Cerita Hati

Mencari Rezeki di Tengah Hectic-nya Teknologi

​Belakangan ini berita Indonesia masih di dominasi hal yang (cenderung) itu-itu saja ; kasus korupsi E-KTP, maraknya kasus paedophilia, dan bentrok antara transportasi konvensional dengan online. Entahlah, tapi gue pribadi udah ‘muak’ sama berita-berita yang kesannya semakin membuat masyarakat ‘bersumbu pendek’. Mungkin itu juga yang bikin gue belakangan ini ‘kabur’ dari acara-acara berita dan lebih milih nonton SpongeBob atau kartun lainnya. Those are much ‘entertaining’. 

Kemudian, gatau kesambet apa, gue mulai stalking medsos buat cari perkembangan terbaru kasus bentrok antara para driver online dan konvensional. Bukan berarti gue acuh tak acuh sama dua berita lainnya, tapi sebagai mahasiswa tua yang kudu pinter ngatur duit, keputusan Pak Menhub lebih bikin gue kuatir. Kan gue parno kalo nanti abang goj*k de ka ka jadi pada mahal 😔  and voila, di tengah rasa ketar-ketir soal keputusan Permenhub, gue nemu artikelnya mbak Nendra, one of my favorite blogger and contributor on hipwee.com yang seketika langsung bikin gue speechless. 

Ya Allah… Kadang saking pinginnya hemat, gue malah jadi terlalu kikir buat ‘berbagi’ sedikit uang buat mereka 😢

Seriously, I’m feeling regretful. 😭 Bener-bener terharu (dan bikin mewek) banget artikelnya si mbak ini. Walaupun beliau nulis ini udah cukup lama, buat gue masih sangat representable untuk keadaan Indonesia saat ini. 

Yup, here’s her thought about ‘transportation dilemma’. I do hope that after you read this, you’re gonna be a wise person and try to look in other perspective. ☺ 

******************************

Kita memang lebih sering lupa sebelum ditampar keras langsung di depan muka. Lucunya, semesta punya beragam cara untuk menyadarkan kita. Dari mempertemukan dengan orang tak terduga, sampai lewat posting yang jadi viral di sosial media.

Ini, jadi salah satu ceritanya.

Di tengah pertumbuhan startup penyedia ojek yang jadi oase kemacetan jalan yang makin menggila, ada cerita berbeda dari orang-orang yang berkurang rejekinya. Mereka yang tidak masuk dalam pusaran kemudahan pesan-antar lewat aplikasi di ponsel. Mereka yang memilih bertahan dalam sistem konvensional, bukan karena tidak ingin memanfaatkan kesempatan. Tapi memang karena keterbatasan. Sistem yang penuh terobosan dan terorganisir jelas memudahkan. Namun pernahkah nasib mereka kita pikirkan?


Pak Soleh cukup beruntung. Kisahnya yang ‘menyentuh’ tapi sebenarnya tak langka, akhirnya mendapatkan corongnya.

Postingan Dewi Rachmayani di Facebook tentang keberadaan Pak Soleh, tukang ojek yang sudah berumur dan mulai kehilangan banyak pelanggan, jadi viral di berbagai platform sosial media. Khas orang Indonesia. Sesuatu yang menyentuh hati begini memang laku di mana-mana.

Pak Soleh beruntung bertemu Dewi yang cukup punya pengaruh besar di sosial media. Postingan Dewi di Facebook di share setidaknya 5 ribu orang sampai saat tulisan ini dilansir. Belum lagi screen capture tulisan Dewi yang menyebar ke berbagai plaform sosial media lain, membuat efek ‘tinggalkan pesan ojek modern- beralih ke Pak Soleh’ makin kuat.

Barangkali saat ini ponsel Pak Soleh tak berhenti berbunyi, tanda pesan masuk dari calon pelanggan baru yang tersentuh hati. Atau mungkin Beliau mulai mendapat bantuan dari sana-sini. Pak Soleh beruntung. Tapi di luar sana ada Pak Soleh – Pak Soleh lain yang nasibnya kian tergulung.

Kita-kita ini terlalu terbiasa dimanjakan dengan kemudahan di mana-mana. Lupa. Kadang Tuhan menitipkan rejekiNya di tangan kita.

Seberapa sering kita mampir di warung sebelah rumah saat butuh teh atau kopi sachet? Seringkah kita memanggil abang-abang tukang bakso yang lewat di depan rumah saat lapar melanda? Atau lebih sering memesan via internet yang sudah pasti rasa dan kualitasnya?

Minimarket yang adem dan punya pilihan lengkap lebih sering jadi andalan. Restoran yang punya kerjasama dengan layanan pesan antar adalah penyelamat di tengah kelaparan. Ah, kita-kita ini memang kadang lebih sering lupa bahwa rejeki sering dititipkan Dia di mana-mana. Salah satu jalannya, termasuk melalui tangan kita.

Kadang ini bukan soal rasa atau kepastian waktu. Ini tentang bagaimana kita saling membantu. Sesederhana itu.

Setiap hendak berhenti di gerai yang besar – memanfaatkan aplikasi yang sedang banyak digunakan – relakah kita sedikit direpotkan? Demi rejeki mereka yang sebenarnya lebih membutuhkan.

Toh kita tidak akan kekurangan apapun jika seminggu-dua minggu rehat memesan makanan dari layanan antar menggunakan motor yang sedang loyal membagi voucher referensi gratisan itu. Hidup juga tidak akan lebih merana karena hijrah membeli kebutuhan sehari-hari dari minimarket ke warung yang lebih sederhana. Perubahan kecil bagi kita — jika dilakukan oleh banyak orang — bisa membawa perubahan hidup yang bermakna bagi mereka.

Pak Soleh boleh sudah terbantu saat ini. Tapi PR kita sesungguhnya masih banyak sekali. Keberhasilan sebagai manusia adalah saat mereka yang sampai hari ini belum terangkat di sosial media, bisa tetap mendapat bantuan dari sesama. Rangkulan hangat dan optimisme tetap bisa dirasakan — bahkan oleh mereka yang tak bisa mengikuti kemajuan jaman.

Bukankah akhirnya tujuan hidup itu mengerucut jadi sederhana saja — jadi manusia yang bermanfaat bagi sesama?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s