Anything

Ringkasan Materi Kerajaan-kerajaan Masa Hindu Budha (bagian 1)

  1. Perkembangan Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai merupakan kerajaan hindu pertama dan tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai diperkirakan terletak di daerah Muarakaman di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sungai Mahakam merupakan sungai yang cukup besar dan memiliki beberapa anak sungai. Daerah di sekitar tempat pertemuan antara Sungai Mahakam dengan anak sungainya diperkirakan merupakan letak Muarakaman dahulu.

Sumber sejarah Kutai yang utama adalah prasasti yang disebut yupa, yaitu berupa batu bertulis. Yupa juga sebagai tugu peringatan dari upacara kurban. Yupa ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. Prasasti Yupa ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa sanskerta. Dengan melihat bentuk hurufnya, para ahli berpendapat bahwa yupa dibuat sekitar abad ke-5 M.

Hal menarik dalam prasasti itu adalah disebutkannya nama kakek Mulawarman yang bernama Kudungga. Kudungga berarti penguasa lokal yang setelah terkena pengaruh Hindu-Buddha daerahnya berubah menjadi kerajaan. Walaupun sudah mendapat pengaruh Hindu-Buddha namanya tetap Kudungga berbeda dengan puteranya yang bernama Aswawarman dan cucunya yang bernama Mulawarman. Oleh karena itu yang terkenal sebagai wamsakerta adalah Aswawarman.

Satu di antara yupa itu memberi informasi penting tentang silsilah Raja Mulawarman. Diterangkan bahwa Kudungga  mempunyai putra bernama Aswawarman. Raja Aswawarman dikatakan seperti Dewa Ansuman (Dewa Matahari). Aswawarman mempunyai tiga anak, tetapi yang terkenal adalah Mulawarman. Raja Mulawarman dikatakan sebagai raja yang terbesar di Kutai. Ia pemeluk agama Hindu- Siwa yang setia. Tempat sucinya dinamakan Waprakeswara. Ia juga dikenal sebagai raja yang sangat dekat dengan kaum brahmana dan rakyat. Raja Mulawarman sangat dermawan. Ia mengadakan kurban emas dan 20.000 ekor lembu untuk para brahmana. Oleh karena itu, sebagai rasa terima kasih dan peringatan mengenai upacara kurban, para brahmana mendirikan sebuah yupa.

Pada masa pemerintahan Mulawarman, Kutai mengalami  zaman keemasan. Kehidupan ekonomi pun mengalami perkembangan. Kutai terletak di tepi sungai, sehingga masyarakatnya melakukan pertanian. Selain itu, mereka banyak yang melakukan perdagangan. Bahkan diperkirakan sudah terjadi hubungan dagang dengan luar. Jalur perdagangan internasional dari India melewati Selat Makassar, terus ke Filipina dan sampai di Cina. Dalam pelayarannya dimungkinkan para pedagang itu singgah terlebih dahulu di Kutai. Dengan demikian, Kutai semakin ramai dan rakyat hidup makmur.

Satu di antara yupa di Kerajaan Kutai berisi keterangan yang artinya: “Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, (bertempat) di dalam tanah yang sangat suci (bernama) Waprakeswara”.Kerajaan Kutai runtuh saat rajanya yang bernama Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Pangeran Anum Panji Mendapa.

Kehidupan masyarakat di kerajaan Kutai yakni sebagai berikut :

  1. Sosial

Dengan berdirinya kerajaan Kutai menunjukkan bahwa dalam awal abad ke-V di Indonesia telah terjadi perpaduan antara unsur-unsur kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Indonesia.

  1. Dinasti

Karena raja pertama dari kerajaan Kutai itu bernama Kudungga, maka ini jelas menunjukkan nama orang Indonesia asli. Kalau ada raja-raja yang bernama Aswawarman, Mulawarman, dan lain-lain, ini jelas pengaruh dari kebudayaan Hindu yang berusaha men-Sanskriti-sasi nama-nama Indonesia.

  1. Ekonomi

Terdapat kemungkinan bahwa mata pencaharian rakyat Kutai itu adalah perdagangan di samping juga pertanian memegang peranan penting. Mengingat letak dari kerajaan Kutai itu, maka jalan lalu lintas dagang waktu itu ada yang melalui Selat Makassar sampai Filipina terus ke Cina.

