Buah Pena

Terluka atau Gembira?

Ada yang berubah darinya. Tapi aku tak tahu itu apa.

Bukan wajahnya, karena ia masih rupawan dan begitu memikat.
Bukan fisiknya, karena ia masih saja molek dengan kesempurnaannya.
Bukan pula senyumnya, karena ia masih terukir indah, memamerkan lesung manis di pipinya.

Oh tentunya bukan itu… Bukan wajah, senyum, apalagi fisikmu. Kamu terlalu dan akan selalu sempurna. Termasuk untukku.

Tapi ada yang mengganjal. Ada yang kosong saat melihat sosokmu. Ada yang berubah. Yang sialnya, aku masih tak mengerti apa itu.

Lalu berhari setelahnya, kamu masih tetap sama. Untuk sesaat, kita berserobok. Dan bodohnya, aku baru tersadar. Itulah yang berubah : Mata hitam pekatmu kehilangan binarnya.

Tanpa sadar aku menahan nafas ketika pandangan sendu mu menatapku. Seketika, kamu mengalihkan wajah dan kembali bercengkrama dengan teman-temanmu.

Oh, Tuhan.

Lantas aku merasa bodoh. Mungkin kita memang dekat. Atau setidaknya, tiga tahun bersama dalam satu ruangan, membuatku merasa dekat denganmu. Tapi tentu saja, aku bodoh karena menjadi pengecut yang hanya berani menjadi temanmu. Bukan kekasihmu.

Kamu teman yang baik, Ga. Sungguh. Kamu selalu setia mendengar keluhku tentang Andi. Pun sekedar kelakar konyolku yang herannya bisa membuatmu tertawa.

Ya, aku masih ingat ucapanmu itu. Dulu, dua tahun lalu ketika kamu resmi menjadi kekasihnya. Mata mu berbinar indah, dan aku ikut bahagia. Walau tentu saja, mendengar kau sudah resmi dimiliki laki-laki lain tak urung membuatku tersayat juga.

Tapi tak apa… bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa mencintai tidak harus memiliki? Aku cukup senang kamu masih bersedia membagi harimu denganku. Sekedar mengerjakan tugas kuliah bersama, atau mendengar cerita kencanmu dengannya.

Makanya, Ga. Kamu buruan gih cari pacar. Biar nanti kita bisa double date! Hihihihi…

Nasihat (atau ajakan?) mu itu tak terlaksana sampai sekarang. Aku akhirnya menyadari perubahanmu. Kecil memang, bahkan teman-teman wanitamu tak memyadarinya.

But, hey. I knew you earlier than them, right? Tapi sungguh, menyadari kamu berubah seperti ada yang salah. Melihat binar matamu tak lagi indah. Selalu sendu menyayat, seakan hatimu telah berkarat.

Aku putus sama Andi, Ga. Setelah dua tahun, dan aku sadar kalau ternyata aku menyakiti hatinya. Aku tidak benar-benar mencintai dia. Aku bodoh ya, Ga? Bodoh karena tidak bisa mendengar suara hatiku sendiri. Bodoh karena mengecewakan lelaki sebaik Andi.

Kurang lebih itu jawabanmu setelah seminggu aku mengamati perubahan itu. Aku terkejut, tak menyangka kamu bisa menahan pedih itu. Tapi, setelah seminggu perlahan aku menyadari. Kamu mulai ceria kembali. Setidaknya, binarmu bersemi lagi. Dan aku bahagia. Itu cukup.

Kamu pun masih sama: gadis agak tomboy tapi sangat sensitif yang mengagumi purnama. Rekahan sempurna sang bulan itu membantumu menyembuhkan patah.

You’reย such a nice guy I’ve ever met, Ga. Aku ga tau akan gimana masa-masa awal kuliahku kalau ga ketemu kamu. Aku juga mungkin ga akan setegar sekarang setelah putus sama Andi. Yah, walaupun aku yang salah, tapi patah hati tetep ga enak ya, Ga? Tapi… walaupun terluka, aku tetap bahagia kok, Ga. Terimakasih ya? ๐Ÿ™‚

Dan malam itu, di puncak bukit yang menjadi persembunyian kita, kamu tersenyum lembut. Mengantarkan sensasi hangat ke seluruh pembuluh darahku. Suasana ini… sama seperti awal perjumpaan kita ketika masih sama-sama diplonco panitia OSPEK. Senyum pengertian yang manis, yang menggetarkan hatiku.

Oh Tuhan… Aku juga pernah terluka. Melihat gadis didepanku sudah mulai menyembuhkan luka hatinya, aku ikut bahagia. Semoga ‘kita’ segera terwujud, ya? Kali ini, aku ingin menjadi tumpuanmu, bukan hanya pendengarmu. Kali ini, dengan ditemani sekoteng hangat dan cerahnya purnama, sungguh aku berdoa, akulah orangnya.

And I’m still, and always hope that it’s going to be us : you and me.

Advertisements

17 thoughts on “Terluka atau Gembira?

  1. pertama, yang membuat hatimu tersayat karena dia jadian sama Andi, kedua tokoh Ga itu siapaaa? ๐Ÿ˜‚ penulis itu sudut pandang keberapa sih? :v “such a nice guy I ever met”?, kalo Ga sedih liat temennya jadian sama Andi, trus dikatain temennya itu “nice guy”, berarti Ga homo dong? ntahlah cuman komen spam ini๐Ÿ˜‚

      1. wkwk Arga punya hubungan apa sama penulis?๐Ÿ˜… duh ora ruh aku mbak, hehe ya lagian ngepost gawaw muluk, tak gangguin to jadinya๐Ÿ˜…

      2. Arga itu penulisnya!!!! Maigat gini deh kalo cowo ga bisa mencerna fiksi ๐Ÿ˜”๐Ÿ˜ฃ itu gak galaw yooo. Itu kan masuknya di kategori ‘buah pena’ deekk.

      3. woalah, wkw itu karangannya belum user-friendly sih๐Ÿ˜… emang ada kategori galau? ga ada kayake๐Ÿ˜‘

      4. hehe salah deh ngeritik cewek tuh๐Ÿ˜ช walah hha uhh, cah cintaaa, buah penanya kayak gitu semua ya๐Ÿ˜‚

      5. iyaa kalo seadanya keluar dari otak, berarti kan pikiran mbake mayoritas cinta-cintaan to๐Ÿ˜…

      6. wkw gitu ya alibinya *pis๐Ÿ˜… sabar mbak sabar, nanti nggak kelar-kelar lho scriptshitnya๐Ÿ˜‚โœŒ

      7. weleh weleh mbak calon bu guru mah gitu, ra asik lah, gak nduwe konco virtual meneh akuu๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚

      8. ndak gitu mbak, duh saya ndak suka mainan cewek yo๐Ÿ˜… mbak e suka main dota? pake karakter yang mana mbak? saya udah nggak main e๐Ÿ˜‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s