Anything

Ringkasan Materi Kerajaan-kerajaan Masa Hindu Budha (bagian 2)

  1. Perkembangan Kerajaan Singosari

Terletak di provinsi Jawa Timur. Kerajaan ini memiliki sejarah yang cukup dramatis karena terkenal dengan intrik perebutan kekuasaan. Diawali oleh Ken Arok dari daerah Tumapel, ia berhasil merebut kekuasaan sang akuwu yang bernama Tunggul Ametung. Setelah berhasil menguasai Tumapel, Ken Arok bermaksud menjadi raja dan mendirikan Singosari setelah berhasil menaklukan Kediri dan membunuh raja terakhirnya, Kertajaya. Ken Arok pun berhasil naik tahta.

Sumber sejarah sebagai bukti pendukung kerajaan Singosari diantaranya :

  • Prasasti Kudadu
  • Prasasti Mula Malurung
  • Kitab Pararaton
  • Kitab Negarakertagama

Kehidupan masyarakat di kerajaan Singosari cenderung mengalami perubahan. Hal ini merupakan dampak dari gejolak pemerintahan di kerajaan itu sendiri. Sejak awal berdirinya, Singosari sudah mengalami intrik yang dramatis, bahkan tragis. Dari segi politik atau pemerintahan, Ken Arok yang merupakan raja pertama berusaha membangun dasar kekuatan yang kokoh. Sehingga pada masa pemerintahannya rakyat Singosari terjamin kehidupannya. Sebab, Ken Arok yang sejatinya hanyalah wong ngisor memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Bahkan, dia berhasil mendirikan wangsa Rajasa.

Tahta Ken Arok kemudian ‘direbut’ oleh Anusapati. Setelah berhasil membunuh ayah tirinya, Anusapati menjadi raja. Sayang, karena kebiasaan jeleknya dalam berjudi, Anusapati dianggap raja yang tidak becus, terlebih rakyat hidup susah saat dipimpinnya. Tidak lama bertahta, Anusapati dibunuh oleh Tohjaya.

Hampir sama dengan Anusapati, Tohjaya memerintah tidak cukup lama. Ia lantas juga digulingkan oleh Ranggawuni. Intrik tersebut baru berhenti secara damai setelah Kertanegara naik tahta. Ia sekaligus menjadi raja termashyur Singosari.

Mengenai segi perekonomian, kerajaan Singosari selain mengandalkan agraris juga cukup kuat dalam perdagangan. Sementara dalam kehidupan sosial, rakyat hidup tergantung pada kebijakan raja saat itu. Tapi secara menyeluruh rakyat hidup damai. Hanya saja kerajaan Singosari tidak meninggalkan aspek kebudayaan sebanyak kerajaan Kediri.

 

  1. Perkembangan Kerajaan Majapahit

Terletak di provinsi Jawa Timur dengan pusat pemerintahannya berada di Trowulan. Letaknya sangat strategis, karena selain berada di kawasan Laut Jawa, juga dikelilingi oleh bentangan alam berupa sungai dan pegunungan. Perkembangan kerajaan ini tidak bisa dilepaskan dari riwayat kerajaan Singasari. Hal tersebut terutama berkaitan dengan silsilah Raden Wijaya, yang masih berkerabat erat dengan Kertanegara, raja terakhir Singosari.

Sumber sejarah kerajaan Majapahit kurang lebih hampir sama dengan yang dimiliki kerajaan Singosari. Beberapa tambahannya yaitu :

  • Prasasti Bulak
  • Prasasti Harsawijaya
  • Kidung Wijayakrama
  • Berita Asing dari Cina, India, dan Arab.

Kehidupan masyarakat di kerajaan Majapahit sudah sangat mapan. Tidak hanya dari kecukupan ekonomi saja, tapi juga dari aspek lainnya. Segala tata kehidupan di Majapahit sudah terstruktur dengan baik. Terutama ketika Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih dan Hayam Wuruk naik tahta menggantikan ibunya, Tribhuwanatunggadewi.

