide awal yang dikemukakan Owen adalah dengan mengajukan usul pada pemerintah untuk mengganti kompensasi mereka kepada para buruh miskin dengan membangunkan sebuah perkampungan yang layak dilengkapi dengan unit indusri. Nantinya, Owen berharap mereka bisa menggunakannya untuk memproduksi barang-barang kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya unit kerja dalam bentuk perkampungan industry tersebut diharapkan berguna untuk melatih para buruh lebih mandiri dan tidak bergantung pada kaum kapitalis yang menguasai perindustrian.

Beberapa tahun setelahnya, sosialisme semakin dikenal luas. Kira-kira pada tahun 1832, majalah Prancis, “Le Globe” mempopulerkan istilah ini sebagai salah satu doktrin dari cita-cita Saint Simon. Kemudian pada tahun 1840 di Eropa Barat ada gerakan sosialis kaum Buruh bersama Liga Keadilan (League of The Lust). Kemunculan organisasi tersebut tidak lain juga sebagai impact dari meluasnya sosialisme sebagai suatu paham atau ideology. Terlebih setelah Owen yang notebene merupakan pengusaha sukses di Inggris, juga mendukung adanya perbaikan hak-hak untuk buruh.

Meskipun sosialisme sudah berkembang karena meluasnya penggunaan istilah tersebut, tapi kemunculannya sendiri sudah terjadi jauh sebelum itu. Sejak zaman Yunani Kuno, sosialisme sudah terkonsep dengan baik oleh Plato dalam bukunya yang berjudul “Republica”. [2] Plato menggambarkan bahwa penguasa tidak mempunyai kekayaan pribadi, semua yang dimiliki negara baik itu hasil produksi maupun konsumsi dibagikan dengan rata kesemua rakyat yang ada di negara tersebut. Kekuasaan yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan rakyat tergambar jelas dalam konsep Plato tersebut. Konsep itu jugalah yang menjadi landasan revolusi sosial di Eropa.

Pada perkembangan selanjutnya, tahun 1750-1840 ketika revolusi terjadi di Eropa, Inggris mengawalinya dengan revolusi industry. Revolusi ditandai dengan perubahan dari produksi yang dulunya dikerjakan dengan tangan manusia menjadi dikerjakan oleh mesin-mesin. Akibat revolusi tersebut, muncul kelompok-kelompok sosial baru sebagai dampak dari menjamurnya industry-industri. Kelompok-kelompok sosial tersebut kini benar-benar menjadi sangat berjarak, sehingga menimbulkan permasalahan karena kekecewaan buruh yang tidak dipedulikan majikannya.

Revolusi tersebut pada akhirnya menimbulkan urbanisasi dan kapitalisme modern, memaksa kaum buruh ‘tersendat’ kehidupannya. Mereka semakin tak berdaya menghadapi para pemegang modal, bahkan nyatanya mereka hanya sebatas ‘pekerja’. Karena semakin terdesak, kaum buruh akhirnya merasa ‘gerah’ dan kemudian melancarkan protes kepada kaum borjuis. Mereka menuntut para kapitalis, menuntut diadakannya reformasi secara sosial dan ekonomi sehingga tidak ada lagi kelas sosial dan penguasaan ekonomi yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Aksi yang dilakukan kaum buruh tersebut diabadikan oleh seorang penulis terkenal dari Prancis bernama Francois Babeuf. Dia berpendapat bahwa semua orang mempunyai hak yang sama pada kekayaaan diatas bumi. [3] Masih dari negara yang sama, H.S. Simon juga mengusulkan penghapusan hak waris sehingga mengharuskan setiap orang untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan mereka.

