Anything

Review Film Sabtu Bersama Bapak

Konnichiwa, minna! Long time no see 😀 I mean, since the last time I posted something about movies. *grin* and now, I’ll share my opinion about one of Indonesian movie. Lets check this out! 😉

*****************

Sabtu Bersama Bapak merupakan sebuah film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Adhitya Mulya. Jujur, gue pribadi belom baca novelnya. Pertama, karena belom punya waktu yang bener-bener luang. Kedua dan ini yang paling penting adalah karena gue belom punya duit! 🙈😳 oke, abaikan.

Niatnya sih, begitu selesai nonton film nya, mau gue langsung bikinin review. Tapi apa daya, mata udah 5 watt. Fyi, baru beberapa hari lalu kok gue nontonnya. Emmmm tapi as usual yaaa. Spoiler alert! *lol*

Gunawan (diperankan Abimana Aryasatya), seorang kepala keluarga dengan kehidupan yang nyaris sempurna. Memiliki istri (Itje, yang diperankan Ira Wibowo) cantik, pintar memasak, dan juga setia, serta dua jagoan kecilnya yang tampan: Satya dan Cakra. Sayang, kehidupannya mendadak penuh tangis karena ia mengidap kanker stadium akhir.

Kenyataan pahit tersebutlah yang membawa Gunawan bersikap tegar dan berusaha semaksimal mungkin agar tetap bisa membimbing keluarganya, meski dia sendiri tahu hidupnya tak akan lama lagi. Gunawan lantas membuat video yang ia rekam sepenuh hati, berharap pesan dan nasihatnya bisa membantu Itje, dan buah hati mereka melalui hidup tanpa sang ayah.

Bertahun kemudian, Satya dan Cakra tumbuh menjadi pemuda tampan dan dewasa. Bu Itje pun sukses dengan bisnis kateringnya. Semua seakan bisa berjalan normal dan indah. Tetapi, lagi-lagi Tuhan menguji keluarga kecil itu.

Satya (diperankan Arifin Putra) yang sudah menikah, memiliki pekerjaan bagus, istri dan kedua jagoan yang mencintainya, harus dihadapkan pada pilihan sulit  ketika sang istri, Rissa (diperankan Acha Septriasa) kabur dari rumah karena sifat impulsif sang suami.

Cakra, (diperankan Deva Mahenra) seorang kepala direktur yang masih saja menjomblo di usianya yang sudah kepala tiga, membuat dia harus menulikan telinga karena di bully bawahannya. Ya, meskipun tampan dan mapan, nyatanya Cakra kesulitan menjalin hubungan dengan wanita. Terlebih karena sang ibu, Itje, terus mendesaknya untuk segera menyusul sang kakak.

Itje, yang walaupun tampak tegar dan kuat mengasuh kedua putranya setelah ditinggal Gunawan, juga memiliki masalahnya sendiri. Ia divonis menderita tumor ganas.

Bagaimana keluarga kecil ini menyelesaikan masalah mereka? Bisakah video-video Gunawan membimbing istri, dan anak-anaknya? Semua itu terjawab dengan lugas tapi manis dalam film berdurasi 110 menit ini.

Satya akhirnya menyadari kesalahannya karena terlalu menyepelekan Rissa yang telah berjuang menjadi istri ‘sempurna’ bagi dia. Fokusnya pada rencana masa depan, justru membuat Satya kehilangan apa yang sedang digenggamnya di masa sekarang. Ya, kurang lebih seperti itulah ‘teguran’ Gunawan saat ‘mengunjungi’ Satya dalam mimpi. Ia dan Rissa pun akhirnya berdamai.

Saya butuh kamu. Tapi saya ga butuh kamu sesempurna bapak kamu. -Rissa kepada Satya.

Cakra pun perlahan mulai belajar untuk lebih berani kepada wanita yang ditaksirnya, Ayu. (Diperankan oleh Sheila Dara). Dengan dibantu dua karyawan sekaligus sahabatnya, Firman (diperankan Ernest Prakasa) dan Wati (gue lupa siapa yang meranin. *lol*) Cakra mulai merubah sikapnya agar lebih macho. Ayu, yang dulunya pernah mengalami trauma karena di-pdkt-in oleh cowo yang setipe dengan Cakra, memilih untuk menjaga jarak dengan sang bos. Patah arang, Cakra mudik ke rumah sang ibu dan menumpahkan keluh kesahnya. Itje, yang tidak tega pun mengusulkan agar Cakra berkenalan dengan putri sahabatnya bernama Retni. (Atau retna ya? Duh kok gue lupa? 😝) putri sahabat Itje ini juga bekerja di Jakarta, sehingga akan lebih mudah untuk Cakra mengatur pertemuan. Dan ternyata… wanita anak sahabat ibundanya itu adalah Ayu!

Kebetulan yang agak konyol tersebut membawa mereka mengenal lebih dalam. Cakra akhirnya tau apa alasan Ayu ‘trauma’ dengan lelaki seperti dirinya. Sebaliknya, Ayu pun jadi lebih memahami filosofi hidup dan juga cinta Cakra yang tertanam erat karena nasihat Gunawan.

Menjalin suatu hubungan itu butuh dua orang yang kuat. Itu adalah tanggung jawab masing-masing. Kata bapak saya begitu… -Cakra kepada Ayu.

Itje pun mulai ‘menyerah’ untuk bersikap egois dengan menyembunyikan sakitnya. Ia pun jujur kepada kedua anaknya. Meski awalnya terpukul, Cakra dan Satya berusaha menghibur sang ibunda agar tegar dan terus berusaha demi kesembuhannya. Akhirnya, setelah operasi selanjutnya tumor Itje berhasil diangkat dan ia pun mulai pulih.

************************

Yak, itulah tadi sedikit review plus sinopsis dan spoiler dari gue. Well, untuk keseluruhan nilai ini gue kasih 8 dari skala 10. Why? Here’s the reasons :

-Ira Wibowo dan Abimana Aryasatya sebenernya cocok memerankan pasangan suami istri disini. Sayangnya, pengaruh make up Ira Wibowo ketika dia sudah tua jadi agak njomplang dan terkesan nenek-nenek banget. Beda sama Abimana yang masih kelihatan gagah. Perhaps, yang memerankan Itje paling ga yang seumuran sama si Abimana deh.

-chemistry antara Deva Mahenra dan Sheila Dara menurut gue belom sebagus Arifin Putra dan Acha Septriasa. Entah kenapa, tapi gue agak kurang sreg aja sih.

remember guys, itu bener-bener murni opini gue. Jadi yaaa kalo kalian ga setuju sama alasan gue kasih nilai 8, jangan nimpukin gue loh! ✌😀 pssstt… kindly likes or comments please. I really wanna know your opinion about ‘SBB’ 😉

Advertisements

One thought on “Review Film Sabtu Bersama Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s