​Review Film Justice League : Another ‘Good Experiment’ from DCEU

Konbanwa, minna! Back to my movie’s review again. Now, I’d like to share my thought about the fresh new released movie from DC Extended Universe, Justice League. First of all, I can’t make sure that you all my dearest reader would be happy with my review. This is gonna be my first time to review other superhero movie besides of MCU or Marvel Cinematics Universe. 😳

Well, does it even matter, Ris? 

Of course, yes.

 

Honestly, gue bener-bener ga punya pengalaman tentang tokoh-tokoh dari DC. I didn’t even try to browse them. Gak kaya pas pertama kalinya gue nonton film Marvel (it was Avengers 1, fyi) gue langsung yang namanya ngubek-ubek mbah Google and even asked few of my classmates. And yeah, Marvel was totally great.

Nah… ketika masuk semester pertengahan dan mulai dikit-dikit tau tentang DC, gue coba tuh nonton film-film mereka. Frankly, only a little from DC’s movies that amazed me. Guess what? Yups. The Batman Trilogy from Christopher Nolan. The rest? I didn’t even care to keep them on my hard disk. 

Luckily for DC, mereka ga harus susah payah mengembangkan tiap karakter superheronya. Beda sama Marvel yang harus pontang-panting bikin kontrak buat ‘minjem’ beberapa tokoh yang dimana lisensinya keburu dijual ke studio lain. (Gausah disebutin ya. udah jadi rahasia umum juga sih hahaha) 

Dari sanalah, DC kemudian berkembang ke arah yang lebih baik and trying to move forward with a new line : DC Extended Universe and even collaborate with Ratpac Entertainment. Terhitung dari rilisnya Wonder Woman di bulan Mei lalu, DCEU perlahan bangkit. Gomen ne, gue waktu itu udah janjiin mau bikin review si pendekar Amazon cantik ini tapi apadaya keburu hectic sama revisian skripsweet, batal ngereview deh. :’’) 

Sedikit info, WW terbilang sukses memberikan angin segar untuk naiknya popularitas superhero DC, baik dari segi kritikus maupun pendapatan. Apparently, Patty Jenkins’ succeed makes Zack Snyder kinda rushed-up to make this Justice League movie. Was it success? Well, here we go~~~

Gue bakal kasih review SEJUJUR dan SEOBJEKTIF mungkin. Namun, karena gue bener-bener newbie di review-an tentang film-filmnya DCEU ini, bakal ada 2 review. Pertama, review yang SPOILER FREE. Tapiiii review tersebut mungkin akan sedikit beda dari gaya review gue yang biasanya. Why? Because I’m not an expert in such a short-time review. FYI, gue bikin review yang spoiler free itu buat grup line komunitas gue. Let’s check these pictures: 



Yups, itulah tadi review versi pertama. Sekarang, kita lanjut (semoga kalian ga bosen ya 😅) ke review asli versi gue biasanya. Check this out, guys! 
SPOILER ALERT! 
Dari awal meniatkan diri untuk nonton JL ini *sebenernya sih karena udah keburu janji wkwkwk* gue bener-bener ga naruh ekspetasi apapun. Pas nonton WW pun demikian. Kenapa? Ya karena yang udah gue jelasin di awal tadi : I’m still a noob yet I’ve been pampered by MCU. Jadi ya, menurut gue udah keputusan yang baik kita ga naruh harapan apapun kaya ke pacar yang ga peka sama kode tiap nonton DCEU kalo udah terbiasa sama kegemilangannya film-film dari MCU.

Menit-menit awal film berjalan gue masih rada blank. Plot yang disajikan Snyder selain banyak celah, juga cenderung ga teratur alis lompat-lompat. Untungnya, dia berhasil membuat penonton at least know who Batman, Wonder Woman, Aquaman, Cyborg, and The Flash was before. Yaaaa walaupun gue masih rada ga puas dengan porsi pengenalan tiap karakternya, gue pikir okelah. Gue lantas mulai enjoy menikmati menit-menit selanjutnya. 

Sayang beribu sayang, Snyder kembali tidak konsisten pemirsa! Jeng jeng jengggg tau-tau mereka berlima sepakat untuk melakukan rencana Batman menghidupkan kembali Superman. And voila! Setelah di setrum The Flash, pacarnya Lois Lane ini hidup kembali. It was totally shocking moment. Literally.

