Buah Pena

H+36

Waktu tidak akan beristirahat, Dia akan terus berputar,  Tak peduli apa yang sedang kamu rasakan. Dan setelah berjuang mati-matian, Secuil bahkan tak dia hiraukan, Tentang bagaimana kamu terseok-seok hingga perih terasa, Tentang bagaimana kenangan kamu dan lelaki yang (pernah) menempati setiap sudut hatimu terus merongrong, Tentang bagaimana kamu (masih) berusaha merelakan seseorang tersebut, Juga… Tentang… Continue reading H+36

Buah Pena

Hilang

Langkah tersaruk mengikuti angin, Di jalan selibat yang sepi, Gemerisik nyanyian malam membangkitkan luka, Berusaha keras untuk maju, Namun pedih mengiris nurani.  Tidak,  Jangan lepaskan! Tolonglah, Aku tersesat! Dalam remang sinar purnama, Aku terus mencari ; Apa yang setelahnya kusebut cinta. Hilang. Tak kunjung ketemukan. Lenyap. Sebab kau telah membakarnya hangus, Meninggalkan debunya ditiup sang… Continue reading Hilang

Buah Pena

Takdir itu Lucu

Ada banyak kejutan yang disiapkan Tuhan selama kita hidup Terkadang kejutan tersebut membahagiakan,  Namun tak jarang pula membuat kita ‘berdarah-darah’ agar bisa melewati itu.  Semua kejutan itu bermuara pada satu titik : takdir.  Hidup tidak sesederhana tidur-bangun-beraktivitas-tidur lagi dan seperti itu Kejutan Tuhan bernama takdir membuatnya lebih ‘berwarna’ Kadang putih polos seperti bayi, Dan terkadang… Continue reading Takdir itu Lucu

Buah Pena

Pekat*

​tanya rembulan, mengapa ia hanya hadir saat kelam jawabnya ; sebab aku dibuat untuk menghadirkan senyap, menguarkan pekat, kemudian bergemuruh agar lepas. sulit merelakan, tapi itu harus. seakan terang tak bisa hadir, maka akulah yang mengganti ; rembulan kelam dengan sejuta pesona kerinduan. *Puisi ini adalah postingan pertama gue di 2017. Jadi maaf ya kalo… Continue reading Pekat*

Buah Pena

Kapur di Ujung Papan*

Mentari masih terlampau malu menyapa bumi pagi itu Seorang bocah tersaruk berjalan di beceknya pedestrian desa Ah, tapi mendung pagi itu tidak sedikitpun mengusik semangatnya Ya… tersaruk demkian pun tujuannya jelas satu ; Membuka wawasan menambah jendela keilmuan Bocah itu melenggang mantap menuju bangunan kuno nan kumuh di pinggiran desa Bangunan kecil yang luasnya pun… Continue reading Kapur di Ujung Papan*

Buah Pena

Doa untuk Pekat 

​Ada yang mengintip dari sudut gelap,  Kusebut dia pekat, sebuah rindu tak terjawab.  Lalu hadirmu datang, menguak apa yang terlampau usang.  Kemudian aku tersadar;  pekat itu telah hilang.  Rindu itu berganti sayang. Lantas kamu menjelma pangeran, yang perlu diperjuangkan.  Sebab aku terjaga; kamu membuat ku penting, membuatku berharga, membuatku terpana.  Semoga, itu bisa selama.  19.9.16