Cerita Hati

Surat Terbuka bagi Mereka Pejuang LDR

Sebelum kalian, para netter dan atau blogger, kecewa dengan postingan gue ini, mungkin ada baiknya sedikit warning yaa : 

Postingan gue kali ini didedikasikan KHUSUS untuk mereka yang senasib sama gue. Jadi kalo kalian merasa ga senasib, mending gausah baca deh. Tapi kalo ga keberatan ya, sumonggo mawon~~ 🤗 

❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇

Surat ini diawali dengan kisah sederhana yang disebut ‘drama’. 

Mereka yang merasa diabaikan,

Mereka yang merasa ingin berteriak karena himpitan sesak,

Mereka yang merasa seolah seisi dunia jahat,

Dan mereka yang drama hanya karena ingin mengatakan rindu tapi terlalu gengsi bertindak duluan.

Lucu rasanya ketika dua hati dipertemukan tapi sepasang itu tak kunjung jadi. Kamu dan saya seakan masih perlu ‘digodok’ lagi untuk menjadi kuat. 

Sebab jarak bisa menjadi penghancur, sayang. Dan aku belum siap untuk hancur. 

Kita pernah sama-sama berada dalam kondisi payah : mati-matian berjuang dengan dia yang disemogakan untuk menjadi terakhir, tapi kembali… Harapan memang tidak semestinya terlalu tinggi. 

Lalu seakan semesta berbaik hati. Saya dan kamu bertemu di tempat semestinya kita berjuang demi masa depan masing-masing. Namun, sekali lagi. Kita memang harus lebih kuat, karena pertemuan kita menghasilkan begitu banyak perbedaan. 

Memang, kalau sudah sayang rasanya apapun bisa diusahakan. Pun demikian dengan kita : jarak, tingkatan, hingga umur seakan menjadi lenyap. Kita berusaha ; LDR mungkin bukan pilihan yang baik, tapi hubungan tanpa jarak dan rindu juga tidak bagus, kan? 😊 

Saya menyukai saat dimana pesan mu masuk sekedar menanyakan : “Tadi gimana kuliahnya? Jadi bimbingan?” ketika entah mengapa kamu mendadak hadir di benak saya. 

Ah… Melepas rindu bagi saya dan pejuang LDR lainnya memang sesederhana ‘telepati’, kok. 

Saya menyukai sikapmu yang tidak pernah protes terhadap chat saya yang seringnya berisi ledekan agar kamu cepat lulus. Dan kamu hanya membalas dengan stiker lucu hasil ‘memalak’ saya. 

Dan ya… Bagi saya, melepas rindu memang sesederhana ketika kita bertukar stiker yang entah mengapa seakan tidak pernah habis stoknya. 

Saya pun menyukai saat kita bertengkar karena masalah ‘sesederhana’ : “kamu kenapa sih nyembunyiin hubungan kita gini?” Atau : “itu tadi maksudnya apa, hah? Foto sama aku ga pernah mau. Tapi kalo foto sama temen-temen cewe kamu mesranya udah kaya orang mau prewed!”

Oh, boy… 

Bagi mayoritas pasangan, LDR adalah momok. Beberapa mengambil keputusan ekstrem : putus. Dan hanya segelintir yang memutuskan tetap bersama. Lalu kita? 

LDR ini berat, sayang. Beban kita seakan terus bertambah. Meski kamu tidak pernah mengeluh, mata coklat mu menyatakan sebaliknya. 

Masalah ‘sesederhana’ abai terhadap balasan chat seakan menjadi detonator bom waktu yang siap meledak kapan saja. 

Pertemuan yang intensitasnya semakin jarang seolah menjadi sumbu kompor yang dipantik sedikit akan membakar habis. 

Kesibukan yang terus menggila kemudian menjadi pembenaran untuk bersikap acuh tak acuh hingga kemudian kita semakin jauh. 

Sejujurnya, sayang, musuh LDR bukanlah jarak. Omong kosong sekali jika di tengah kemajuan iptek masih sulit bertukar kabar. 

Bukan, sayang. Bukan jarak yang menjadi musuh kita. Melainkan krisis percaya yang membuat hati berdentum tak keruan. 

Sulit rasanya melabuhkan kapal bernama percaya walaupun tahu hatinya telah ada padamu. Disaat kita masih bertingkah seperti sepasang remaja yang baru memasuki ‘akil baligh’, ada hal rumit yang perlu kita selami. 

Perkara menjaga perasaan ketika pasangan tidak disisi seolah menjadi isu sensitive yang membayangi para pejuang LDR. 

Tapi, sekali lagi, saya tidak berjuang untuk hanya berdarah. Bagi saya, LDR kita memang pantas dimenangkan. 

Saya selalu menitipkan rindu pada Sang Pemilik Cinta ; memohon agar kamu percaya, bahwa saya baik-baik saja. Meski rindu kerap menyapa, saya berusaha keras agar tidak manja. Bersama, kita akan dewasa. 

Jarak? 

Waktu?

Kesabaran?

Sungguh memang itu lama dituntaskan. Saya mohon kamu setidaknya percaya ; LDR tidak semenakutkan kisah picisan dalam roman cinta. Mau, kan, berjuang bersama? 

Bagi saya, kamu adalah rindu yang tak akan pernah surut. Meski tangan kita baru saja terpaut. Selalu. ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s