  1. Agama

Salah satu kata dari Prasasti Kutai ada yang berbunyi Waprakeswara. Kata ini berarti Ayah dewa-dewa. Yang dimaksud dengan Ayah dewa-dewa ialah dewa Syiwa. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa rakyat Kutai menganut agama Syiwa

 

  1. Perkembangan Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan tertua kedua di Indonesia dan tertua di Jawa. Kerajaan Tarumanegara diperkirakan terletak di tepi Sungai Citarum, Bogor, Jawa Barat. Nama kerajaan ini berasal dari bahasa sunda Taruma atau Tarum yang berarti nila atau biru.

Sumber sejarah Tarumanegara berasal dari berita asing dan prasasti-prasasti. Berita asing mengenai keraajaan ini terutama berasal dari Tiongkok atau Cina, khususnya pada masa Dinasti Tang. Isi pokok berita tersebut adalah bahwasanya Kerajaan To-lo-mo (Tarumanegara) mengirim utusan ke Tiongkok pada kurun waktu 528, 538, 665, dan 666 M. Selain itu juga diperkuat dengan laporan Fa Hien yang pada tahun 414 M sempat terdampar di Pantai Utara Jawa. Ia mengatakan bahwa pada waktu itu sudah ada pemukiman dimana mereka sudah terpengaruh agama Hindu. Sedangkan untuk prasastinya juga memiliki ciri khas yang sama dengan Kutai, yaitu berbahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Adapun prasasti-prasasti yang berhasil ditemukan diantaranya :

  1. Prasasti Ciaruteun atau Prasasti Ciampea (Bogor)

Prasasti ini berisi empat baris kalimat dan pahatan lukisan lebah-lebah dan sepasang telapak kaki. Adapun bunyi kalimat prasasti tersebut adalah : “Ini kedua telapak kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu, adalah kaki yang Mulia Purnawarman, raja di negeri Taruma, raja yang sangat gagah berani.”

  1. Prasasti Kebon Kopi (Bogor)

Prasasti ini melukiskan adanya dua kaki gajah yang disamakan dengan tapak kaki gajah Aerawata.

  1. Prasasti Jambu atau Pasir Koleangkak (Bogor)

Prasasti ini berisi tentang kegagahan Raja Purnawarman, bahwasanya : “gagah, mengagumkan, dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya, yang termashyur Sri Purnawarman, yang memerintah di Taruma dan yang baju zirahnya tak dapat ditembus oleh musuh.”

  1. Prasasti Pasir Awi (Leuwiliang)

Prasasti ini menggambarkan lukisan atau pahatan berupa gambar dahan dengan ranting, dedaunan dengan buah-buahan, dan gambar sepasang telapak kaki.

  1. Prasasti Tugu (Tanjung Priuk)

Prasasti ini berisi tentang perintah Raja Purnawarman kepada rakyat untuk mrnggali saluran air Gomati dan Chandrabaga sepanjang 6.112 tombak yang selesai dalam 21 hari.

  1. Prasasti Lebak atau Prasasti Cidanghiyang (Banten Selatan)

Prasasti ini kembali menggambarkan sosok Purnawarman sebagai sosok raja yang disegani rakyat, bahwasanya : “Inilah tanda keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguh-sungguhnya dari raja dunia, yang mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja.”

  1. Prasasti Muara Cianten (Bogor)

Prasasti ini menjadi prasasti yang belum bisa dibaca oleh para sejarawan dan arkeolog dikarenakan menggunakan huruf ikal yang lebih sulit dipahami daripada huruf Pallawa.

Berbeda dengan Kutai yang sudah memiliki ‘catatan’ pada Yupa nya mengenai silsilah perkembangan kerajaan, di Tarumanegara hal tersebut tidak ditemukan. Dalam ketujuh prasasti, satu-satunya Raja yang disebutkan hanyalah Purnawarman, dimana dia merupakan raja yang terbesar. Meski demikian, prasasti-prasasti tersebut bukan satu-satunya bukti sejarah mengenai silsilah raja-raja Tarumanegara. Naskah Wangsakerta menjadi hal yang cukup penting dalam perkembangan Tarumanegara, walaupun memang naskah ini masih diperdebatkan oleh sejarawan tentang keasliannya.

