Cerita Hati

Sebentuk Retak

Pernah tidak, saat hujan turun di pagi hari dan terpaksa membuyarkan semua semangat, kamu duduk diam sebentar? 

Coba perhatikan, pandang baik-baik. Hujan itu sebenarnya tegar. Bukan, bukan karena dia tetap melaksanakan tugasnya walaupun tidak sedikit manusia yang menyumpahi. 

Tapi hujan tegar dengan caranya sendiri ; membentuk rekahan. Sebuah retak yang baru. Kemudian memberi cipratan kesejukan bagi alam. 

Tidak percaya? Makanya coba perhatikan saja. Sejenak. Lima menit pun cukup. Tak perlu lama-lama kalau memang kalian bukan pluviophile seperti saya. 

Perhatikan jalanan aspal itu. Awalnya gagah terbentang. Kemudian saat hujan turun? Dia harus (terpaksa) mengalah. Sebab ‘badannya’ lantas menjadi patah dimana-mana. Merekah. Retak tak berbentuk. 

Hujan tetap tegar saja, tuh! Meski kemudian akan ada orang-orang yang ditugaskan untuk memperbaiki badan si aspal, dia tetap tak gentar! Karena itu memang sudah tugasnya ; 

Jatuh ke bumi untuk membuat sebuah rekahan. Lama-lama retak dan menjadi menyusahkan. Tapi hujan tetap tegar, karena baginya bahagia harus selalu melewati cobaan terlebih dulu. 

Sebuah retak itu mungkin bisa ditutupi. Tapi hujan sekalipun tahu ; tuan aspal yang gagah perkasa terkadang memang harus mengalah. Melawan keinginan untuk berjuang ketika tahu perjuangannya tidak bersambut. 

Kalah. :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s