Friend, Besties, Bestfriend !!!

Enampuluh Hari itu Aku Sebut Pengabdian

Yogyakarta, 12 September 2016

Teruntuk kawan-kawan PPL Prasetyatama 2016,

Ada yang perlu disyukuri dari setiap kejadian. Termasuk diantaranya adalah bertemu kalian ; para (calon) pendidik hebat Indonesia.

image

Kita bernaung dibawah duaja yang sama, #JasBiruKebangganku, meski terpisah keahlian yang berbeda. Enam semester menjalani teori yang begitu memuakkan, akhirnya kita sampai pada titik kulminasi menegangkan.

Harusnya kita lebih banyak bersyukur karena kampus memberi program ‘pembelajaran’ yang mumpuni. Sayangnya, ekspetasi lebih sering berbalik dengan realita. Pun begitu dengan kita. Awalnya sih, solid, tapi semakin kesini malah semakin pelik. Tapi semoga saja, hanya aku yang merasa seperti itu. 🙂

Kepada rekan seperjuanganku di SMAPA,

Kita sudah bersama nyaris delapan bulan lamanya. Walaupun resminya tetap hanya dihitung enam puluh hari alias dua bulan saja, toh nyatanya kehebohan kita tetap berjalan seperti layaknya kelompok heterogen khas mahasiswa tua.

image

Tidak mudah menyatukan ego dan kepentingan delapan belas isi kepala. Jangankan delapan belas, orang pacaran yang jelas-jelas hanya berdua saja masih sering ribut, apalagi kita? Namun kita bisa melaluinya, meski satu-dua dari kita harus tersaruk-saruk mengalah dan mundur menyerah.

Enam puluh hari berada di tempat yang sama, dengan waktu yang nyaris seharian, dan jadwal yang padatnya mengalahkan antrian orang mudik, kita sudah kebas dengan perasaan canggung. Seringnya, ucapan yang terlontar spontan justru merupakan luapan sesungguhnya. Kesal, penat, lelah, tertumpuk menjadi sebuah perasaan yang seringnya menambah permasalahan.

Hal yang menurutku cukup menggelikan adalah, kita dianugerahi Tuhan otak yang brilian untuk memecahkan masalah. But somehow, we use it to create more problems. Yang satu gengsinya selangit. Satunya lagi memilih mengangkangi egonya. Dan begitulah seterusnya hingga aura di dalam kelompok lebih pantas disebut war zone.

Tapi, sekali lagi. Semua itu merupakan proses menuju pendewasaan diri yang semata-mata menempa kita menjadi mahasiswa yang lebih ‘berada’. Demikian juga dengan kehadiran kita selama enam puluh hari di sebuah sekolah negeri di utara Yogyakarta ini. Kita pernah berselisih, seringnya menggunjing, sedikit memuji. Namun kita sadar, selamanya tak akan pernah berhasil jika tak ada yang mau mengalah.

Kepada mereka yang akan selalu aku rindukan,

Mengapa kamu membenci malam padahal ia sempat menghadirkan berjuta sensasi indah melalui kerlipnya bulan bintang?
Mengapa kamu mengutuk pagi padahal ia sempat mengirimkan embunnya berjatuhan membasahi tanah gersang kita?
Mengapa kita seringnya egois dan memendam keluh tak berkesudahan jika sebenarnya bisa diselesaikan?

Aku menyayangi kalian, wahai rekan seperjuangan. Aku mohon jika tiba saatnya kita menapaki garis hidup masing-masing, tolong, tolong sekali jangan lupakan aku. Jangan lupakan enam puluh hari pengabdian kita. Jangan lupa proses penempaan kepribadian kita. Jangan lupakan gadis menyebalkan yang sering bertindak seenaknya.

image

Terimakasih atas segalanya. Dan ya, aku mencintai kalian dengan segenap luka, duka, cerita, canda, dan tawa yang pernah kita burai bersama. 🙂   

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s