Menurut naskah tersebut, pada abad ke 4 M, pulau dan beberapa wilayah Nusantara lainnya kedatangan pengungsi India yang cukup banyak. Mereka kabur untuk menyelamatkan diri dari peperangan besar yang terjadi di India. Para pengungsi itu sendiri umumnya berasal dari Kerajaan Palawa dan Calankayana di India.

Salah satu rombongan pengungsi dipimpin oleh seorang maharesi India bernama Jayasingawarman. Ketika rombongan ini tiba di pesisir Sunda, Jayasingawarman segera menemui raja Dewawarman VIII yang merupakan penguasa daerah tersebut. Jayasingawarman meminta kemurahan hati sang Raja untuk membuka hutan sebagai pemukiman pengungsi di dekat aliran sungai Citarum. Permintaan Jayasingawarman dikabulkan, dan selang beberapa waktu, pemukiman tersebut dinamakan Tarumadesya (desa Taruma).

Beberapa tahun kemudian, desa ini kedatangan penduduk dari daerah lain, sehingga desa semakin besar dan ramai. Semakin besarnya Tarumadesya sehingga setingkat dengan Nagara (kota) , Jayasingawarman pun memutuskan untuk mendirikan kerajaan. Hingga selanjutnya dikenallah Tarumanegara.

Kerajaan Tarumanegara mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin Purnawarman. Di bawah pemerintahannya, Tarumanegara diperluas dengan menaklukan kerajaan-kerajaan yang berada di sekitarnya. Tercatat, luas Tarumanegara sama dengan luas provinsi Jawa Barat sekarang. Di sisi lain, Purnawarman juga menyeimbangkannya dengan bidang administrasi, politik, dan militer yang baik. Ia menyususn undang-undang kerja, peraturan angkatan perang, siasat perang, serta silsilah dinasti Warman. Di rakyatnya, ia juga dikenal sebagai raja yang kuat dan bijak.

Runtuhnya kerajaan ini dimulai ketika raja ke 12, yaitu Linggawarman, yang memiliki dua orang putri bernama Dewi Manasih dan Soba Kencana. Dewi Manasih yang menikah dengan Tarusbawa, menjadi penerus Linggawarman. Ketika naik tahta, Tarusbawa memindahkan pusat kerajaan Tarumanegara ke kerajaannya sendiri, yaitu Kerajaan Sunda, dimana kerajaan kecil tersebut sebenarnya merupakan bagian dari Tarumanegara.

Kehidupan masyarakat di kerajaan Tarumanegara yakni sebagai berikut :

  1. Sosial

Sama seperti Kutai, kerajaan Tarumanegara juga sudah mendapat pengaruh Hindu-Budha. Kehidupan masyarakatnya juga sudah teratur.

  1. Pemerintahan

Pendiri awal kerajaan Tarumanegara adalah Jayasingawarman (358-382 M) yang merupakan maharesi dari India. Berturut-turut setelahnya, para raja Tarumanegara berasal dari keturunan.

  1. Ekonomi

Mata pencaharian utama rakyat adalah pertanian. Ini juga merupakan anugerah dari aliran sungai Cisadane. Terlebih lagi ketika masa pemerintahan Purnawarman yang memajukan pertanian dengan membangun saluran irigasi, maka kehidupan pertanian rakyat semakin baik. Selain pertanian, ada juga yang melakukan perdagangan. Tercatat bahwa Tarumanegara sudah melakukan hubungan dagang dengan Cina.

  1. Agama

Dari penggambaran atau isi prasasti-prasasti peninggalan Tarumanegara, mayoritas memeluk agama Hindu, termasuk sang Raja. Tidak seperti Kutai yang memeluk Hindu-Syiwa, kerajaan Tarumanegara memeluk Hindu-Wisnu.

 

  • Perkembangan Kerajaan Holing

Kerajaan Holing, atau yang juga sering disebut Kerajaan Kalingga merupakan kerajaan Hindu yang terletak di daerah dataran tinggi. Ibukota kerajaan ini memang belum pasti dimana letak persisnya. Peta, prasasti dan naskah kuno kebanyakan hanya menyebut bahwa kerajaan Holing memiliki wilayah yang luas dan dikelilingi tanah subur dengan pemandangan dua buah gunung (Sindoro dan Sumbing).

