Friend, Besties, Bestfriend !!!

November ; Kembali Kepada Kerinduan. 

Kata orang, kalau sedang jatuh cinta, rasanya bisa berjuta-juta. Semua emosi tercampur adukkan. Senang, sedih, kecewa, terluka, marah ; seringnya membaur dan melebur dalam hati. Hingga kemudian, BUM! Dalam sekejap orang lain menganggap mu sebagai alien. 

Nyatanya, untuk saya, jatuh cinta tidak melulu ke pria yang bisa membuat jantung saya berdegup gila. Bagi saya, jatuh cinta jauh lebih sederhana : yaitu saat kita memiliki quality time berdua walau hanya bermodalkan mie dokdok si Aa’ burjo. Dan setelahnya, kita hanya akan mengobrol ngalor ngidul, menceritakan tingkah pacar kita masing-masing. Atau sesederhana mengomentari teman-teman kampus. 

Sahabat pun, sejatinya, bisa membuat kalian jatuh cinta. Karena sama-sama memiliki perasaan “Saya tidak ingin kamu hilang.”

Sudah. 
 

Seperti yang lalu-lalu, bulan November di Indonesia masih syahdu akibat gerimis sendunya. Terkadang malah ditemani badai dan petir. Tapi yasudah, intinya langit sering tak bersahabat. Seolah semesta mengaminkan : bahwa di dua bulan terakhir saya harus merasa ‘nelangsa’. 

Semakin dewasa, kita akan semakin menemui ‘kepala-kepala’ heterogen. Perihal keadaan yang memaksa diselaraskan, demi tujuan yang di inginkan. Hanya, kerikil terkadang lebih tajam dari pisau jagal tukang daging di pasar Demangan. 

Saya menyayangi kamu ; lebih karena saya merasa bahwa kamu berharga. Meski kita berbeda, fisik maupun sifat, persahabatan kita semoga tak menjadi sia. Memang kita sering sekali beradu. Bahkan semesta mungkin hendak muntah mengingat betapa dramanya kita saat sedang ‘bertengkar’. 
Tapi, bukankah itu juga yang membuat persahabatan kokoh? 

Saya benci ketika kita harus berdiam-diaman seperti dua orang asing. Dahulu, memang pernah kamu berkata, 

Kowe ki medeni banget masalahe nek lagi nesu. Aku kan wedi nek ameh nyedaki koe. Rupamu kui loh, gualake pol. 

Memang, tidak persis seperti itu. Tapi intinya ya sudah tercakup lah. Toh kamu mengatakannya juga sudah cukup lama. Sementara manusia tempatnya lupa. 

Setelah itu, lantas saya sadar. Mungkin kamu memang tipikal wanita yang : lebih baik mundur, daripada kena masalah. 

Dan saya pun tidak hendak menyalahkan. 

Hanya saja, tolong, ketika sesekali kita berselisih, jangan lantas saya disisihkan begitu saja seperti terong goreng. Sesekali, beranikan dirimu untuk ‘mengalah’ dan menyapa saya lebih dulu. Sungguh, terkadang saya pun lelah jika harus ‘berinisiatif’ untuk berbaikan dengamu hanya agar kamu tetap mau menjadi sahabat saya. 

Kawan, ingatlah selalu perkataan saya beberapa waktu dulu : 

Kowe iki jauh lewih ayu, feminim, dan lewih disenengi wong liyo nimbange aku. Dadi, sing bakal lewih gampang entuk konco, yo koe. 

Dulu, tampaknya kamu menganggap remeh ucapan saya. Entah, mungkin kamu yang tidak peduli, atau saya yang terlalu sok bijak menasihati. 

Tapi sekarang? Kita sekarat. Lagi. 

Masih ingat ‘pertengkaran’ kita yang menurutmu membuat saya menjadi sosok bossy terhadap pacar saya sehingga (mungkin) tanpa sadar balasan terakhir chat mu lantas saya abaikan? Mungkin saya yang salah, karena ‘curhat’ hal yang tidak penting disaat kondisi mu sedang sangat labil akibat PMS. Tapi, apa salah jika saya benar-benar HANYA membutuhkan teman untuk mendengarkan, tanpa harus menghakimi saya sedemikian? 

Maaf, karena saya tidak bisa menahan kecewa dan memilih memgabaikan balasan chat mu. Karena ya, jujur, saya terluka. November saya kelabu, akibat gengsi untuk mengakui kalau saya merasa kaku. 

Saya hanya ingin, sekaliiii ini saja kamu yang ‘bergerak’ lebih dahulu. Saya bosan jika terus-terusan mengalah. Karena, yang saya tau, sahabat seharusnya saling memberi tabah ; disaat raga dan jiwa inginnya rebah. 

Dan juga, maaf sekali lagi, sebab saya kembali ‘menyampah’ tentang kita di media sosial.

I miss you, my bestie. I miss our insanity 😭

Agaknya, saya sedang terlampau rindu. Karena memang, perasaan dan pikiran saya saat ini sangat rancu. Inginnya bertemu, tapi hati terlalu ragu. Ya Tuhan… 😢 

Advertisements

3 thoughts on “November ; Kembali Kepada Kerinduan. 

  1. Duh yang lagi nelangsa, sini sini. Nge-teh dulu ma akuuh hehe. Biasalah mba kadang gue juga gitu sama sohib gue, tp klo soal ego siapa yg negor duluan itu persis gue sama adek gue, tiap clash gue mulu yg mesti negor dia (mingkin dia ga berani mesti negor duluan). Tinggal kitanya aja yang jgn ikut ego jg, mesti ada yang ngalah (meskipun kebanyakan ngalah) hahaha.

    Btw sahabatnya cantik mba, eeh aduh–anu–ngg–itu translatin dong mba bahasa jawanya, gue ga ngerti (langsung pindah topik, tapi beneran ga ngerti) hahaha

    1. Lah gue kalo sama adek mah bodo amat mas 😂 kita berantem mulu soalnya cuma beda 4 tahun (apaan segitu kok cuma wkwkw)

      Hehehehe iya mas, nice advice. But I’m still trying to be ‘cool’ (bhaakk).

      Wahhh artinya ya hmmm ya gitulah mas 😅 pake Gtranslate aja wkwkw. Hahaha iya dong cantik. Makanya sini gue jadi bisa dandan. Padahal sebelumnya 6 semester kuliah ga pernah dandan 🙈 (lah kok jadi curhat? 🤐)

      1. Toss gue juga beda 4 tahun mba hahaha. Emang ngeselin kadangan punya adek beda dkt umurnya, tapi seru buat ngobrol.

        Oh iya gtraslate kan dukung bahasa jawa ya. Hahaha iya mba Ris ga kalah cantik loh. Klo gue nyari temen yg lebih jelek mba, biar keliatan ganteng. Buakaakakak. *nyepam di postingan orang nih gue*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s