Jogja : Sekelumit Cerita sebagai Tanda Perpisahan

​Langkah pertama yang saya pijakkan di kota ini, membawa perasaan magis yang khas : bahwa ada kehangatan yang terselip dengan pijar sayang. Sejak itu pula, saya sadar. Jogja akan selalu menjadi ruang tersembunyi, ketika saya penat dengan pekikan dunia. 

Empat tahun lalu, menyandang gelar mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota ini membuat ekspetasi saya terpacu. Saya harus begini, saya harus mencapai target ini, saya harus menuntaskan segala aral yang terbentang, hingga enyah kalau perlu. Namun, beberapa waktu berselang, saya pun lantas sadar. Kota ini terlalu sayang untuk ditapaki dengan ketergesaan demi pemuasan ego saya semata. 

Perlahan, saya mulai belajar. Ada sesuatu yang menggelitik jiwa dan raga ketika saya menatap pagi dari balik gagahnya Merapi. Ada sesuatu yang berkobar hangat ketika surya tepat menaungi eloknya Tugu. Ada sesuatu yang berhembus sejuk membelai hati dan logika ketika saya menyaksikan senja tercipta dari ujung laut selatan.

Iya, saya menyadari bahwa Jogja tidak hanya mengajarkan sabar. Tapi juga membuat saya menikmati setiap momen yang ditawarkan oleh tiap ‘penjaganya’. Menikmati harmoni garis imajiner. Menikmati kearifan dan keramahan  rakyatnya. Menikmati pesona sudut-sudut indah yang bahkan belum sanggup saya khatamkan. 

Kota ini membawa sensasi menyenangkan. Candu yang memabukkan. Serta perasaan kepemilikan untuk menjaga apa-apa tetap pada semestinya. Tetap pada kesederhaannya. Tetap pada toleransinya. Tetap pada kewibawaannya. Serta, tetap menjadi kota yang selalu menenangkan. 

Hingga kemudian, masa tenggat saya nyaris usai. Studi telah dilalui, pengalaman juga sudah dilewati. Kali ini, saya pamit. Doakan saya tetap tegar, sebab kota ini selalu membuat saya terkapar dengan segala kekhasannya. Doakan agar saya bisa kembali, sebab kota ini sudah saya anggap sebagai rumah. Tempat saya pernah menjejak, berlari, terjatuh, untuk kemudian bangkit kembali. Tidak sekalipun Jogja pernah menertawakan saya. 

Jogja selalu tulus. Jogja selalu lembut. Jogja selalu dicintai. Setidaknya, menurut pandangan saya. 😊

Kota ini memberikan sejuta memori ; tentang harapan yang digantungkan, tentang mimpi yang selalu diperjuangkan, tentang usaha yang selalu dipertaruhkan, tentang cinta yang masih menyala, tentang sakit yang masih mencekik, tentang rindu yang masih menggebu, dan juga tentang kamu : sebuah ujung yang saya semogakan menjadi titik pemberhentian. 

Baiklah, karena sepertinya malam semakin kelam, sekali ini saya akan melakukannya dengan serius. Jogja sayang, mahasiswi mu ini pamit dulu, nggih. Doakan saya kuat. Doakan saya  bisa kemari lagi, walaupun mungkin akan memakan waktu lama. 

Sebab Jogja selalu istimewa. Kepadanya, kenangan ini saya titipkan. Sehingga ketika waktunya nanti pulang, saya tidak akan hilang. 💙

Yang akan selalu menyayangimu,

Risda Amanda, S.Pd

Advertisements

3 thoughts on “Jogja : Sekelumit Cerita sebagai Tanda Perpisahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s