Berita atau sumber yang paling banyak menceritakan tentang kerajaan Holing adalah mengenai kemajuan Holing dibawah pemerintahan Ratu Sima. Selain itu beberapa sumber sejarah dari kerajaan ini juga berasal dari berita Cina, yaitu berita yang ditulis I-Tsing dan berita dari masa Dinasti Tang.

Kehidupan masyarakat di kerajaan Kutai yakni sebagai berikut :

  1. Sosial Ekonomi

Kehiidupan masyarakat dibidang ini diantaranya telah maju dan berbudaya tinggi. Untuk mata pencaharian sehari-hari mayoritas rakyat kerajaan Holing adalah di bidang agraris. Meski demikian ada juga yang berdagang.

  1. Pemerintahan

Kerajaan Holing belum diketahui awal mula pemerintahaannya. Kehidupan pemerintahan di kerajaan ini diketahui saat masa kejayaannya, yaitu masa pemerintahan seorang wanita bernama Ratu Sima. Dibawah kekuasaannya, Holing sudah memiliki tatanan hokum dan undang-undang yang dipatuhi rakyatnya.

  1. Kebudayaan

Kerajaan Holing juga sudah menganut agama Hindu. Mereka juga sudah mengenal pengetahuan dan ilmu teknologi lainnya.

 

  1. Perkembangan Kerajaan Medang Kamulan

Perkembangan kerajaan ini diawali oleh Mpu Sindok yang memindahkan pusat kekuasaan dan mendirikan wangsa atau dinasti baru bernama Isyana (Isana). Berdasarkan sumber sejarah yang memuat mengenai kerajaan ini, Mpu Sindok memindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Letak kerajaan baru ini berada di muara Sungai Brantas.

Sumber sejarah yang banyak membahas kerajaan Medang Kamulan berasal dari prasasti dan berita asing. Prasasti diantaranya adalah prasasti yang ditemukan di desa Tangeran (daerah Jombang pada masa sekarang) yang berangka tahun 933, dan prasasti yang ditemukan di Kabupaten Nganjuk dan berangka tahun 939. Selain itu sumber sejarah Medang Kamulan dapat ditemukan dari adanya berita India dan Cina.

  1. Sosial Ekonomi

Kehidupan rakyat kerajaan Medang Kamulan sudah maju, terlebih karena letaknya yang strategis karena berada di dekat Sungai Brantas. Perekonomian di kerajaan Medang Kamulan masih berpusat pada bidang agraris, sama seperti kerajaan Hindu-Budha yang berlokasi di dekat aliran sungai.

  1. Pemerintahan

Raja pertama Medang Kamulan adalah Mpu Sindok, dimana setelah ia berhasil memindahkan pusat kekuasannya, terbentuklah juga sebuah dinasti baru. Setelah wafat, Mpu Sindok digantikan oleh cucunya yang bernama Dharmawangsa Teguh. Raja kedua ini memiliki kecakapan dan visi politik yang tajam. Terbukti dengan keinginannya dengan mengirim serangan ke Selat Malaka yang ditujukan untuk kerajaan Sriwijaya. Sayangnya, serangan ini berhasil dipadamkan, bahkan Dharmawangsa Teguh pun gugur.

Serangan balik yang dilakukan Kerajaan Sriwijaya guna mematahkan Dharmawangsa Teguh mengakibatkan kerajaan Medang Kamulan sempat runtuh dan jatuh. Hingga kemudian naiklah Airlangga sebagai penerus kerajaan dan merebut kembali kerajaan Medang Kamulan. Di bawah pemerintahannya, kerajaan ini berkembang pesat. Meski demikian, kerajaan ini malah terbagi dua menjadi kerajaan Jenggala (Kahuripan) dan kerajaan Kediri (Panjalu).

  1. Kebudayaan

Bidang kebudayaan kerajaan Medang Kamulan sudah dapat dikatakan maju. Hal ini dapat dibuktikan dengan peninggalan berupa prasasti dan candi. Medang Kamulan menganut agama Hindu.

