Tentang Patah Hati

Kepada mereka yang harus merasakan perihnya luka, 
Kepada kalian yang harus menekan gejolak untuk tidak mengumpat,

Dan terutama kepada kamu, pejuang sakit tak terperi setelah perasaan mu dikhianati. 

Saya menceritakan ini bukan untuk menyalahkan. Bukan pula untuk sesumbar sok kuat. Apalagi untuk mencari ketenaran semata. Bukan, sebab saya bukan seleb yang kehidupan nya menarik mata. 

Saya hanyalah saya. Gadis biasa yang masih berproses menjadi perempuan dewasa. Namun kemudian di tengah perjalanan malah jatuh cinta, dan mendapat lebam tak terkira. :’)

Saya hanyalah saya. Perempuan sederhana yang hanya ingin kisah hidup (dan cintanya) juga sederhana saja. Sebab untuk saya, perasaan ini seharusnya hanya menjadi milik kami (dan atau kalian) : pasangan yang sedang dilanda asmara. Tapi nyatanya keinginan saya terpaksa pupus, karena memang, apapun tak semestinya terlalu muluk. 

Walaupun saya masih meyakini dalam hati terdalam bahwa keinginan untuk ‘sederhana’ tidaklah muluk, toh kenyataan tetap menampar saya. Keras. Hingga membuat saya sadar : tak semestinya perasaan ini dicampakkan. 

Patah hati memang menyakitkan. Terlebih jika sebenarnya masih ada yang tersisa ; menunggu untuk diungkapkan bahwa sejatinya kalian masih memiliki ‘rasa’. Namun, saya juga yakin. Sebesar apapun ‘rasa’ itu, patah hati akan tetap menyisakan jurang. Dia tak bisa diubah, hanya diakali. Bahwa kamu ingin mempersempit jurang itu dengan mengobati luka hati, atau membiarkannya dengan jarak yang tetap menganga lebar? Keputusan tetap milik kamu seutuhnya. 

Saya sendiri? Yah, walau masih harus tersaruk-saruk agar tidak impulsive dan kepo dengan kehidupan laki-laki yang mematahkan hati saya, setidaknya saya tetap berusaha. Memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Kura-kura pun pada akhirnya tetap sampai tujuan kan, meski sempat dihina kelinci? 😊

Just remember, dear. No matter how slow your steps are, forward is a forward. Progress doesn’t count by km/hour, but by how you treat yourself during your worst situation. 

Jatuh cinta dan patah hati memang sejalan. Satu untuk menguatkan, satu untuk mendewasakan. Ketika jatuh cinta kamu akan belajar menjadi kuat : tidak hanya agar pasanganmu yakin bahwa kamu bukan perempuan menye yang hanya bisa manja, tapi kamu juga bisa kuat untuk mereka yang sudah menyayangi kamu. Dan saat kamu patah hati, kamu belajar menjadi lebih dewasa : sebab hidup tak harus berkutat pada luka. Masih ada pria baik diluar sana. Untuk kamu, untuk perhatian, cinta, usaha, dan hati tulusmu. ❤

In the end, falling in love is easy. Staying in love is a challenge. Letting go is hard. And moving on is the hardest. 

Pbg, 

4221,

3102017,

22.42

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s