Bisa dikatakan bahwa latar belakang dalam perkembangan sosialisme di Eropa mempengaruhi perkembangan di tempat lain di era-era setelahnya. Sosialisme berkembang dengan pola yang berbeda dan cenderung unik, karena meskipun terpengaruh oleh revolusi di Eropa, tapi keadaan tersebut bisa berubah sesuai kondisi sosial dan terutama ekonominya. Sosialisme sebagai ideology, menurut pendapat dari Thomas Moore, fenomena yang ada di negara-negara kapitalis Eropa Barat bisa berkembang menjadi sosialisme murni. Sedangkan untuk sosialisme yang berkembang di negara yang tidak mempunyai tradisi liberal yang kuat, paham ini akan bermetamorfosa menjadi fasisme, misal di Italia. Meski memiliki kecenderungan perbedaan sebagai dampak dari kondisi negara yang bersangkutan, sosialisme tetap mengandung cirri khas yang sama, yakni penghapusan hak-hak pribadi, pemberian kesempatan yang sama bagi setiap orang, perhatian terhadap hakikat kehidupan sosial setiap orang, dan sikap optimis.

Sementara itu, perkembangan sosialisme di Indonesia dikenal dengan Sosialisme Pancasila. Prinsip dasarnya diambil dari gabungan antara sosialisme dan ideology pancasila yang terkandung pada pasal 33 UUD 1945. Sosialisme Pancasila memilik hak dan kewajiban untuk mensukseskan pendalaman pancasila yang berusaha mengadakan keseimbangan antara milik individu dan milik bersama. Sosialisme Pancasila yang telah berkembang di Indonesia sendiri pada mulanya berdasarkan bukan pada sosialisme murni, melainkan pada sosialisme hasil pemikiran Karl Marx dan Frederich Engels. Hal ini bisa dipahami mengingat bahwa kemunculan pertama sosialisme di Indonesia adalah ketika Indonesia berada dibawah pemerintah colonial Belanda. Ketika itu kurang lebih pada tahun 1914, ISDV (Indische Sociaal-Democratishce Vereeniging) yang mulai menyebarkan paham sosialisme.[4] Keterlibatan beberapa cendekiawan Indonesia yang saat itu terpaksa ‘mengungsi’ ke luar negeri juga cukup berpengaruh. Ilmu dan pengalaman hidup mereka saat di tanah orang, sekembalinya lagi ke Tanah Air juga menjadi sumbangsih pada perkembangan sosialisme di Indonesia.

Pada perkembangan akhir, cita-cita Sosialisme Pancasila yaitu tentang pilihan paham untuk Indonesia yang lahir karena kondisi sosial kemiskinan rakyat. Walaupun ada pengaruh dari ISDV dan atau tokoh-tokoh lainnya, tidak mengurangi esensi dari sosialisme Indonesia yang memang didasarkan pada kepentingan rakyat. Baru pada tahap selanjutnya, terdapat cerminan pada ideology bangsa, yaitu Pancasila, yang telah termaktub dalam UUD 1945.

 

Tokoh-tokoh Pelopor Sosialisme

Pesatnya perkembangan sosialisme, terutama yang terjadi pada awal abad 19 dipelopori oleh tokoh-tokoh pemikir dunia, diantaranya yaitu :

  1. Robert Owen
  2. Henri Saint Simon
  3. Karl Marx
  4. Thomas Moore

Selain di dunia, beberapa tokoh local Indonesia juga memiliki sumbangsih yang cukup besar dalam perkembangan sosialisme, yakni :

  1. Sutan Syahrir
  2. Tan Malaka
  3. Soekarno
  4. Hatta

 

 

Referensi Pendukung

Ebenstein, William dan Edwin Fogelman. 1990. Isme-isme Dewasa Ini. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Nyoman Dekker. 1993. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Malang : IKIP Malang Press.

Schmandt, Henry J. 2002. Filsafat Politik : Kajian HIstoris dari Zaman Yunani Kuno sampai Modern. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

[1] Henry J. Schmandt, Filsafat Politik : Kajian HIstoris dari Zaman Yunani Kuno sampai Modern, terj., cet.1, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 511.

[2] William Ebenstein dan Edwin Fogelman, Isme-isme Dewasa Ini, ed.9, (Jakarta : Erlangga, 1990), hlm. 220.

[3] Henry J. Schmandt, op.cit, hlm. 510.

[4] Nyoman Dekker, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, (Malang : IKIP Malang, 1933), hlm. 33.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s