Buah Pena

Kapur di Ujung Papan*

Mentari masih terlampau malu menyapa bumi pagi itu

Seorang bocah tersaruk berjalan di beceknya pedestrian desa

Ah, tapi mendung pagi itu tidak sedikitpun mengusik semangatnya

Ya… tersaruk demkian pun tujuannya jelas satu ;

Membuka wawasan menambah jendela keilmuan

Bocah itu melenggang mantap menuju bangunan kuno nan kumuh di pinggiran desa

Bangunan kecil yang luasnya pun tak lebih dari lapangan sepakbola

Bangunan kecil yang hanya memiliki tiga ruang kelas

Bangunan kecil yang selalu mengobarkan semangat dalam benak si bocah

Bangunan kecil bernama sekolah rakyat

Kemudian bangunan itu mulai ramai

Si bocah pun bersenda gurau dengan sebayanya

Sembari menunggu datangnya guru

Bermain ini itu, menertawakan apapun

Namun fajar mulai merekah, sang guru tak kunjung nampak

Si bocah dan sebayanya mulai resah ;

Apa guru kami baik-baik saja?

Atau beliau harus kembali untuk membantu perang?

Kami sudah ingin belajar, Pak, Bu ; begitulah rengekan mereka

Hingga kemudian suara mobil patroli kompeni memekik nyaring

Mereka kaget, terlalu terkejut untuk sekedar berlindung

Tembakan-tembakan meletus di udara

Bangunan kecil itu lantas dipenuhi para tentara berkulit putih dengan senapan di tangan

Meneriakkan sumpah serapah pada anak-anak kecil tak berdosa itu untuk enyah

Sebab kompeni akan meratakan bangunan kecil tak berdaya kembali ke tanah

Para anak hanya pasrah, tak mampu berbuat

Mereka mulai terisak, menangisi nasib setelah ini akan bagaimana

Mereka masih haus ilmu, mereka masih merindukan guru

Bedil si kompeni tak memberi mereka pekerti

Taunya hanya menghabisi

Mereka berdiri bersisian di pojok ruang kelas

Ditemani moncong senapan si kompeni yang seakan mengejek mereka

Semuanya diam, hingga si kapten kompeni berteriak nyalang

HEI BOCAH! KEMBALI KE BARISAN KAWANMU!

Deg. Mereka kemudian tersadar ; si bocah telah menyusup ke dalam kelas

Badan cekingnya berdiri tegak menghadap ke papan hitam

Tangan kanannya menggengam si putih

Tak dipedulikannya si kapten kompeni yang murka di dekatnya

Perlahan tangan kecilnya menulis patah demi patah

Sebayanya cuma sanggup mengintip dari luar

Berdoa agar kawan mereka yang nekat itu selamat

Terkesiap, mereka menyadari pesan si bocah

KAMI HANYA INGIN CERDAS SEPERTI KALIAN PARA KOMPENI

KEMBALIKAN GURU DAN SEKOLAH KAMI

ENYAHLAH KALIAN DARI NEGERI KAMI

PERGI, PERGI. KAMI TIDAK SUDI MENERIMA KALIAN LAGI.

Si bocah tersenyum mantap ; seolah menantang

Si kapten pun tercengang, tapi hanya sebentar

Sebayanya meneriakkan untuk kabur dan sembunyi

Namun lagi-lagi si bocah kukuh berdiri

Dor. Pelatuk ditekannya ; menghasilkan semburan merah kemana-mana

Si bocah rubuh, dengan baju putih berlumuran getih

Kapur putih itu melayang bebas ;

Jatuh dari genggaman bocah yang mulai sekarat

Bertitik noda merah si bocah, kapur itu menjadi saksi bisu

Tentang bangunan kecil yang menyimpan berjuta mimpi penghuninya

Dan juga bercerita tentang kompeni dengan segala biadabnya

 

 

*Puisi ini adalah karya saya untuk memenuhi UTS mata kuliah Filsafat Sejarah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s