Nano-nano

Jatuh cinta tidak pernah mudah

Iya, mungkin kau bosan mendengarnya.

Namun, sayang, itu bukanlah bualan

Sebab saya memang sudah kebas dengan segala jengah

Ketika kemudian saya memutuskan membuka kisah baru

Berusaha menyemai apa yang diusahakan bersatu.

Lantas sekejap saja kenangan tentang dia menyerbu

Saya kelimpungan.

Ah, betapa takdir terkadang bisa sangat menjengkelkan

Tentu saya sudah mengakhiri dan ikhlas

Tentu saya dan dia sudah handal menghalau segala kemungkinan

Karena memang, kisah kami sudah cukup sekian.

Saya mungkin bimbang,

Sementara kau tak juga pandai memberi kemajuan

Saya tetap tak akan begitu saja balik kanan.

Sudahlah, kata saya.

Perasaan ini memang terkadang menimbulkan riak kecut dan legit

Saya hanya tinggal berusaha mencecapnya

Pelan-pelan, sembari memunguti serpihan yang masih berserakkan

Persis seperti peragaan model iklan kembang gula di televisi itu.

Kau dan saya pantas bahagia,

Walau gejolak itu masih bersemayam dan sulit dipadamkan

Pun karena saya tak ingin kembali remuk redam.

Advertisements

2 thoughts on “Nano-nano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s