Cerita Hati

Menikah Muda? Yakin? 

​Akhir tahun lalu, di tengah hectic nya project kelas, gue dapet chat dari salah satu temen SD yang intinya ngajak kondangan. Iya, temen SD. Which means my friends from my Bekasi’s childhood. Antara shock dan terharu, gue waktu itu dengan sangat terpaksa menolak undangannya. 

Few months before, I did receive some wedding invitations from my junior high school. Pas itu gue masih belom ada bayangan sama sekali kalo ebuset-temen-gue-kenapa-banyak-yang-udah-merit-sih bakal bikin gue ngerasa insecure. Gue happy aja buat mereka. Terutama buat temen cowo, karena dari jaman bocah temen gue banyakan cowo😄

Tapi yaaa semakin kesini, tiap nerima undangan pernikahan, insecurity gue makin tinggi. Kalo undangannya dari temen cowo gue sih, ga begitu masalah sih. Soalnya buat gue malah bagus cowo (apalagi yang muslim) punya inisiatif buat menikah muda. And besides, kebanyakan temen cowo gue yang ga lanjut kuliah emang udah lumayan mapan, baik mental maupun finansial. Tapi tetep aja, gue ngerasa rada ga rela kalo mereka harus nikah muda ketika di umur seumuran kita gini, harusnya mereka masih ‘asyik’ dengan kuliah atau skripsi atau meniti karir lebih tinggi lagi. 

Iya, gue tau, it’s really doesn’t my business. 

However, have you ever think that married in such young age has big responsibility as much as those marriage in older age? Satu-satunya yang jadi ketakutan gue ketika diajak menikah muda adalah : ketidakmampuan gue sebagai ibu untuk nantinya mendidik calon anak-anak gue. Yes, I’m definitely penganut aliran “Perempuan Cerdas akan Menghasilkan Anak-Anak Cerdas Pula”. 

Also, I do have a doubt with a guy who decided to marry his girl in such ‘hurry’ condition. Ketakutan gue ketika dihadapkan sama cowo yang dari segi usia masih 20-an gini adalah : is he seriously could be a good father for my future child? Of course, buat imam istrinya juga. 

Duh, bang. Mumet pala adek mikirnya 😦 

Yaudah deh, karena gue cewe, gue ga mau lebih jauh ngurusin dari segi cowoknya. At least, I’ve tried to explain my opinion. Now, I just gonna talk about woman’s perspective. 

Seperti yang sebelumnya udah sedikit gue singgung, despite of biological (or reproduction?) reason, woman should never marry in such a young age like about 20’s. Hey, girls. Don’t you want to see the world before you have a husband and baby that needs your affection (almost) every time? 

Jujur sih, dulu gue juga sempet mikir buat nikah muda. Nevertheless, it once was so silly. Cause suddenly I remembered my sociology teacher’s advice,

Melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi bukan cuma untuk sekedar menambah ilmu dan gengsi, tapi juga memperluas pergaulan.

And yup, gue udah ngerasain nasihat itu. 😀 Dan terhitung sejak semester lima, niat gue buat lulus-sarjana-mau-langsung-kerja-sekalian-nyari-calon-suami terus direvisi jadi lulus-sarjana-mau-nyari-beasiswa-master-disambi-ngajar. Yes, because my future child deserves a mom with good intelligence and emotional. 

Lantas, ketika nyaris tiap bulan adaaa aja undangan pernikahan, gue mulai mencoba ‘tegar’ dan mengikis insecurity gue. Khusnudzon juga diperbanyak. Ga envy lagi kalo ternyata udah banyak temen cewe gue yang dapet jodoh. Yaaahh semoga pernikahan mereka beneran sakinah, mawaddah, warahmah. Tanpa penyesalan sedikit pun. Last but not least, gue doakan suami-suami temen gue itu ga melarang istrinya buat ‘nyambi’ belajar lagi disamping tugasnya sebagai ‘makmum’ dan ibu untuk anak-anaknya. 

Ya, semoga. 😇

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s