Friend, Besties, Bestfriend !!!

Awal bagi Kita (Day 4 @KampusFiksi Writing Challenge) 

Melempar masa dimana kita masih ‘cupu’ dan sangat ‘polos’, hal yang pertama terlintas adalah : saya bersyukur kamu menjadi partner-in-misery. Seorang kawan yang rela ‘digodok’ agar kebocahan kita semasa putih-abu bisa kikis. 

Ya, saya masih ingat betul ketika OSPEK selesai dan kemudian dilanjut oleh kegiatan MAKRAB. Kawasan dingin nan asri itu menjadi lokasi ‘penggodokan’ kita selanjutnya. Kita awalnya cuek saja, terlebih kita juga beda kelompok. Namun, satu momen yang –buat saya– magis, mengakrabkan kita. Saat dimana saya berdiri untuk memperkenalkan teman-teman kelas (oh ya, saya menjadi ketua tingkat untuk kelas A prodi pendidikan sejarah 2013), and when it comes to your name… I was so speechless. 

Saya menatap kamu lama ; ketika kamu juga memperhatikan saya yang hendak menyebutkan namamu. Suara saya mendadak hilang, terserap oleh tatapan sendu dan senyum ramahmu. Berdetik setelah itu, saya berhasil mengucapkan nama kamu didepan senior dan teman-teman kita. Although it’s been very hard, but I did it! I did say your name. 

Keesokannya, pagi terakhir kita MAKRAB, momen ‘magis’ itu terulang kembali. Kita bertemu tanpa sengaja di mushola, ketika saya selesai menunaikan subuh, sementara kamu baru selesai wudhu. Kita berpapasan, kembali, suara saya lenyap. Kamu tersenyum ramah dan menyapa saya. Bodoh, saya hanya mengangguk seperti boneka kucing di toko kelontong.  Tidak persis, memang. Tapi sensasinya sama ; saya selalu terpaku pada tatapan sendu dan senyum ramahmu. Dan sejak itu pula saya tahu : kamu akan menjadi orang yang berharga selama saya berjuang meraih S.Pd. 

Berminggu kemudian, kita selalu menjadi ‘pasangan’. Saya pun masih ingat tatapan tajam teman-teman wanita kita. Seolah saya tidak pantas disampingmu. Ah… Tapi konyol juga. Nyatanya saya juga menyukaimu. Jadi, saya juga bersalah karena sempat merasa minder. Kita bisa ngobrol apapun, kita pun terbiasa mendebatkan sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu penting. 

Seharusnya ‘kita’ benar bisa diusahakan, ya? Namun kenyataan tetap berbanding terbalik dengan harapan. Kepala kita masih sama-sama batu. Kita tidak mau mengalah. Saya sadar, tapi saya juga sayang. Baru setelah kamu lama ‘menerbangkan’ hati saya tanpa kepastian, saya berpikir ulang. 

Mungkin ‘kita’ memang tidak bisa diwujudkan. Nyatanya, ‘kita’ lebih baik tetap seperti awal mulanya : teman dekat yang saling mendebat dan memberi semangat. 

Terimakasih karena membuat semester awal (hingga akhir, sebetulnya) perkuliahan saya begitu berwarna. ‘Sejarah’ kita memang tidak bisa disatukan, karena ternyata kita memang lebih cocok dalam keadaan seperti ini. Selamanya, kamu akan menjadi teman pria terbaik yang Tuhan berikan pada saya. 😊

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s