 

  1. Perkembangan Kerajaan Mataram Kuno

Terletak di provinsi Jawa Tengah dan sering juga disebut Bhumi Mataram. Letaknya cukup strategis karena diapit oleh sungai dan pegunungan, seperti pegunungan Serayu dan Sindoro Sumbing, serta Sungai Progo dan Bengawan Solo. Perkembangan kerajaan ini diawali oleh Dinasti Sanjaya. Baru kemudian pada pertengahan abad ke 8, muncul dinasti baru yakni, DInasti Syailendra.

Sumber sejarah kerajaan Mataram Kuno kebanyakan berasal dari prasasti dalam negeri. Hal ini tidak lain karena kondisi dan lingkungan Mataram Kuno yang sulit dijangkau sehingga cukup terisolasi dengan dunia luar. Beberapa prasasti yang menjadi sumber sejarah kerajaan ini, yaitu :

  • Prasasti Canggal, ditemukan di halaman Candi Guning Wukir di desa Canggal berangka tahun 732 M. Prasasti Canggal menggunakan huruf pallawa dan bahasa Sansekerta yang isinya menceritakan tentang pendirian Lingga (lambang Syiwa) di desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya dan disamping itu juga diceritakan bawa yang menjadi raja sebelumnya adalah Sanna yang digantikan oleh Sanjaya anak Sannaha (saudara perempuan Sanna).
  • Prasasti Kalasan, ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta berangka tahun 778M, ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sansekerta. Isinya menceritakan pendirian bangunan suci untuk dewi Tara dan biara untuk pendeta oleh Raja Pangkaran atas permintaan keluarga Syaelendra dan Panangkaran juga menghadiahkan desa Kalasan untuk para Sanggha (umat Budha).
  • Prasasti Mantyasih, ditemukan di Mantyasih Kedu, Jawa Tengah berangka 907M yang menggunakan bahasa Jawa Kuno. Isi dari prasasti tersebut adalah daftar silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Rakai Watukura Dyah Balitung yaitu Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, rakai Kayuwangi dan Rakai Watuhumalang.
  • Prasasti Kelurak, ditemukan di desa Prambanan berangka 782M ditulis dalam huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta isinya menceritakan pembuatan Arca Manjusri oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya.

Kehidupan masyarakat di Kerajaan Mataram Kuno mengalami perbedaan antara dinasti Sanjaya dan Syailendra. Hal yang paling mencolok adalah mengenai agama yang dianut (segi kebudayaan) dimana Sanjaya menganut agama Hindu dan dinasti Syailendra menganut agama Buddha. Dalam aspek perekonomian, kedua dinasti bertumpu pada bidang agraris, karena daerah Mataram Kuno cenderung terisolasi dan dikelilingi oleh banyak sungai serta gunung. Akibat ‘tertutupnya’ akses ke Mataram Kuno, kehidupan sosial politik kerajaan ini kurang berkembang. Sementara bidang pemerintahan, dinasti Sanjaya yang awalnya sempat terdesak dan berkonflik dengan Syailendra, kemudian bisa bersatu kembali setelah pernikahan yang dilakukan Rakai Pikatan (Syailendra) dan Pramordhawardhani (Syailendra).

  1. Perkembangan Kerajaan Kediri

Terletak di provinsi Jawa Timur. Kerajaan Kediri awalnya berdiri dari pecahan kerajaan Medang Kamulan, yaitu kerajaan Jenggala dan Kediri. Airlangga membagi kerajaannya disaat ia sudah hampir mangkat agar tidak terjadi perpecahan antara penerusnya.

Sumber sejarah kerajaan Kediri yaitu :

  • Prasasti Sirah Keting
  • Prasasti Panumbangan
  • Prasasti Ngantang
  • Prasasti Tangkilan
  • Prasasti Jaring,
  • Dan lainnya.

Kehidupan masyarakat di kerajaan Kediri berkembang pesat terutama bidang kebudayaan. Hal ini dikarenakan tingkat buta hurufnya sangat rendah. Salah satu bukti adalah banyaknya kesusasteraan yang lahir, terutama pada masa pemerintahan Raja Jayabaya. Sector perekonomian Kediri masih bersifat agraris. Tingkat kehidupan sosial masyarakat sudah sejahtera, karena selain pendidikan dan kebudayaan maju, raja juga memperhatikan kemakmuran rakyatnya.

 

Advertisements

6 thoughts on “Ringkasan Materi Kerajaan-kerajaan Masa Hindu Budha (bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s