Teacher's Life

Ringkasan Materi Sejarah Indonesia Semester Gasal Kelas XI SMA/Sederajat

  • ​Periode kekuasaan kolonialisme dan imperialisme dapat dipahami melalui dua fase : fase keserakahan atau kezaliman kongsi dagang dan fase dominan pemerintahan kolonial Belanda.
  • VOC yang bermula sebagai kongsi dagang untuk mencari keuntungan, kemudian berkembang menjadi kekuatan monopoli dan intervensi di bidang politik dan pemerintahan terhadap kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia.
  • VOC akhirnya bubar karena masalah manajemen, hutang,  dan korupsi.
  • Pemerintahan Komisaris Jendral yang mengawali dominasi pemerintahan kolonial Belanda mengambil jalan tengah.
  • Pelaksanaan tanam paksa di bawah pimpinan Van den Bosch telah membawa penderitaan berkepanjangan bagi rakyat Indonesia.
  • Sistem usaha swasta dari Belanda telah berhasil mengeruk keuntungan dari Indonesia, sementara rakyat tetap sengsara.
  • Seiring dengan datangnya bangsa Barat juga telah membawa pengaruh pada perkembangan agama Kristen di Indonesia.
  • Perang yang terjadi pada abad ke-18, 19, dan awal abad 20 merupakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.
  • Pemerintah kolonial Belanda tetap menjalankan taktik perang yang licik dan kejam. Tipu daya pura-pura mengajak damai, mengadu domba, dan menangkap anggota keluarga pimpinan perang Indonesia terus dilakukan.
  • Perang melawan penjajahan pemerintah kolonial Hindia-Belanda memang belum berhasil, tetapi semangat juang rakyat dan para pemimpin perang kita tidak pernah padam. Kedaulatan dan kemerdekaan rakyat Indonesia harus terus diperjuangkan agar bebas dari penjajahan. Penjajahan pada hakikatnya selalu kejam, menangnya sendiri, serakah, tidak memperhatikan penderitaan orang lain, penjajahan senantiasa bertentangan dengan harkat dan hak asasi manusia.
  • Banyak nilai keteladanan yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya semangat cinta tanah air, rela berkorban, kebersamaan, kerja keras, pantang menyerah, sehingga dapat memotivasi kita untuk belajar dan bekerja lebih keras lagi.
  • Kebijakan penjajahan Belanda cenderung diskriminatif, sehingga terjadi perbedaan kelas dalam masyarakat. Adapun kelas sosial tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu : orang Eropa / kulit putih, orang-orang Timur Asing, dan orang Indonesia.
  • Dalam mengendalikan rakyat dan mendapatkan keuntungan, penguasa Belanda memanfaatkan kultur feudal yang telah ada sebelumnya.
  • Pada masa Raffles, ilmu pengetahuan, sejarah, budaya, terutama yang berada di Jawa mendapat perhatian khusus.
  • Setelah diterapkan Politik Etis, pendidikan di tanah Hindia-Belanda berkembang, termasuk didalamnya kesempatan rakyat pribumi untuk bersekolah.
  • Berkembangnya pendidikan kemudian melahirkan golongan terpelajar yang mendorong gerakan nasionalisme di Indonesia yang puncaknya melahirkan Sumpah Pemuda.
  • Berbagai kebijakan kolonial yang melahirkan kemiskinan dan penderitaan rakyat telah mendapat kritik keras dari politikus dan intelektual Belanda, C.H. van Deventer. Kritik itu mendapat perhatian dari pemerintah Belanda. Kemudian dibuatlah kebijakan meningkatkan kesejahteraan rakyat yang dikenal dengan Politik Etis. Isi dari program tersebut meliputi bidang Irigasi (pengairan), Transmigrasi (perpindahan penduduk), dan Edukasi (pendidikan).
  • Bidang pendidikan membuka wawasan bagi kaum muda terpelajar. Mereka adalah golongan baru yang membawa ide-ide pada kesadaran kebangsaan. Sarana komunikasi dan tranpotasi adalah hal penting yang menghubungkan para kaum terpelajar untuk membentuk suatu ideology kebangsaan.
  • Berkembangnya pers atau media cetak telah menggerakkan ide-ide kemajuan, sehingga lebih memacu berkembangnya ideology dan pergerakan kebangsaan.
  • Fase kebangkitan nasional dimulai dari berbagai organisasi pergerakan yang mengusung ideology kemajuan dan kebangsaan bahkan juga politik untuk pembebasan rakyat dari penjajahan.
  • Berbagai organisasi yang berkembang di era kebangkitan nasional baik yang bercorak keagamaan atau sekuler, bercorak kedaerahan atau nasional, yang kooperatif maupun non-kooperatif, yang pemuda maupun wanita, tampaknya belum mampu menciptakan persatuan yang kokoh untuk sama-sama melawan penjajah. Mereka masih memikirkan bagaimana organisasinya berkembang. Hal ini menjadi pemikiran serius dari berbagai kalangan pemuda untuk mewujudkan gerakan persatuan dan kesatuan di antara berbagai organisasi.
  • Memasuki tahun 1926 gagasan tentang persatuan antar organisasi dan komponen bangsa semakin menguat.
  • Soekarno berusaha menyatukan berbagai organisasi dan partai yang ada. Tahun 1927 telah membentuk “Pemufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia” atau PPPKI. Bahkan beberapa tahun sebelumnya Soekarno sudah membentuk “Konsentrasi Radikal” pada 1922.
  • Berbagai organisasi pemuda berusaha mewujudkan cita-cita persatuan. Tahun 1926 diadakan Kongres Pemuda I. Dalam kongres ini semakin kuatnya untuk mewujudkan persatuan antara semua unsur dan disepakati untuk membentuk organisasi pemuda yang baru sebagai hasil fusi antar organisasi pemuda yang ada. Disepakati perlunya bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.
  • Sumpah Pemuda sebagai puncak agenda Kongres Pemuda II dengan ikrarnya : satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa merupakan peristiwa penting yang historis dan monumental dalam dinamika perjuangan bangsa menuju cita-cita persatuan Indonesia.
  • Sumpah Pemuda memiliki nilai-nilai yang sangat bermakna dalam menuju cita-cita Indonesia merdeka. Nilai-nilai persatuan, jati diri / semangat kebangsaan dan demokrasi merupakan nilai-nilai yang sangat penting artinya bagi perjuangan rakyat Indonesia pada masa-masa berikutnya, yang secara nyata menunjukkan identitas ke-Indonesia-an.
  • Dalam perkembangannya muncul organisasi-organisasi baru yang bersikap kooperatif dalam rangka mengembangkan demokrasi dengan prinsip musyawarah. Oleh karena itu, berbagai bentuk strategi organisasi-organisasi pergerakan nasional dalam menghadapi kekuasaan kolonial dilakukan dengan kooperasi dan non-kooperasi.
  • Parindra merupakan organisasi yang berbentuk nasional dan mempunyai strategi perjuangan dengan aksi politik Volksraad sebagai media perjuangan.
  • Di tengah-tengah pergesekan kekuatan kebangsaan dan kekuatan kolonialisme sedang berlangsung Perang Dunia II. Kecamuk suasana Perang Dunia II dan mendatangkan Jepang sebagai pengaruh baru sekaligus mempercepat tamatnya kemaharajaan Belanda di Indonesia.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s