Raja selain dibantu mahapatih juga memiliki patih-patih serta dewan lainnya yang membantu urusan kerajaan dan masyarakat. Hayam Wuruk juga rutin melakukan kegiatan yang disebut desawarwana. Kegiatan tersebut merupakan ‘kunjungan’ raja ke wilayah-wilayah Majapahit, bahkan sampai ke desa-desa kecil. Dari kegiatan tersebutlah raja mengetahui lebih mendalam dan nyata tentang keadaan rakyatnya.

Majapahit tumbuh semakin kuat ketika Gajah Mada berjanji dalam Amukti Palapa nya. Setidaknya, wilayah kerajaan Majapahit mencapai luas NKRI saat ini bahkan hingga ke semenanjung Malaya. Perkembangan pesat hingga ke luar Jawa itu tidak terlepas dari kepemimpinan yang cakap dan juga pembangunan ekonomi serta militer yang kuat. Kerajaan ini tidak hanya mengandalkan agraris semata, tapi perdagangan dan pelayarannya juga sama kuat. Meski demikian, Majapahit juga bernasib hampir sama seperti Singosari dimana hasil-hasil kebudayaannya terbatas pada bangunan seperti kompleks Candi Tikus dan Gapura Bajang Ratu.

 

  1. Perkembangan Kerajaan Sriwijaya

Terletak di provinsi Sumatera Selatan. Letak kerajaan yang terkenal sebagai kerajaan Budha bercorak bahari-maritim terbesar ini sangat strategis. Di kelilingi oleh Laut Cina Selatan, Samudera Hindia, Selat Malaka, dan Selat Berhala menjadikan Sriwijaya berkembang sebagai pusat perdagangan terpenting di wilayah Asia. Jika menilik dari runtutan perkembangannya, Sriwijaya berdiri karena kekecewaan seorang pangeran yang kemudian melarikan diri dari tanah Jawa. Balaputradewa yang terkenal sebagai raja termashyur Sriwijaya merupakan keturunan langsung dari dinasti Syailendra Mataram Kuno.

Sumber sejarah  kerajaan ini diantaranya adalah :

  • Prasasti Kedukan Bukit
  • Prasasti Talang Tuo
  • Prasasti Kota Kapur
  • Prasasti Nalanda
  • Berita Asing dari Cina, India, Arab

Kehidupan masyarakat di kerajaan Sriwijaya juga sama dengan Majapahit, dimana rakyat sudah sejahtera dan makmur. Sedikit aspek yang membedakan Sriwijaya dengan Majapahit adalah karena Sriwijaya memiliki kebudayaan dan peradaban yang tinggi. Hal tersebut dibuktikan dengan ramainya Sriwijaya dikunjungi pendeta-pendeta ataupun mereka yang ingin mendalami agama Budha. Sriwijaya juga memiliki pendeta yang termashyur sampai ke negeri lain, yaitu Darmakitri.

Selain aspek kebudayaan diatas, Sriwijaya juga berkembang menjadi kerajaan dengan basis perekonomian yang tangguh. Perdagangan dan pelayaran merupakan komponen pokok dalam ekonomi kerajaan. Dalam pemerintahan kerajaan sendiri juga sudah terjalin hubungan yang baik, terlebih setelah kerajaan Funan di semenanjung Indocina runtuh.