Eits, drama kemunculan Superman ini belum seberapa. Kita masih harus disuguhkan that lovey-dovey thing between Superman and Lois Lane. After that, peran para member JL lain malah bubar jalan. 

Yah, pokoknya sih kalo dari plot, JL ini kaya kebanyakan jalan di kota kecil Indonesia : penuh lubang-lubang kecil yang mematikan. Yup, those plot hole absolutely ruined the whole movie’s pace. 

Interaksi antar tokoh kurang berkembang dan nyaris sulit menemukan chemistry diantara mereka. But, thumbs up for my show stealer : Jason Momoa and Amber Heard. Jujur aja nih, JL bakalan payah banget kalo mereka berdua ga muncul. Even for Amber Heard yang kemunculannya cuman sekian menit aja, but it was much better than the others. 

Visual effect and CGI… wasn’t impressed me. Masih banyak yang kurang smooth dan terkesan maksa. Plus, gue sebel banget sama banyaknya ledakan dan jilatan api yang menurut gue, useless. Dan satu lagi, gue gak tau sih, di komik juga begini atau kaga, tapi gue annoyed abis sama efek The Flash yang malah jadi kaya ‘pembawa petir’ saking bold-nya efek disitu. Sepemahaman gue, The Flash kalo di MCU kan kaya si Quicksilver. Nah, walaupun dikasih efek, Quicksilver ini tetep ciamik dan ga seheboh efek kilatan petirnya The Flash. Perhaps, it might be my own perception so please don’t judge me. >_<

Frankly, for the back song and soundtrack, was pretty good. Yet, WW’s back song and soundtrack still better than this. 

Despite of the plot holes, sebenernya konflik yang mau disampaikan di JL ini bagus. Tapiii… lagi-lagi… sayangnya… eksekusi Snyder gak berjalan dengan baik. Tau-tau duarrr! Muncullah tiga kotak ibu dan sang villain : Steppenwolf. Penonton bahkan gak dikasih tau tentang siapa sih villain di JL ini. Tau-tau cuman : Nih ya, gue kasih lu monster alien buat dikalahin. Doi dulu kalah berkat persatuan diantara kaum Amazon, Atlantis, dan Manusia.

Gue pas scene konflik ini malah jadi gagal fokus : LAH KOK ITU ADA GREEN LANTERN MUNCUL SIH????

*kemudian bayangan Ryan Reynolds as Deadpool comes in my mind*

 
Heuheuu… gue bener-bener ga abis pikir ini bisa-bisanya bikin konflik semendadak ini. Bahkan gebetan yang tau-tau ngilang aja ga semengagetkan ini loh. #oke abaikan. 

The worst part of whole JL’s package : the movie wasn’t ended clearly. Iya, kita penonton merasa b aja pake banget ketika si Steppenwolf kemudian berhasil dikalahkan karena Superman meniupkan angin es dan kapaknya doi dipatahin Wonder Woman. 

Fin.

The End. 


Errr… okay, to be honest, JL’s quite satisfying. At least, if you wanna spent your night to go to cinema, watching JL is not a bad idea. But, please. DO NOT EXPECT ANYTHING for this one. Nevertheless, I was so speechless after the screen completely blank. Not because the goods here, but yeah, the not-that-good-enough one. Particularly, after amazed by Patty Jenkins on WW last May. 

Final score? 7/10. 


Okay fellas, I think I’ve already talked a lot. Kindly share your opinion too in the comment section or if you agreed with me, please don’t forget to like and share this review to your friends. See you next time! 🙂 

PS : there would be 2 credit scenes : on mid and end. So you may be stay calm in your seat until the screen completely black. *suara ala narator kereta* 😂

PPS : mungkin udah saatnya DCEU mencoba gambling dengan hunting sutradara lain since… you know? If you wanna get a great result, you should be brave to take any chances. Including find a new, fresh, and has ‘young spirit and energy’ director. Ga ada salahnya mengadopsi trik ini loh padahal. MCU buktinya. WW juga bagus tuh pas mereka berani ngontrak Patty Jenkins. Although she’s also a ‘senior’ too in Hollywood. 

Advertisements

One thought on “​Review Film Justice League : Another ‘Good Experiment’ from DCEU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s