Cerita Hati

Tentang Perasaan

Kepada mereka yang sangat penasaran antusias dengan kehidupan pribadi saya,

Sebetulnya, tidak ada alasan bagi saya untuk menjelaskan siapa saya dan apa yang sedang saya rasakan kepada siapapun. Karena, seperti yang dikatakan oleh salah satu khulafaur rasyidin,

Tidak perlu menjelaskan siapa dirimu. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.  -Ali bin Abi Thalib.

Ah… tapi, tetap saja. Terkadang ada gumpalan menyesakkan yang menuntut untuk dikeluarkan.

Saya hanya manusia biasa. Gadis sederhana yang seringnya membuat sebal orang disekitarnya. Dan mungkin itu juga yang menempa saya menjadi pribadi yang keras, tapi sangat rapuh bak jeli yang ditusuk garpu po*m**.

Perkara perasaan saya memang tidak pandai untuk menyembunyikan. Tapi bukan berarti Anda bisa menuduh saya seenaknya.

Tentang sejuta perasaan yang bergolak menuntut untuk dijelaskan juga tidak semudah mengedipkan mata. Ada beratus alasan yang membuat saya memilih diam dan melanjutkan berkode-ria. Karena terkadang, seperti itu jauh lebih mudah daripada bertemu langsung dengan kenyataan.

Saya menghargai Anda yang bertanya langsung daripada mengeluarkan asumsi melantur. Jatuh cinta, sakit hati, kedongkolan, bahagia kadang hanya sekilas. Hal-hal yang terjadi setelahnya justru yang menimbulkan tanya.

Saya tidak suka sesumbar. Terlebih untuk sesuatu yang masih belum jelas. Hanya memang, mulut dan hati sering tidak sejalan.

image

Saya menyukai keheningan, termasuk dengan diam-diam menyembunyikan bahwa hati saya telah terbentuk kembali. Setelah sebelumnya dipatahkan pria yang membuat saya pernah berfikir akan susah move on. Saya menyukai perasaan ini; perasaan ketika tidak ada seorangpun yang tahu bahwa saya sudah jatuh cinta, kepada seseorang yang membuat sahabat-sahabat saya mengomel panjang pendek.

Tidak ada satu orang pun yang suka diperkarakan macam-macam. Termasuk hal sesepele pertanyaan, “Kok kamu mau sih sama dia?”

Perasaan dan hati seseorang, terlebih seorang wanita, lebih rumit daripada mencari jarum di padang ilalang. Saya menyukai dia yang selalu bisa membuat saya tertawa. Saya menyukai kedipan mata dan gerakan sarkastis alisnya yang menggemaskan. Sesederhana itu. Perkara lain? Saya tidak ambil pusing.

Seharusnya mencintai seseorang tidak perlu dirumitkan. Kalau kalian sudah nyaman, peduli setan dengan omongan orang.

Saya benci ketika harus berbohong dan menutupi perasaan. Tapi kalian yang memaksa saya berbuat demikian. Saya benci ketika ada yang mengetahui kesalahan saya, bukan menegur saya, tapi malah menjadikan saya objek candaan dibelakang. Kalau seperti itu, sampai mammoth hidup lagi saya tidak akan berubah; karena kalian lebih memilih menggunjingkan saya daripada menegur dan menasihati saya.

Perasaan semudah jengkel terhadap celetukan saya, hingga fakta bahwa saya menyukai seseorang yang diluar ekspetasi, cukup menimbulkan riak dalam hati. Inginnya memaki, tapi kemudian saya lebih memilih diam. Lagi.

Sampai disini, saya hanya bisa berharap. Semoga kalian yang masih mempertanyakan keputusan dan mungkin perasaan saya, ada baiknya kalian bersikap lebih dewasa. Sebab hidup tidak semata mengorek kehidupan pribadi seseorang lalu menjadikannya bahan candaan. Saya menyukai keadaan ini. Entah Anda setuju atau tidak, toh hidup saya bukan untuk menuruti kemauan orang lain. Jadi ya, berhentilah mengurusi sesuatu yang bukan keperluan kalian. Dan berhentilah bersikap seolah kalian tahu apa yang SEBENARNYA ada dalam hati saya. 😉

image

Tertanda,

Risda ‘yang masih dalam proses mencintai hidupnya sendiri’ Amanda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s