 

  1. Values Exploration yang Berkaitan dengan Kondisi Indonesia Sekarang

Dari apa yang telah dipelajari, kerajaan Majapahit dan Sriwijaya memiliki nilai-nilai yang bisa di implementasikan dengan kondisi Indonesia saat ini. Adapun nilai-nilai tersebut sebagai berikut :

  • Kaderisasi tokoh

Baik kerajaan Majapahit maupun Sriwijaya memiliki tokoh yang Berjaya dibalik kebesaran kerajaan. Sayangnya, setelah tokoh-tokoh tersebut meninggal, tidak ada estafet kepemimpinan yang mumpuni. Lambat laun, kerajaan besar akan ‘keropos’ karena penggantinya tidak sanggup memerintah. Kondisi tersebut sama dengan pemerintahan Indonesia saat ini. Hanya saja, perbedaannya justru terletak pada ‘perebutan’ tokoh-tokoh yang cakap untuk memimpin, dibandingkan membuat solusi untuk mengkaderisasi generasi muda bangsa ini.

  • Hubungan diplomatic

Bahkan dari masa Hindu-Budha hubungan diplomatic entah yang sifatnya dengan kerajaan yang masih satu wilayah, maupun sudah lintas lokasi, nyatanya kerajaan-kerajaan sudah menjalin persahabatan. Memang pada awalnya hubungan tersebut tidak langsung lancar, tapi Majapahit dan Sriwijaya menjadi bukti bahwa ekpansi wilayah sekaligus bisa menjalin hubungan diplomatic untuk memperkokoh kerajaan. Poin yang perlu diperhatikan dari kondisi Indonesia saat ini adalah, ketegasan pemerintah dalam berhubungan diplomatic. Menjalin kerjasama seharusnya tidak membuat Indonesia ‘digerogoti’ kekayaannya. Sebaliknya, hubungan diplomatic harus menguntungkan kedua negara.

  • Pendidikan

Sriwijaya menjadi pusat pendidikan agama Budha terbesar kala itu. Keberhasilan tersebut tentunya bisa ditiru oleh Indonesia agar pendidikan bangsa ini semakin baik. Apalagi Indonesia dikenal kaya akan budaya dan sejarahnya. Alangkah lebih baik jika pengembangan sector pariwisata juga diikuti oleh kemajuan di bidang pendidikan.

  • Bahari atau Kelautan (maritime)

Baik Majapahit maupun Sriwijaya menyandang gelar kerajaan yang mampu memanfaatkan laut Indonesia. Jika pusat kekuatan Sriwijaya berada pada perekonomian jalur lintas kerajaan, maka Majaphit berkembang dengan ekpedisi dan atau ekpansinya untuk menyatukan wilayah Nusantara. Indonesia pada masa ini akan sangat beruntung seandainya mau lebih memaksimalkan potensi kelautan bangsa yang sangat luas ini.

  • Armada militer

Pertahanan dan keamanan dalam militer tidak selalu dikaitkan dengan keinginan untuk berperang. Justru sebaliknya, dengan memiliki armada yang tangguh seperti kerajaan Majapahit, Indonesia akan lebih waspada akan ancaman yang mungkin datang, baik yang sifatnya alamiah maupun politis semata. Jika dihubungkan dengan diplomatic, maka adanya armada militer bisa digunakan untuk membantu negara sahabat yang kebetulan sedang mengalami musibah.

  • Birokrasi pemerintahan

Adanya pembagian dan struktur kerajaan yang jelas, akan membantu raja dalam menentukan kebijakan bagi rakyatnya. Seperti halnya yang dilakukan kerajaan Majapahit, serta desawarwana yang rutin dilakukan Hayam Wuruk, akan menimbulkan rasa hormat dari rakyat kepada pemimpinnya. Sebab, rakyat merasa diperhatikan oleh pemimpinnya. Pada masa ini, para pemimpin Indonesia mulai bisa meneladani sikap tersebut. Kedepannya, semoga tindakan blusukan oleh Presiden Jokowi, sidak, dan atau modernisasi dari desawarwana yang dilakukan tokoh-tokoh cakap selain Jokowi (ada Pak Ridwan Kamil, Pak Ahok, hingga Bu Risma) akan terus ditiru oleh pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya, sehingga rakyat bisa menumbuhkan kecintaan, rasa hormat, dan empati mereka kepada pemimpin.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s