Cerita Hati

Kembali atau Pergi

Petak basah aspal di depan rumah makan favorit kita itu menjadi saksi. Ketika lelah sudah tak berujung. Ketika argumen mengalahkan perasaan. Maka, titik kulminasi itu menjelma menjadi apa yang kita takutkan : perpisahan.

Perkara berpisah aku tak ingin mengajari macam-macam. Aku tak berusaha melupakan, pun tak berusaha menggantikan. Bagiku, kamu akan tetap sama. Kamu laki-laki pertama yang bisa mengajarkan aku bersabar. Setidaknya, kebersamaan kita selama 5 semester tak pernah tersiakan.

Tapi, sabar dan sayang kadang tak selalu cukup. Ada perkara lain yang menuntut untuk jadi genap: pengertian.

Waktu bukan penyembuh. Yah, bagiku bukan. Waktu hanya menggerus kita. Memaksa untuk melanjutkan hidup, walau hati inginnya meringkuk.

Kita sudah sama-sama dewasa, sayang. Aku rasa ajakanmu untuk kembali akan menjadi sia-sia. Karena kita sudah dewasa, ada prioritas lain yang perlu dilakukan. Masalah hubungan biarkanlah seperti ini. Kamu harus kuat, belajar mengikhlaskan.

Hidup kemudian memang menjadi ranjau. Hadirmu membayang di segala jalan. Kota ini pernah menjadi milik kita. Biarlah tetap seperti itu, relakan. Kenangan tak perlu dipaksa untuk dilupakan.

Bukan aku tak ingin kembali, sayang. Hanya saja, kembali tidak sesederhana melanjutkan. Kembali artinya berusaha membangun lagi. Kepercayaan, komitmen, dan tentunya ; belajar untuk kembali membangun rasa sayang. Ingat, sayang. Waktu tidak bisa berhenti untuk memanjakan kita. Ada jutaan mereka diluar sana yang punya kehidupan lain. Bukankah kamu juga sering mengajarkan ku untuk jangan menjadi egois?

Seluruh sisi kota memang menyesakkan. Karena kehadiran kita pernah ada. Bahkan di tiap sudutnya. Tapi, sekali lagi. Keputusan yang ada, bukan untuk disesalkan.

Aku memilih pergi. Sebab dengan begitu, hidup kita bisa berjalan lagi. Keinginan untuk kembali tak akan pernah bisa digenapi. Setidaknya, sampai Tuhan mengizinkan kita bersama lagi. Ikhlaskan, relakan, tapi tak perlu dilupakan. Jika memang tak bisa, jangan memaksa. Kenangan itu akan selalu ada, biarkan sebagaimana mestinya saja.

Sebab hidup hanya memiliki dua pilihan; balik kanan lantas menjalani yang seharusnya ditinggalkan, atau langkah tegap maju jalan menyongsong sumbu kehidupan yang baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s