Buah Pena

Hilang

Langkah tersaruk mengikuti angin,

Di jalan selibat yang sepi,

Gemerisik nyanyian malam membangkitkan luka,

Berusaha keras untuk maju,

Namun pedih mengiris nurani. 

Tidak, 

Jangan lepaskan!

Tolonglah,

Aku tersesat!

Dalam remang sinar purnama,

Aku terus mencari ;

Apa yang setelahnya kusebut cinta.

Hilang.

Tak kunjung ketemukan.

Lenyap.

Sebab kau telah membakarnya hangus,

Meninggalkan debunya ditiup sang bayu.

Cinta?

Tidak.

Yang kudapati hanyalah seonggok luka,

Diam.

Tak bernyawa.

Karena kau telah menghancurkannya.

Bersama cinta itu.

Hilang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s